Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 157


"JEPANG! Kim berteriak nyaring saat mendengar ungkap hati yang membuat Arthur uring-uringan.


Ungkapan yang akan akan membuat mereka berpisah selama satu Minggu.


"Berapa lama." Tanya Kim, yang menajamkan maniknya ke arah suaminya yang sedang berdiri di pojok kamar dengan kepala menunduk.


"S-satu Minggu," cicit Arthur, yang suaranya hampir tidak dapat terdengar.


"APA! Lagi-lagi Kim berteriak. Membuat suaminya itu gelisah.


Arthur seperti seorang anak yang sedang ketahuan pacaran yang tidak berani menatap wajah marah sang istri.


"Kemarilah," pinta Kim dan ia merentangkan kedua tangannya.


Dengan langkah pelan dan hati-hati, Arthur mendekati sang istri yang sedang marah itu.


"Aku, janji setelah semua urusan ku seleksi, aku pasti akan cepat kembali." Ujar Arthur yang kini berada di depan Kim.


"Peluk aku," suruh Kim pada suami manis dan polosnya itu.


"Kau, tidak marahkan padaku, okusan.?" Arthur ingin memastikan dulu mood istrinya.


"Aku, tidak akan bisa marah padamu, sayangku." Jawab Kim dan dia meraih pinggang suami dan memeluk erat pinggang kokoh Arthur.


Kim mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat wajah tampan suaminya itu.


Arthur mengecup sekilas hidung mancung Kim dan juga kepala sang istri.


"Kau harus cepat, kembali.!" Ujar Kim yang mendongak keatas.


"Hm! Itu pasti. Karena aku juga tidak ingin pergi jauh darimu, okusan. Apalagi selama satu Minggu. Satu jam saja aku langsung merindukanmu," sahut Arthur dan lagi-lagi menghadiahi sang istri kecupan hangat di kening.


"Ingat. Jangan nakal dan jangan melirik wanita-wanita lain. Kalau sampai kau melakukannya, aku tidak akan tinggal diam. Aku pastikan benda ajaib mu sekarat." Sarkas Kim.


Arthur meneguk ludahnya kasar sambil mengangguk patuh oleh titah sang pemilik hatinya itu.


"itu tidak akan terjadi, okusan."


"bukankah, benda berharga dan ajaibku ini hanya bisa berdiri tegak dan kokoh bila bersama mu, okusan.?!"


"Jadi, jangan berpikir macam-macam, oke."


"karena, wajahmu ini menjadi incaran para pelakor." cetus Kim menatap suaminya sengit.


"Oh, okusan ku. kau begitu menggemaskan." Arthur menarik sang istri dan membawanya kedalam pelukan hangat Arthur.


sambil mengecupi pundak terbuka Kim yang begitu menggodanya itu.


"Kau akan berangkat sekarang, sayang." Kim bertanya sambil menarik sang suami menuju sofa malas yang ada di balkon kamar mereka.


"mungkin malam." sahut Arthur dan ia melirik jam tangan mahal plus mewahnya yang bertengger indah di pergelangan tangan kirinya.


"begitukah! jawab Kim dengan nada sedih.


"lihatlah. kau belum pergi aku sudah merindukanmu, sayang." ujar Kim sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arthur.


"Aku, juga sangat merindukanmu, okusan." sahut Arthur. ia merekatkan pelukannya erat di tubuh sang istri.


Arthur juga memberikan kecupan bertubi-tubi di kening Kim.


Kim hanya mampu memejamkan matanya menikmati kecupan hangat sang suami. ia kini menenggelamkan wajahnya di dada keras Arthur sambil menghirup rakus aroma maskulin suaminya.


Kim mengurai pelukan sang suami.


tangan kanannya yang sejak tadi berada di pundak suaminya kini berpindah di ceruk leher Arthur.


Kim menangkup kedua rahang tegas Arthur dan memindai seluruh sisi wajah tampan suaminya itu.


Arthur hanya terdiam membisu, menikmati sentuhan jari-jari halus sang istri di wajahnya.


pria itu memejamkan matanya saat Kim mengecup bahkan menyesapp lembut tipis suaminya yang begitu manis.


Arthur pun tak tinggal diam ia lantas menekan tengkuk Kim dan memperdalam cumbuan bibir mereka.


mereka pun saling memadu kasih di bawah sinar jingga di sore hari yang begitu indah.


yang menambah kesan romantis mereka di sore itu.


apalagi suara burung-burung yang berbunyi saling bersautan yang menjadi melodi untuk keromantisan pasangan yang di juluki tidak tau tempat.