
Malvin, masih tertegun saat baru mengetahui sang istri adalah keturunan klen mafia yang sangat di takuti. Pria itu juga baru mengetahui kalau sang istri berasal dari keluarga Hugo, sang konglomerat terkenal di kota Paris.
"Bodoh, kenapa aku bisa tidak mengetahui latar belakang Kim." Batin Malvin, memaki dirinya sendiri.
"Kalau, begini aku tidak bisa berbuat apa-apa, dia lebih berkuasa daripada aku dan dia akan lebih mudah menghancurkan ku. Tapi aku tidak akan menyerah Kimberly akan tetap menjadi milikku." Monolog Malvin dalam hati.
"Tok, tok, tok," tiba-tiba pintu kamar Malvin di ketuk, membuat pria yang sedang duduk di kursi roda m akibat penjantannya yang masih terluka.
Malvin mengedikkan kepalanya kearah pintu sambil menatap sang asisten.
Asisten Jo yang biasa di sapa, segera berjalan kearah pintu saat mendapatkan perintah dari tuannya dan membuka pintu kamar itu.
Jo menatap dingin pada kedua wanita yang berada di balik pintu. Kim dan jenny masih berdiri mematung saat Jo menghalangi mereka masuk.
"Menyingkirlah." Perintah Kim dingin.
Jo masih bergeming di tempatnya dan tatapannya masih menajam kearah Kim dan jenny.
"Menyingkirlah, brengsek." Maki jenny dan mendorong tubuh besar Jo kesamping.
Kim dan jenny pun masuk dengan wajah santai tanpa ada rasa bersalah.
"Anda di larang masuk, nyonya." Saut Jo, yang mencoba menghalau Kim, untuk mendekati Malvin yang sudah membeku di kursi rodanya.
"Menjauhlah." Suruh Kim, jangan lupa tatapan tajam wanita itu.
"Tidak. Saya tidak akan membiarkan Anda menyakiti tuan Malvin lagi." Ujar Jo, bersekeras menghalangi Kim untuk mendekat kearah Malvin.
Kim memberikan kode kepada jenny, untuk membereskan asisten Malvin ini.
segera jenny melumpuhkan Jo dengan satu kali pukulan di belakang lehernya, hingga Jo sudah tak sadarkan diri. jenny menghempaskannya tubuh pria itu di atas sofa dan kembali menghampiri Kim, yang sudah berada di hadapan Malvin.
Malvin hanya bisa menahan nafasnya dan menelan ludahnya kasar. wajahnya sudah berubah pucat, dia memegang roda pada kursi rodanya dan memundurkannya.
Kim tersenyum sinis pada suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.
Kim terus mendekati malvin, dengan senyum miring di mulutnya.
"Hay, ... Malvin, sayang." Seru Kim dengan memperlihatkan senyum manisnya.
Malvin tidak bergeming sedikitpun, dia tetap memundurkan kursi rodanya dan mepet di jendela kaca besar itu.
"Come on, sayang." seru Kim.
Malvin hanya menggeleng dan mengeluarkan suara khas orang bisu.
"Hei, ... ada apa dengan suara mu, sayang ." tanya Kim dengan wajah berpura-pura panik.
Malvin terus mengeluarkan suara tidak jelas sambil megibas- ngibasnya tangannya kearah Kim.
Kim terkekeh mendengar suara Malvin dan dia juga merasa puas melihat keadaan Malvin yang tidak berdaya.
"Lihatlah, keadaan mu, sayang. kau begitu menyedihkan dan sangat, sangat menyedihkan. jangan salahkan aku jika aku harus terpaksa membuatmu seperti ini, salahkan dirimu yang tidak pernah menghargai perasaan ku. jadi aku rasa ini adalah balasan yang tepat buat mu." Sarkas Kim.
Malvin hanya bisa terdiam. dia membenarkan ucapan Kim, kalau semua ini adalah salahnya.
tapi menurut pria itu, hukuman wanita ini terlalu berlebihan dan membuatnya menderita.
"So, karena aku tidak ingin terlalu lama berada di dekatmu, jadi aku langsung saja pada intinya kenapa aku berada disini." Ujar Kim, yang sudah merasa muak berada satu ruangan dengan Malvin.
"Jenny." Panggilannya.
Jenny pun dengan segera mendekati Malvin dengan berkas berwarna biru yang berada di tangannya.
Jenny menyerahkan berkas itu kepada Malvin dengan wajah datar.
"Tandatangani ini, maka hidupmu akan aman." Suruhnya dengan nada ancaman.
lama Malvin terdiam sambil membaca tulisan yang berada di atas kertas itu.
"Cerai.?" Tanyanya dalam hati.
"Apakah, aku harus tandatangani ini. itu artinya Kim bukan lagi istriku yang berharga. tapi kalau aku menolak, dia pasti akan berbuat sesuatu padaku nanti." Monolog Malvin dalam hati.
"Tandatangani, dan kami segera pergi dari sini." Seru Jenni muak.
Dengan berat hati akhirnya, Malvin membubuhkan tandatangannya di atas kertas itu. yang menandakan kalau ia dan Kim tidak ada hubungan atau ikatan lagi.
