
Di sebuah rumah sederhana seorang gadis sedang terisak dengan sebuah gaun pengantin melekat di tubuh mungilnya.
Malam ini ia dan Kenzie akan melangsungkan pernikahan, lebih tepatnya ia dipaksa menikah dengan Kenzie mengancamnya dengan menggunakan sang mommy.
Lusi tidak menduga dan menyangka kalau pria yang ia kenal sangat baik ternyata seorang pria gila yang sangat terobsesi padanya.
Karena obsesinya Kenzie pada Lusi, pria itu menyekap gadis kesayangan Larry berbulan-bulan di suatu tempat yang sangat tersembunyi.
Lusi juga tidak menyangka kalau di balik ini semua adalah perbuatan sang kakak tiri, yaitu Kelly.
Seharusnya Lusi tidak semudah itu terpancing oleh rencana licik kakak tirinya itu. Karena dia sudah mengetahui watak asli Kelly yang sangat iri hati dan licik.
Karena terpancing rencana Kelly, Lusi harus berpisah dengan Daddy kesayangannya selama tiga bulan lebih dan malam ini akan memasuki empat bulan.
Lusi hanya bisa terisak di sudut kamar layaknya seorang anak yang dihukum oleh kedua orang tuanya.
Ia juga tidak henti-hentinya memanggil daddy kesayangannya itu.
"Daddy," isaknya sambil menghapus cairan yang keluar dari hidung mancungnya menggunakan gaun pengantin yang melekat di tubuh mungilnya.
"Kapan, daddy menolongku," lirihnya.
"Aku tidak mau menikah dengan Kenzie. Tidak mau," racaunya dan lagi-lagi dia melap air hidungnya menggunakan gaun pengantinnya.
"Datanglah, daddy. Apa kau tidak sayang dan cinta lagi kepada ku? Atau Daddy percaya dengan rubah jelek itu, yang mengaku hamil anak daddy," monolognya tiada henti.
"Daddy." Dan tangisnya pun kembali pecah sambil memanggil Larry. Seperti seorang gadis kecil yang merindukan sang daddy.
"Sepertinya, aku harus melakukan ini,?" Gumam Lusi.
Ia terlihat bangkit dan berjalan ke arah nakes di dekat ranjang sederhana yang terletak di ujung kamar.
Lusi membuka laci tersebut dan mengambil sebuah botol yang berisi obat.
Lusi membuka obat tersebut dan meletakkannya beberapa biji di telapak tangan mungil. Ia lalu meraih gelas yang ada di atas nakes yang berisi air putih.
"Maafkan aku daddy, aku terpaksa melakukan ini," Lirih Lusi dan menelan beberapa butir obat yang berada di telapak tangannya.
setelah menelan pil obat tersebut, Lusi kembali ketempatnya semula dan kembali menyusupkan tubuhnya di sudut kamar.
"Daddy," racaunya yang penglihatannya sudah mulai menghitam.
tubuhnya pun mulai lemas, matanya pun sudah terasa berat. dan perasaannya ingin segera tertidur.
"Daddy, aku sudah tidak tahan lagi," Lirih Lusi.
tidak lama kemudian pintu kamar yang di tempati Lusi terbuka. dan Kenzie lah yang masuk dengan senyum cerahnya.
"sayang," serunya memanggil Lusi.
"sayang,!" teriaknya lagi.
"oh, disini kamu rupanya," serunya saat menemukan Lusi yang berada di sudut kamar.
"Ayo, waktunya kita menikah, sayang," ajak Kenzie.
"aku tidak mau," tolak dan Lusi mencoba meronta saat Kenzie memaksanya.
"ayolah, sayang jangan membuatku marah," bisik Kenzie.
"Tidak. aku tidak mau," tolak Lusi kembali dan mencoba menepis tangan Kenzie yang ada di Pahu terbukanya.
"Ayolah, Lusi sayang," sentak Kenzie yang menyeret paksa Lusi keluar dari kamar.
Kenzie yang sudah tidak sabar mengendong tubuh mungil Lusi, layaknya karung beras.
"lepaskan, sialan," teriaknya sambil memukuli punggung kokoh Kenzie.
"tidak akan sebelum kau menjadi istriku." Kenzie menyahuti teriak Lusi dan tersenyum licik.
"lepaskan aku," pinta Lusi
"lepaskan, brengsek." Lusi mengigit telinga Kenzie sehingga pria itu, berteriak kesakitan.
Kenzie menghempaskan tubuh mungil Lusi di atas sofa dengan menatap tajam pada gadis itu.
"kau sudah berani padaku, sayang." Kenzie mendekati Lusi sedikit demi sedikit sambil melepaskan jas pengantinnya yang berwarna hitam.
"Baiklah, sepertinya kau ingin aku memakanmu terlebih dahulu," ujar Kenzie sambil menyeringai mesum.
Lusi memundurkan Tubuh mungilnya dengan tubuh yang sudah gemetar dan raut wajahnya sudah memucat.
"j-jangan sentuh aku," pinta Lusi.
"aku mohon lepaskan aku, jangan sentuh aku. kata daddy hanya dia yang boleh menyentuhku," ucap Lusi yang membuat Kenzie menyengit bingung.
"Daddy,?" tanya Kenzie dengan tatapan bingung.
dengan polosnya Lusi mengangkuk pelan kepalanya.
"katanya, hanya dia boleh memiliki tubuhku," ujarnya sambil tersenyum.
"apa maksud, sayang. daddy? daddy siapa,?" tanya Kenzie tidak sabaran.
"Daddy Larry," sahut Lusi dengan percaya dirinya.
membuat Kenzie meradang dan ia tidak suka Lusi mengingat pria yang menjadi rivalnya itu.
"tapi sekarang kau akan menjadi milikku satu-satunya, sayang,"
"dan malam ini, kau akan menjadi milikku, sayang."
"ti-tidak, lepaskan aku."
"Daddy, ....!
"diamlah. dia tidak akan datang, sayang,"
"jangan, lepaskan aku, ... daddy."
"brakkk!!
"brengsek,!!!
"Daddy,"
"honey,"
"hoaaa, daddy. dia ingin menciumku,"
"honey,"
" Daddy,"