
"Pergilah." Usir seorang pria dengan tubuh kekar yang terlihat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh atletisnya.
Dengan mengerut kesal wanita dengan tubuh seksi itu pergi meninggalkan pria yang menyewanya, tapi dia merasa senang karena dapat Bayaran yang sangat fantastik, dari kerja kerasnya untuk membangkitkan gaiirah pria lemah sahwat itu.
"Bodohlah aku tidak dapat kepuasaan dari pria itu, yang penting akau mendapatkan bayaran yang banyak." Gumam wanita malam yang tampilannya serba kurang bahan.
Keanu hanya bisa mengeram dan berteriak frustasi, saat ingin bersenang-senang sesuatu yang menjadi kebanggaannya malah tidak bisa berdiri tegang lagi atau sang burung onta tak bisa terbang untuk mencapai yang bernama surga dunia. Ia hanya bisa mendaki gunung melewati lembah, wanita seksi itu tadi tanpa harus melakukan yang namanya terbang ke langit ketujuh.
"Kimberly.!!" Teriak Keanu frustasi sambil meremas rambutnya kasar dan meninju cermin di depannya, hingga cermin itu pecah dan berhambur di lantai.
Dengan tatapan penuh amarah, Keanu meremas pecah kaca itu, hingga telapak tangannya mengeluarkan cairan berwarna merah yang berbau amis.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Kimberly. Kau akan menjadi milikku dan kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau, lakukan pada benda kebanggaan mu." Geram pria itu dengan sorotan mata yang sangat mengerikan. Keanu tidak menghiraukan tangannya yang terluka. Ia hanya fokus menerawang tajam kearah gambar yang berada di atas meja. Foto Kimberly yang berpose begitu menggoda dengan pakaian gaun seksi.
"Kau, harus menjadi milikku, Kimberly." Gumam pria itu dengan tatapan menajam kearah foto, Kim, yang menjadi fantasi liar Keanu saat pertama melihat sosok wanita dingin dan datar itu.
Keanu mengapai gawai-nya di atas meja dan menghubungi asistennya, Austin.
"Kemarilah."
"Tut."
Setelah melakukan panggilan singkat, Keanu melempar kembali penselnya keatas meja dengan kasar.
Tidak lama asistennya datang dengan sebuah MacBook berwarna hitam di tangannya.
Keanu yang melihat sang asisten sudah datang langsung saja menanyai soal tugas yang di berikan untuk asistennya itu.
"Bagaimana.?" Tanya Keanu dengan tidak sabar.
Austin menyerahkan MacBook yang berada ditangannya kepada sang big boss.
Dengan wajah penuh keseriusan, Keanu membaca sebuah laporan tentang Kimberly ligh Hugo.
Dahinya mengerut dan tatapannya serius menatap benda bersegi yang ada di tangannya.
"Jadi, dia keturunan dari klen mafia.?" Tanya Keanu, yang melirik kearah sang asisten.
"Iya, tuan." Jawab Austin singkat.
"Pantas, saja dia begitu mengerikan." Kekeh Keanu, tidak percaya.
"Tapi, kenapa dia menyembunyikan identitasnya,?" Tanya pria dengan wajah Arab Eropa itu penasaran dan kebingungan.
"Dia, menghindar dari musuh, tuan ligh Hugo, tuan.!?
"Ligh Hugo.?" Cicit Keanu, dengan wajah yang bertambah penasaran.
"Ketua kelompok, mafia ligh, tuan.?" Balas Austin tenang.
"Ketua mafia.?" Tanya Keanu kembali yang seperti orang bodoh.
"Iya, tuan ligh Hugo. Daddy dari nona, Kimberly ligh Hugo, tuan." Jawab Austin.
"Beliau, ketua mafia yang terkenal sangat kejam, tuan.!?
"Pantas putrinya begitu mengerikan dan kejam,"
"Anda harus berhati-hati, tuan.!"
"Kenapa.?"
"Karena, nona Kim, selalu mendapatkan pengawasan dari kelompok mafia ligh."
"Jadi kelompok mereka masih ada.?"
" Iya, tuan."
"Siapa, pemimpin mereka.?"
"Saya, belum bisa mendapatkan informasi soal pemimpin mereka yang sekarang, tuan."
"Hm, tapi akau ingin kau terus awasi, wanitaku, jangan sampai dia berbuat sesuatu yang bisa membuatku kehabisan kesabaran."
"Baik, tuan."
"Hm, keluarlah."
Setelah obrolan mereka dan Austin keluar dari kamar big boss-nya, kini tinggal Keanu yang masih terdiam di sopa, sambil menatap foto, Kim.
