
Arthur menatap wajah bak boneka, yang ada bawah kungkungannya dengan tatapan kagum. Pria itu mengatur nafasnya, setelah mendaki gunung kembar sang istri, sambil meraba lembah gua ajaib sang istri. Dia tidak akan mau, aktivitas mendaki gunungnya tanpa melewati lembah, seperti lagu ninja hontori.
Tubuh mereka kini sudah berkeringat, akibat pemanasan ranjang yang mereka lakukan. Arthur mengecup kening istrinya yang sudah dikuasai oleh hasraat. Itu terlihat dari manik mata Kim yang terlihat sayu dan wajahnya sudah merona, akibat tersengat aliran hasraat di pagi hari.
Kim membelai wajah tampan suaminya yang mulus tanpa, tunas jambang yang menghiasi wajah rupawan sang suami. Kim menarik ceruk leher, suaminya dan kembali menyatukan bibir mereka.
Cumbuan Arthur kini turun kembali keleher, jenjang sang istri, menyesap leher jenjang itu hingga meninggal tanda merah di mana-mana.
Cumbuan Arthur makin menjadi dan semakin turun hingga kini wajahnya sudah berada di atas perut datar istrinya. Kim hanya bisa menahan desaahannya dengan mengigit pelan bibir bawahnya dan tangannya meremas rambut sang suami.
"Hg."
Lenguhaan itu lolos dari mulut Kim, ketika suaminya kini berada di gua ajaib miliknya yang begitu menggoda imam dan mampu menambah imun.
Arthur kini sedang menjelajahi gua ajaib itu dengan Indra pengecapnya yang membuat mahkluk indah di atas kepalanya menjerit nikmaat. Arthur makin menjelajahi gua itu semakin, dalam dan ia juga memakai bantuan salah satu jarinya, untuk menambah sensasi olahraga raga panas mereka di pagi hari ini.
Arthur begitu menikmati kegiatan menjelajahi lembah bergua ajaib itu dengan semangat dan penuh gairaah.
Kim hanya bisa mengeliyat seperti cacing kepanasan. Dan tanpa sadar menendang wajah tampan suaminya, hingga terjungkal kebelakang.
"Akh." Pekik Arthur, saat bokongnya mencium lantai marmer di dalam kamarnya dengan lumayan kencang.
Kim seketika tersadar dan bangun dari baringnya,. Ketika mendengar pekikan sang suami.
"Kau, kenapa." Tanya Kim dengan mimik tanpa dosa.
"Kau menendang ku." Degus Arthur kesal. Hilang sudah hasraat yang menggebu tadi, yang kini berganti kesakitan.
"Maaf, aku tidak sengaja." Lirih Kim.
Wanita itu meraih telapak tangan suaminya dan menariknya kesisi kirinya.
" Mana yang sakit." Tanya Kim, sambil memindai seluruh tubuh polos suaminya.
"Ini." Sahut Arthur sambil menyentuh bokongnya.
Kim membalikkan tubuh suaminya dan mengusap-usap bokong suaminya yang sedikit membiru.
"Maaf, aku tidak sengaja. Mungkin aku terlalu terbawa suasana."
"Tidak apa-apa." Sahut Arthur yang sekuat tenaga menahan eraang yang akan keluar dari mulut. Ketika tangan lembut dan halus sang istri, berhasil memancing hasraatnya kembali.
"Sudah." Sela Arthur dan menjauhkan tangan Kim dari bokong montok miliknya.
"Kau serius.?"
"Hm."
"Baiklah."
"Sekarang mari kita lanjutkan."
"Lanjutkan apa.?"
"Kegiatan olahraga raga kita diranjang.!"
"Olahraga diranjang.?"
"Iya."
"Cepatlah,!"
"Kau yang diatas atau aku.?"
"Hei, cepat.!"
"Apa.?"
"Melakukan olahraga pagi."
"Sebentar aku pakai baju dulu."
"Buat apa.?"
"Bukankah kau mengajakku, berolahraga.?"
"Iya? Terus.?"
"Apa kau ingin berolahraga dengan penampilan seperti ini.?" Arthur menunjuk penampilan polos Kim.
"Iya. Kita memang harus polos.!"
"Apa maksud mu? Olahraga dengan keadaan polos.?"
"Olahraga di atas ranjang, sayang.!"
"Di ranjang.?"
"Iya."
"Bagaimana, caranya kita melakukan olahraga di ranjang.?"
"Astaga." Keluh Kim sambil kembali tepuk jidat.
Tanpa basa-basi, Kim langsung menarik tubuh kekar suaminya hingga telantang diatas ranjang.
Kim tak menghiraukan pekikan suaminya, wanita itu segera saja melahap benda ajaib suaminya dan bermain-main di area terlarang sang suami.
