
Ketegangan masih terlihat di kamar rawat VVIP itu. Dua pasang mata kini saling beradu, bukan saling mengagumi, melainkan saling menatap tajam. tersirat masing-masing di netra mereka amarah yang sudah siap untuk meledak dan menyemburkan asap yang bisa membuat kamar rawat itu ikutan panas.
Sedangkan sepasang mata coklat terang dari wanita, yang sejak tadi menyaksikan perdebatan itu dengan hati bersorak gembira. dengan seringai licik yang muncul dari mulutnya dan mata berbinar saat, sang pria itu turun dari ranjang dan mendekati wanita yang masih setia bergeming disana dengan wajah datar menyebalkan.
Sementara di balik pintu wanita dengan kacamata, bulat yang bertengger di hidungnya itu, kini sedang menyiapkan sikap waspada.
*
*
*
Malvin mencabut paksa selang infus di tangan kirinya. pria itu, turun dari ranjang pasien dengan terburu-buru dan dengan tertatih mendekati Kim, yang masih berdiri di tempatnya semula. Kim diam dengan wajah datar dinginnya.
Kim memasukkan tangannya di kedua saku celananya, dia ingin menyembunyikan genggaman tanganya, di balik saku celananya itu.
"Mari, bercerai." usul Kim, singkat, padat dan jelas.
"TIDAK. AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCERAIKAN MU, KIMBERLY.!!! teriak Malvin di depan wajah Kim. yang kini Kim dan Malvin sudah saling menatap tanpa jarak sedikitpun, sehingga hawa panas dari Indra perasaan dari keduanya menyapa wajah mereka.
"Jangan teriak padaku." perintah Kim, dingin.
"Apa, benar selama ini kau hanya memanfaatkan ku, Kim.?" tanya Malvin lirih.
"KATAKAN KIMBERLY LIGH.!" hardik Malvin dan di depan wajah Kim.
"Hehehe." jadi benar kau hanya menginginkan kepepoleranku saja. dan selama ini kau tidak pernah mencintaiku dan hanya menjadikan ku batu loncatan karirmu yang sialan itu. aku menyesal karena mencintaimu Kimberley ligh. menyesal. dan aku sangat kecewa padamu. ternyata kau tidak ada bedanya dengan wanita jaalang di luar sana." Sarkas Malvin dan perkataan Malvin membuat hati Kim berdenyut nyeri dan rasa sesak itu kembali menyerangnya. sebisa mungkin Kim menahan air matanya agar tidak keluar, membuat harga dirinya makin di injak-injak.
Lotte tersenyum puasa di sudut kamar dengan wajah penuh kemenangan dan ceria saat hinaan demi hinaan di jabarkan Malvin.
Jenny hanya bisa mengertakkan giginya dan mengepalkan tangannya di balik punggungnya.
"Jadi, jangan bermimpi aku akan menceraikan mu. karena aku harus membuat perhitungan denganmu, Kim sayang. dan aku yakin kau akan bersujud padaku memohon demi kembali padaku. karena tidak akan ada agensi-agensi yang akan aku biarkan menerima mu kembali. dan aku akan membuatmu menjadi pemuas nafsu ku semata." dengan wajah penuh kecewa Malvin terus saja menghina dan merendahkan Kimberly.
Kim berusaha menahan isakannya dan juga rasa ingin menghajar Malvin. Kim juga ingin sekali mencongkel mata dan menyayat bibir Lotte, wanita itu sejak tadi menertawakan Kim.
"Jadi, aku akan tetap mengikatmu sampai aku bosan. dan kau tidak bisa berbuat apa-apa, karena hidupmu ada di tangan ku Kim. kau sudah tidak mempunyai apa-apa lagi."
"Jadi mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku, sebagai istri jaaalangku." senyum sinis Malvin terlihat di mulut pria itu.
Perkataan Malvin kali ini, membuat jenny tidak bisa tinggal diam. Jenny dengan penuh rasa amarah mendekati Malvin dan Kim, setelah kekehan sinis Malvin berhenti, jenny mendaratkan gepalan tangannya kewajah malvin dengan keras. tidak itu saja jenny juga meninju mulut hina malvin. sehingga mulut Malvin pecah dan wajahnya langsung membiru.
"akhh."
"Dasar pria sampah brengsek."