"Pantas saja kau begitu mengerikan, honey. Ternyata kau adalah seorang keturunan mafia."
"Ini sungguh menyenangkan, mendapatkan lawan yang sangat setimpal." Kekeh pria dengan nada menantang.
"Aku, tidak perduli kau berasal dari mana, yang jelas kau akan menjadi milikku, Kimberly, harus." Tekad pria rupawan yang kehilangan kegagahan kejantanannya itu.
*
*
*
Dengan langkah penuh pesona dan percaya diri, Kim sukses membuat semua mata para lelaki beralih menatapnya kagum. Tapi Kim, hanya cuek dan terus berjalan dengan menarik kopernya sendiri.
"Kita, akan kemana jenny." Kim bertanya pada sahabatnya itu yang sedang melakukan panggilan telepon.
Setelah panggil diseberang sana terputus, jenny mendekat kearah Kim.
"Ayo," ajak jenny smabil menarik tangan Kim.
Kim hanya terdiam dengan wajah binggung dan hanya pasrah saat jenny menariknya dengan tidak sabaran.
"Kita akan kemana, jenny.?" Tanya Kim lagi.
"Ikut saja." Balas jenny.
"Ikut kemana.?" Tanya Kim kembali dengan wajahnya yang penuh dengan pertanyaan.
"Ah, itu dia." Sela jenny, saat melihat sebuah mobil terparkir di parkiran bandara.
Kim menghentikan langkahnya dan secara langsung jenny pun berhenti. " Ayo cepatlah." Ajak jenny.
"Katakan dulu kita mau kemana.?" Ujar Kim
Jenny menghela nafasnya dan membuangnya dengan pelan.
"Kita akan ke kediaman, nyonya, Gabriela kato."
"Siapa.?"
"Calon klien kita."
" Ingat jaga kelakuan mu, Kim. Dan ingat kita melakukan ini semua demi para pekerja kita."
"Jadi lakukanlah demi perusahaan dan jangan sampai tuan Keanu menguasai semua aset kita."
"Jadi kumohon, ikutlah."
Akhirnya Kim pun ikut bersama jenny kearah mobil mewah berwarna hitam mengkilat. Jenny dan Kim memasuki mobil itu dan kini mereka sudah membelah jalan los angeles yang tidak pernah sepi itu.
"Paman, antarkan kami, ke pusat perbelanjaan dulu." Perintah jenny kepada sopir nyonya, Gabriela kato.
"Baik, nona." Saut sang sopir.
"Ke mall, ngapain jenny."
"Kita, harus mengubah penampilan mu."
"Ada apa dengan penampilan ku."
"Lihatlah. Apa penampilan seorang CEO seperti ini.?!
"Tapi, aku nyaman memakaikannya."
"Iya, Kim sayang, … tapi belum tentu nyonya Gabriela suka dengan penampilan tidak sopan mu ini." Sarkas jenny sambil menelisik penampilan Kim.
"Terserah."
"God girl." Ucap jenny bangga.
Mereka pun sudah sampai di sebuah mall terbesar di kota Los Angeles itu. Jenny dan Kim turun dari mobil dan berjalan kearah pintu masuk mall tersebut.
"Kita kesalon dulu." Perintah jenny.
"Hm." Jawab Kim malas.
Kim yang asyik melihat kesana kemari tanpa melihat kearah depan, sehingga Kim menabrak seseorang yang baru ke luar dari butik.
"Brak."
"Akh.'' pekik seorang gadis manis dan imut.
Kim segera membantu gadis itu berdiri dan memunguti barang-barang gadis yang menatap Kim tajam.
" Ini, barang-barang Anda, nona." Ujar Kim dan menyerahkan barang-barang itu kepada sang gadis.
"Tidak perlu." Tolak gadis itu angguh dan menelisik penampilan Kim.
"Cih, dasar wanita rendahan." Cibir Gadis yang memakai pakaian yang memperlihatkan perut datarnya.
"Maaf, ini belanjaan anda, nona." Ujar Kim lagi, yang tangan kirinya sudah menggantung di udara kearah gadis itu.
"Tidak usah, aku tidak akan menerimanya dari wanita rendahan sepertimu, barang itu pasti sudah tercemar oleh tangan kotor mu itu. Sarkas gadis yang berdiri sombong di hadapan Kim.
Alis kiri Kim terangkat sebelah dan menatap intens gadis sombong di depan mukanya.
'makanya jalan itu pakai mata,"
"Apa kamu tidak punya mata.!
"Apa nona juga tidak punya mata? Apa nona tidak melihat mataku, ada disini dan sejak tadi melihat wajah plastik mu itu."