"Akhh." Ringis Arthur.
"Ada apa." Sahut Kim menyudahi aktivitasnya.
"Sakit." Cicit Arthur.
"Apanya yang sakit.?" Tanya Kim kembali keatas wajah suaminya.
"Ini." Arthur menunjuk benda ajaibnya yang kini sudah menjulang tinggi.
"Kenapa.?"
"Terkena gigi, jadinya sakit." Lirih Arthur.
"Astaga."
Kim kembali tak menghiraukan suaminya yang masih meringis. Wanita itu tanpa aba-aba, langsung melakukan penyatuan dengan dia yang memegang kendali pagi.
"Hah." Desaah mereka bersamaan saat benda ajaib dan sang gua ajaib saling menyatu.
"Kau tau inilah yang dinamakan olahraga pagi, sayang." Bisik Kim, sambil bergerak liar diatas suaminya.
"Hg." Eraang Arthur ditengah antara dua gunung kembar istrinya.
Kim terus saja bergerak liar diatas dengan sangat lincahnya dan lihainya. Membuat pria yang ada dibawahnya hanya bisa meraung nikmaat.
Sesekali pria itu menyesaap bergantian benda yang bergantung di depannya. Memainkan pucuk gunung kembar yang kini sudah mekar merekah.
Penyatuan merekapun menjadi semakin panas dan makin menggila. Suara desaah mereka bersautan dengan suara penyatuan tubuh mereka di bawah.
Arthur menghentakkan tubuhnya dari bawah mengikuti gerakan liar sang istri yang kini terlihat menggoda dengan cucuran keringat yang membasahi tubuh mereka berdua.
Meraka berpacu dengan liar diatas ranjang yang kini sudah berubah nama menjadi ranjang bergoyang di pagi hari. Meraka saling bercumbu tanpa menghentikan gerakan pacuan mereka di bawah sana.
Arthur membalikkan tubuhnya, sehingga kini Kim berada di bawah kendalinya. Arthur kembali menghentaak dengan sangat kencang saat dirinya merasakan denyutan disekitar area terlarang sang istri, benda ajaibnya terasa terhimpit, saat denyutan itu semakin menjadi.
tanpa menghentikan hentaakannya, Arthur kembali mencumbuui seluruh tubuh sang istri.
"hg, aku mau sampai." bisik Kim
"bersama." sahut Arthur yang sambil mengigit pundak istrinya pelan.
detik berikutnya segala sesuatu yang mendesak itupun keluar, membuat perasaan mereka begitu puas.
Arthur menjatuhkan tubuh tingginya diatas tubuh Kim. dia memberikan kecupan di kening dan juga bibir istrinya saat menjatuan mereka selesai.
Kim mengusap rambut suaminya yang kini berada di atas dadanya dengan deru nafas yang masih ngos-ngosan. Kim menciumi kepala suaminya itu.
"kau, tidak ke kantor, sayang.?" Kim bertanya kepada pria yang sedang berada di atas tubuhnya itu.
"Jam berapa sekarang." tanya balik Arthur.
Kim melirik jam yang berada di atas nakes, yang kini angka jarum jam sudah berada di angka 8.
"jam 8." jawab Kim.
"what." sentak Arthur yang langsung bangkit dari atas tubuh Kim dan segera saja berlari kedalam kamar mandi.
"hei, ada apa.?" tanya Kim , yang melihat kepanikan di wajah suaminya.
"hari ini aku ada pertemuan penting dengan investor dari Dubai." sahut Arthur yang kini sudah berada di dalam kamar mandi.
"Dubai.?" Kim membeo.
"mudah-mudahan bukan pria sialan itu." gumam Kim.
wanita itupun bangkit dan memakai kaos suaminya. dan iapun berjalan kearah ruangan ganti, untuk menyiapkan keperluan sang suami.
Kim memilihkan suaminya stelan jas berwarna hitam beserta aksesorisnya.
Kim meletakkan pakaian suaminya diatas ranjang. dia menunggu sang suami yang masih berada di dalam kamar mandi.
"clek."
Arthur keluar dari kamar mandi, dengan raut wajah segar. ia hanya menutupi tubuh kekarnya dengan sehelai handuk yang hanya berada di bawah perut.
Kim tak bisa memalingkan wajahnya dari mahakarya yang tercetak sempurna didepannya ini.
"aku sudah menyiapkan pakaian mu, sayang." Ujar Kim.
"terimakasih." balas Arthur sambil tersenyum senang.
"biar aku membantumu." tawar Kim, membantu suaminya itu mengancingkan kemeja suaminya.
"investor dari mana.?"
"Dari Dubai.!"
"namanya.?"
"Keanu Adrian Adam."
"APA."