Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 96


"Ck! Decak Jenny, menatap pengantin baru di depannya dengan sinis.


"Karena kalian, para penghuni perutku mendadak mati suri." Cebik jenny kesal.


Kimberly dan Arthur, tidak menimpali sindiran Jenny, gadis berkacamata bulat tapi memiliki wajah begitu manis.


Kim hanya mengedikkan bahunya tidak acuh. Sedangkan Arthur, sejak tadi memamerkan senyum indahnya. Dengan wajah penuh binar kebahagiaan dan kelegaan tentunya, karena energi yang di berikan oleh sang istri membuat imun-nya bertambah.


Mommy Gabriela, memindai dengan lekat wajah dan senyum ceria sang putra. Mommy menelisik keseluruhan tubuh putranya, netra coklatnya, menangkap sebuah tanda merah di leher panjang putra semata wayangnya itu. Mommy menajamkan matanya, sehingga mata sipitnya menjadi lebih sipit.


"Wow, ternyata menantuku sangat hebat." Gumam mommy bersorak.


"Son. Ini susu mu." Sela mommy dan menyerahkan segelas susu coklat kepada putranya.


"No, mom. Aku sudah minum susu." Tolak Arthur.


"Sudah.?" Tanya mommy menyengit.


"Hu'um! Sahut Arthur, tanpa melihat sang mommy. Ia hanya sibuk melihat benda persegi yang ada di tangannya.


"Susu apa.? Tanya mommy penasaran. Begitu juga dengan Jenny yang sejak tadi menyimak obrolan mommy dan anak itu. Sementara Kim, masa bodoh dengan obrolan mertua dan suaminya, dia hanya sibuk memakan sarapannya.


"Susu spesial dari istriku. Bukankah mommy yang mengatakan kalau istriku memiliki susu spesial.?" Pungkas Arthur, yang kini menerima suapan sarapan dari Kim.


"Benarkah." Sahut mommy dengan wajah gembira. Wanita parubaya itu bahkan mendekati putranya.


"Hu'um." Gumam Arthur dengan mulut yang berisi makanan.


"Apa kau menyukainya.?" Tanya wanita yang kini jiwa keponya meronta-ronta.


"Sangat." Jawab Arthur singkat.


"Bagaimana kemasan dan bentuknya.?"


"Indah, sangat indah. Dia bahkan mengalahkan pemandangan gunung puji." Balas Arthur dengan senyum khasnya.


"Benarkah.!?


"Iya. Aku saja tidak ingin jauh dari dua benda kesukaan itu."


"Wow. Kau hebat kalau begitu, Tingkatkan bakat terpendammu, son." Mommy memberikan semangat 45 kepada putranya.


"Apa kau perlu bantuan, son.?"


"Bantuan apa, mom."


"Sapa tau, kau butuh pengarahan yang lebih baik lagi dalam melakukan hal menyenangkan dengan istri mu."


"Atau kau butuh dukungan dan bantuan.?"


"Bantuan dari mana.?"


"Dari tetorial misalnya. Kau bisa melihat video. Kau juga bisa meminum sesuatu agar kau bisa menang dari pertarungan mu di ranjang." Cerotos mommy mencoba memberi saran pada putranya itu.


Arthur hanya bisa mengedip-kedipkan mata tajamnya dan melongo melihat sang mommy. Isi kepalanya mendadak berhenti berpikir. Sedangkan Kim hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang.


"Itu tidak perlu, mom. Suamiku sudah hebat, buktinya dia memecahkan lampu dan pas buka yang ada di atas nakes." Sela Kim tenang.


"Dia juga membuat ranjang kami bergeser." Lanjut Kim lagi, dengan wajah biasa saja.


Mommy hanya bisa menganga dan menatap sang putra yang hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang istri.


"Wow." Hanya itu yang bisa mommy ucapkan, atas kehebatan tersembunyi sang putra.


"Tingkat bakatmu, son." Pesan sang mommy sambil menepuk bahu putranya yang hanya mengangguk patuh.


"Mommy, berharap bakat terpendammu, bisa menghasilkan karya yang sangat banyak." sela sang mommy penuh dengan harapan.


Arthur Kembali mengangkuk, meskipun dirinya tidak memahami maksud dari ucapan ambigo sang mommy.


Jangan tanyakan wajah menyedihkan Jenny yang hanya bisa menjadi penyimak, dengan wajah binggung. Wanita itu tidak ada satupun, yang ia pahami dari obrolan unfaedah sang mommy dan putranya.


Jenny melirik Kim yang hanya sedang asyik menyantap Sarapannya tanpa mempedulikan, obrolan mertua dan kepatuhan sang suami.


Kim menggangkat bahunya tidak acuh dan meneruskan sarapannya, sesekali ia menyuapi suaminya yang kembali pada iPad di tangannya.


Jenny hanya bisa mencebikkan mulutnya dan mendelikkan kearah Kim.


"Dasar keluarga aneh." Gumam Jenny kesal.


Mereka berempat pun kembali terdiam dan fokus pada sarapan mereka masing-masing. Mommy begitu terharu dan bahagia saat melihat sikap manis Kim pada putranya itu, yang dengan sabarnya menyuapi putra polosnya yang kini sudah tidak polos lagi.


Wanita parubaya itu, menerawang mengingat masa-masa kebersamaannya bersama mendiang suaminya, yang begitu mencintainya dan selalu memperlakukannya bagaikan seorang putri.


"Aku, merindukan mu, dad." Lirih sang mommy, dan mengusap ujung matanya yang sudah berair.


"Mommy kenapa.?" Sentak Jenny.


"Tidak apa-apa, sayang. Lanjutkan sarapanmu." Sahut mommy.


