Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 77


"Kalian sudah sampai rupanya." Seru seorang wanita yang memiliki wajah oriental khas wanita Jepang. Wanita yang kira-kira berusia 55 tahunan.


Wanita parubaya yang masih terlihat sangat cantik dan wajahnya terlihat masih fres.


Nyonya Gabriela menyambut, kim dan jenny dengan sangat terbuka dan ramah.


Jenny begitu lega, setidaknya nyonya Gabriela adalah orang yang ramah dan hangat.


Terbukti kini mereka sudah saling mengobrol dengan santai dan di selingi canda tawa.


"Jadi, bagaimana apa kau merima tawaran dariku.?" nyonya Gabriela menatap Kim dan bertanya pada wanita cantik di depannya.


"Apakah tidak ada cara tawaran lain.? Kim bertanya balik kepada nyonya Gabriela.


"Sayangnya, kau tidak punya penawaran lain lagi, nona Kimberly." Ujar nyonya Gabriela tegas.


Kim terdiam dan menatap nyonya dengan wajah khas Asia itu. Kulit nyonya Gabriela begitu bersih dan putih bagaikan salju. Terlihat wanita yang tidak muda lagi ini, begitu merawat dirinya.


Kim menoleh kesamping di mana jenny duduk sambil menatapnya penuh harapan.


Jenny terlihat menggakukkan kepalanya pelan, sebagai tanda kepada, Kim agar menerima tawar nyonya, Gabriela.


Kim berperan bathin dan juga pikirannya. Haruskah ia menerima tawaran nyonya, Gabriela? dan Kali ini, Kim tidak boleh egois dan bersikap arogan. Ada banyak karyawan yang mengharap padanya.


Kim, menghela nafasnya dna membuangnya secara perlahan, yang terlihat dari mulut, Kim yang mengembang.


"Baiklah, aku menerima tawaran anda nyonya, Gabriela.?! Saut Kim tenang.


"Bagus. Kalau begitu bersiaplah untuk besok pagi." sambung nyonya Gabriela.


Kim dan jenny, tertekun di tempat mereka. Apa mereka tidak salah dengar? Semudah dan secepat itukah seorang billionaire mengambil keputusan, untuk masa depan kita sendiri.


"Ok, nona Kim. Aku rasa kau butuh istirahat." Ujar nyonya Gabriela, jangan lupa senyumnya yang begitu indah dan tulus.


"Haruka. Bawa mereka ke kamar untuk beristirahat." Perintah nyonya Gabriela kepada asistennya yang bernama Haruka.


"Baik nyonya." Sahut asisten nyonya Gabriela.


"Mari nona-nona, saya akan mengantar anda kekamar atas " pelayan di mansion itupun mengantarkan dua wanita cantik di hadapannya.


"Terimakasih, nyonya Gabriela." Ucap Kim ramah.


" Terimakasih kembali, nona-nona cantik." Balas nyonya Gabriela ramah dan tulus.


" Turunlah waktu makan malam, aku akan mengenalkan mu pada putraku." Lanjut wanita yang tidak muda lagi itu.


" Baik nyonya." Balas Kim dengan tersenyum lembut.


Kim dan jenny pun mengikuti langkah asisten nyonya Gabriela yang bernama Haruka.


"Silakan, nona-nona. ini kamar kalian, kalau kalian membutuhkan sesuatu, pencet saja tembol merah yang ada di samping atas tempat tidur." Seru asisten Haruka.


"Terimakasih, bibi." Ucap jenny.


Asisten Haruka pun mengangguk dan segera, keluar dari kamar tamu dan meninggal Kim dan jenny di dalam kamar.


"Aku tidak, percaya kau bakalan melakukan ini." Cibir jenny dengan tersenyum tipis.


"Entahlah. Bukankah kau yang memerintah kan ku untuk melakukannya demi perusahaan dan para pekerja kita.?! Decak Kim malas.


Jenny hanya tersenyum dan langsung memeluk sahabatnya itu erat.


"Berdoalah, semoga anak nyonya Gabriela tidak seperti Malvin dan Keanu." Ujar jenny dengan wajah serius.


"Kalaupun ia, aku bakalan melenyapkannya setelah mengambil semua hartanya." Jawab Kim dengan mencebikkan bibirnya.


"Ish. Kau sangat mengerikan dan menakutkan." Saut jenny lalu tertawa lepas.


"Kau memang paling senang membuatku menderita, sialan." Maki Kim.


Jenny pun kembali terbahak hingga kepalanya mendongak keatas dan air matanya keluar.


Berdebatan mereka pun di saksikan oleh nyonya, Gabriela di ruangannya melalui cctv yang ia pasang di dalam kamar itu.


"Ternyata dia memiliki hati yang begitu baik, ia rela melakukan semuanya untuk orang lain. Aku memang tidak salah memilih lawan buat, putra kesayangan ku." Monolog nyonya Gabriela sambil menatap layar yang ada di depannya.


"Apa anda yakin nyonya? Kalau tuan muda mau menerima perjodohan ini.?" Tiba-tiba asisten Haruka bertanya kepada nyonya Gabriela yang kini menatapnya.