"Baiklah, tuan malvin. selamat anda berhasil berpisah dengan nona, Kim dan selamat nyawa anda terbebas dari ancaman bahaya dari, nona kami." pungkas Jenny dengan terkekeh.
Kim merasa lega dan senang karena sudah berhasil lepas dari ikatan pernikahan bersama pria brengsek ini. Kim pun melangkah keluar dari kamar Malvin tanpa berkata-kata atau berpamitan.
Jenny hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengikuti Kim.
tinggallah Malvin dengan wajah sedih bercampur dendam di hatinya.
"Aku, akan membalas mu Kim. lihat saja, kau akan menjadi milikku lagi." Batinnya dengan dada yang mulai bergemuruh.
pria itu hanya bisa menatap pintu dengan tajam dan mengepalkan tangannya.
"Kimberly." Geramnya dalam hati.
*
*
*
"apa.?
"Kau, tidak berpamitan dan memberi pelukan perpisahan pada mantan suami mu." cibir jenny.
"cih." Kim hanya berdecih membalas ucapan jenny.
"Kita, mau kemana." tanya jenny yang sedang membelokkan mobil sport yang di kendarai ya.
"Pulang." Jawab Kim singkat.
"Hm, baiklah." saut jenny dan memutar arah untuk kembali ke mansion Kim.
"oh iya, bagaimana dengan, Lusi dan Laura.?" Kim menanyai teman barunya itu.
"Mereka, sudah ada di mansion." balas jenny, yang memberhentikan mobilnya di lampu merah.
Kim tidak menjawab m, wanita itu merebahkan punggungnya di sandaran kursi mobil dan memejamkan matanya.
jenny kembali menjalankan roda empat, super car itu dan membelah jalanan padat di sore hari di kota Paris.
*
*
*
Di Mansion Hugo.
Laura dan Lusi, menganga kan mulut mereka menyurupai bentuk O besar.
Mereka begitu terkesima dan kagum dengan Mansion megah dan mewah Ruby. mereka bagaikan memasuki sebuah istana atau Castil mewah.
mereka bagaikan orang udik yang kesana kemari memperhatikan seluruh isi Mansion mewah Kim.
"Wow," Seru Lusi dengan wajah penuh binar kekaguman.
"Aku, tidak percaya bisa melihat dan merasakan tinggal di Mansion mewah ini." Ucap Lusi dengan wajah bahagia dan berlari kesana kemari Bagaikan artis India yang sedang beradegan bernyanyi.
sedangkan Laura hanya mencebikan bibirnya.
wanita bergaya cuek itu menatap sekitar dengan sangat intes. dan dia menajamkan matanya pada ruangan yang berada di lantai dasar.
"Kau, sedang melihat apa.?" Tanya seseorang pria dengan nada bicara yang khas pria melambai.
Laura terloncat kaget dan menatap pria berwajah tampan cantik itu dengan tajam.
"Tuan, Julio." sela Lusi, dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajah imutnya.
"Julia. panggil aku Julia." saut pria melambai itu sengit.
"Tapi, Julia itukan nama perempuan, tuan.?" balas Lusi dengan wajah heran.
"Bukankah, anda seorang laki-laki? dan wajah anda juga sangat tampan dan mengemaskan." Ujar Lusi dengan wajah kagum.
Gadis itu mendekati Julia alias Julio dan menyentuh wajah glow up-nya yang sangat berkilau.
"Lepaskan, tangan kotor mu dari wajah ku. kau bisa membuat wajah cantikku ini kotor dan akan mengundang banyak bakteri, yang membuat wajahku jadi berjerawat dan kusam seperti wajah mu." cerotos pria gemulai itu.
"tuan Julio."
"panggil aku Julia." pekik Julio khas pria gemulai. ( kalian bisa bayangkan bang Soleeh)
"Kenapa, harus Julia? itukan nama wanita dan anda kan pria macho." Balas Lusi, lagi dengan wajah binggung.
"Aku, tidak suka dan aku tidak ingin di panggil Julio." pekik Julia lagi.
sedangkan Laura hanya terdiam dengan gaya acuhnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tunggu." Sela Lusi dan mendekat kembali pada Julia alias Julio.
"A-pa yang ingin kau lakukan.?" tanya pria gemulai itu saat Lusi menelisik wajah.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu? dan aku ingin mengetahui apa kau benar laki-laki atau perempuan.? balas Lusi. dan dia pun mengarahkan tangan kirinya kearah, bawah tepatnya di area terlarang Julia alias Julio itu.
membuat pria gemulai itu berteriak histeris, hingga terdengar di seluruh Mansion.
"akhhhhhh." teriak Julia alias Julio.
dengan wajah merah merona pria cantik itu berlari keluar dari mansion.
sedangkan Lusi tertekun dan menganga dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
"Ternyata di mempunyai belalai." cicit Lusi.
"besarnya segini." ujarnya lagi dan memperlihatkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk memeriksa belalai pria gemulai itu.
"Laura hanya bisa tersenyum."
"ternyata punyanya besar dan keras."
(kalian bisa bayangkan teriakan bang solehot di dunia upiin- ipiin, tapi jangan bayangkan kak los memegang itu-nya bang solehot, bisa kawat dunia perupiin- ipiin๐๐