Jenny mengangkuk dan melanjutkan sarapannya, sambil melirik pasangan pengantin baru di hadapannya dengan sinis.


"Dasar. Apa mereka tidak malu, bermesraan di depan kami." Gerutu Jenny.


"Sabar, nanti juga kau akan merasakan seperti mereka." Sela mommy, dan melirik kearah pasangan pengantin baru yang sedang bermesraan.


"Kau, punya kekasih, sayang.?" Bisik mommy


"Oh, kasian."


"Terimakasih, mom, atas ejekannya."


"OH Tuhan, kau lucu sekali."


"Tenanglah, mommy janji akan mengenalkan mu pada pria pilihan, mommy, ok."


"Terserah."


Mommy kembali mengacak rambut gadis berkacamata mata itu.


Sarapan yang penuh kehangatan itu berlanjut dan tawa renyah dari sang mommy terus terdengar di ruang makan tersebut. Mereka sarapan dengan di selingi oleh obrolan unfaedah dari mommy tentunya. Sedangkan Kim hanya menimpalinya dengan gumam dan deheman saja.


Sementara Jenny hanya bisa menyimak dengan wajah menyedihkan.


"Aku, selesai." Arthur bangkit dari kursinya, setelah menghabiskan Sarapannya dengan bantuan sang istri.


Kim ikut berdiri dan akan mengantarkan suaminya hingga di depan mobil.


"Mom, aku berangkat dulu." Pamit Arthur, sambil memberi kecupan di kepala sang mommy.


Setelah itu Arthur menghadap sang istri yang berada di sampingnya. " Aku pergi dulu." Pamitnya pada sang istri yang sudah banyak mengajarkannya tentang peranjangan.


"Aku akan mengantarmu." Sahut Kim, dan mengambil alih tas kerja suaminya.


Arthur hanya mengangguk dan berjalan kearah luar dengan tangan mereka yang bertautan.


"Oh, mereka sweet sekali." Ujar mommy dengan senyum gembira.


Wanita itu masih menatap haru pada pasangan yang sudah menghilangkan di balik pintu.


*


*


*


"Aku, berangkat dulu." Arthur melepaskan tautan tangan mereka dan mengambil alih tas kerjanya yang ada di tangan Kim.


Kim menahan suaminya, saat pria itu akan memasuki mobil yang sejak tadi terparkir di depan mansion Kato.


"Ada apa.?" Tanya Arthur kembali kesisi istrinya.


"Kau, tidak ingin memberiku kecupan juga.?" Tanya Kim dengan wajah yang begitu cantik.


"Kau, memberikan mommy kecupan. Tapi padaku tidak.!" Lanjut Kim lagi.


"Jadi aku memintamu untuk memberikan ku kecupan sebelum kau berangkat bekerja." Ujar Kim dengan tersenyum manis.


Arthur hanya bisa menikmati kecantikan istrinya yang sedang tersenyum padanya, semangat dan imun-nya makin meningkat, setelah melihat senyum sang istri.


"Hei." Sentak Kim, menyadarkan suaminya itu dari rasa kagum.


"Hm, yah." Sahut Arthur kelabakan.


"Ck. Kamu kelamaan." Sela Kim. Segera saja wanita itu mengecup bibir suaminya dan menyesapnya lembut dan melumuttnya juga.


Arthur yang terlena langsung menarik pinggang ramping Kim dan memperdalam ciuman meraka didepan sang sopir dan juga para penjaga di mansion itu.


"Aku pergi dulu, okusan." Bisik Arthur saat tauatan bibir mereka terlepas. Arthur mengecup kening dan terakhir bibir merekah sang istri.


"Okusan.?" Cicit Kim bingung.


Arthur tersenyum dan kembali meraih pinggang istrinya. "Okusan, panggil sayang untuk seorang istri di Jepang." Jawab Arthur dan pria itu kembali mengecup kening bahkan seluruh wajah istrinya yang nampak bingung.


"Baiklah, aku pergi dulu." Pamit Arthur yang kali ini pria itu sudah berada di dalam mobil. Arthur melambaikan tangan pada istrinya dan tersenyum tampan.


"Okusan." Lirih Kim.


"Panggilan yang lucu." Gumamnya.


"Ternyata suami polosku sangatlah manis." Gumam Kim kembali dan wanita itu tersenyum ceria.


"Biarkan saja si brengsek itu melihat semua kegiatan kami. Biar dia tahu kalau aku tidak akan bisa ia miliki. Dasar pria bodoh." Sinis Kim saat ekor matanya melirik kearah mobil yang sejak tadi terparkir di luar gerbang Mansion Kato.


"Cih." Kim berdecih, lalu masuk kedalam mansion.


Sedangkan di luar gerbang tepatnya di dalam sebuah mobil sport mewah, seorang pria tampan sejak tadi melihat pasangan pengantin baru itu saling bermesraan di depan Mansion.


Pria itu hanya bisa menatap nyalang pada pasangan pengantin baru itu. Tangannya bahkan sejak tadi mengeluarkan cairan merah berbau amis, dari pecahan gelas yang ada ditangannya. Keanu mengertakkan giginya dan tulang rahangnya kini mengeras dengan tatapan mata yang merah menyala. Ia tidak akan pernah terima Kim menjadi milik orang lain. Kim hanya miliknya. Milik Keanu Adrian Adam seorang.


"Kau, hanya milikku Kimberly ligh Hugo." Geram Keanu dengan bola mata yang sudah merah.


"Kau hanya milikku, sayang, milikku."


"Aku, akan merebut mu dari pria lemah itu. Hanya aku yang akan memberikanmu kepuasan, Baby."


"Hanya aku."


mampir yuk di karya teman aku