"Aku sangat yakin. Bukankah dia anak kesayangan ku yang sangat penurut.? Jawab nyonya Gabriela dengan wajah yang begitu yakin.


"Ah, anakku sayang." Seru nyonya Gabriela, dengan wajah gembira.


"Sebentar lagi anakku yang tersayang akan menjadi seorang suami yang lembut dan manis." Sorak nyonya Gabriela.


"Hubungi anak itu dan suruh dia pulang." Perintah nyonya Gabriela.


Asisten Haruka pun melaksanakan perintah nyonyanya. Ia mengambil ponselnya yang selalu siap siaga di tangannya. Wanita itupun menghubungi nomor tuan mudanya dan tidak lama terdengar suara tuan mudanya yang sedang gemetar dan terisak pilu.


"Ada apa.?" Tanya nyonya Gabriela, saat melihat wajah tegang asistennya.


Nyonya Gabriela pun segera merebut ponsel yang ada di tangan asistennya.


" Dasar wanita murahan, berani-beraninya wanita itu ingin menodai anak manisku." Gertak nyonya Gabriel marah.


*


*


*


Sementara di dalam sebuah unit apartemen mewah, seorang pria tampak terlihat gugup dan gemetar, saat seorang gadis sejak tadi berada di pangkuannya dan mencumbui seluruh tubuhnya.


Pria itu hanya bisa tergugup dan seluruh tubuhnya sudah gemetar takut saat gadis yang ada di pangkuannya membuka satu persatu anak kancing kemejanya.


Arthur berusah menghentikan Calista yang sedang membuka kemejanya itu, hingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya yang membuat Calista menggila.


Arthur menahan tangan Calista saat gadis itu, berusaha membuka bawahnya dengan tidak sabaran.


"No, darling." Ujar Arthur sambil berusaha menahan bawahnya yang di tarik Calista.


"Darling, jangan." Pinta Arthur dengan suara gemetar dan wajahnya sudah memucat.


"Calista. Hentikan.!! Bentak Arthur tanpa sadar. Membuat wanita yang berada di bawahnya mendongak kepadanya dengan wajah kecewa.


"Maaf aku, darling. Tapi apa yang kita lakukan ini salah. Aku tidak bisa melakukan itu, tanpa ada ikatan pernikahan." Ujar Arthur sambil menatap Calista yang berbinar kecewa dan sedih.


"Maaf." Katanya lagi dan segera bangkit merapikan kembali pakaiannya.


"Kenapa, honey." Lirih Calista yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Kenapa, kau tidak ingin melakukannya bersama ku. Bukankah kita sudah lama menjalin hubungan? Dan di negara kita bebas melakukannya tanpa adanya pernikahan. Aku hanya ingin memberikan kehormatan ku pada mu honey, atas apa yang selama ini kau berikan padaku. Aku ikhlas dan rela kau mengambil mahkota ku yang selama ini aku jaga." Cerca gadis itu yang kini membuka seluruh kain yang melekat pada di dirinya.


"Darling. Apa yang kau lakukan." Sentak Arthur refleks menutup kedua matanya.


"Oh astaga mata suci ku, ternodai." Gumam pria itu.


"Pakai kembali pakaian mu, darling." Perintah Arthur yang masih menutup matanya.


"Why, honey." Tanya Calista, yang kini sudah berada di dekat Arthur tanpa jarak.


Arthur pun secara berlahan memundurkan tubuh atletisnya, menghindari serangan dari Calista, wanita yang manis itu kini berubah menjadi predator yang kelaparan.


"Menjauhlah darling." Perintah Arthur.


"Darling. Jangan lakukan itu padaku, please, darling." Mohon Arthur sambil melindungi tubuhnya sendiri.


Calista tidak menghiraukan perintah Arthur. Ia begitu menggilai tubuh seksi kekasihnya dan menginginkannya. Meskipun ia akan berusaha untuk membangkitkan benda ajaib pria yang sudah gemetar takun di sudut sana. Calista menginginkan benih Arthur, agar ia bisa menjadi nyonya kato yang selanjutnya. Ayolah bukankah menjadi menantu keluarga kato, maka hidupnya akan terjamin selamanya.?


Jadi jangan salahkan dirinya kalau siang ini dia nekat melakukan pemaksaan pada pria di hadapannya yang kini menatapnya memohon.


Sebentar. Bukankah adengan ini terbalik? Dimana seharusnya sang lelaki lah yang memaksa sang wanita. Dan sang wanitalah yang memohon dan menolak dengan wajah pucat atau berusaha menghindar.


"Kenapa aku seperti wanita brengsek dan mesum.?" Batin Calista merasa ini sangat aneh.


"Bodohlah, yang penting aku menginginkan benih Limited edition keturunan Kato. Batin Calista, menyakinkan dirinya sendiri.


"Darling, … menjauhlah. Kau membuatku takut."


"Darling jangan."


"Akhh."


" Kumohon siapapun tolong aku."


"Mommy, ….!!!