Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 150


"Selamat malam dan selamat tidur, mom, dad." Kim mengucapkan mengecup kening kedua orang tuanya itu. Setelah membantu mereka berbaring di tempat tidur.


"Aku, menyayangi kalian." Ucap Kim kembali, sambil membenahi letak selimut yang membungkus tubuh kedua orang tuanya.


"Istirahatlah. Biar kakak yang menjaga mereka," sela Larry yang baru memasuki kamar orang tuanya.


"Ta, ….!! Ucapan penolakan Kim dipotong oleh perkataan sang kakak.


"Tapi, suamimu juga membutuhkan, kimby.?! Seloroh Larry.


"Kau, punya kewajiban lain adikku, sayang.?" Pungkas Larry kembali membungkam Kim yang ingin mengeluarkan alasan.


"Ingat, kau seorang Istri.!"


"Dan sekarang temui suamimu itu,!" Larry menuntut sang adik ke arah pintu dan mendorong pelan pundak Kim, agar keluar dari kamar Ke dua orang tua mereka.


"Ta, …." Ucapan protes Kim berhenti di udara saat Larry tiba-tiba menutup pintu yang hampir membentur kening Kim.


"Kakak! Teriak Kim sambil mengetuk pintu.


"Kakak.!


"Kakak!


Akhirnya Kim pun menyerah setelah tidak mendapatkan respon dari sang kakak.


Dengan gontai, Kim berjalan ke arah kamarnya yang bersebelahan dengan kamar mommy dan Daddynya.


"Clek!


Kim membuka pintu kamarnya. Dan pemandangan yang kembali membuatnya tertohok.


Saat maniknya menangkap seluit sang suami yang sudah tertidur dengan posisi tengkurap.


Hati Kim berdenyit saat lagi-lagi ia melihat sang suami tidur dengan pulas nya, sambil memeluk salah satu pakaian kotor miliknya.


Kim meraih baju kotornya yang berada di pelukan sang suami. Dan dia pun kembali merasa bersalah ketika mendengar racauan sang suami.


"Okusan, aku merindukanmu," racau Arthur kembali menarik pakaian kotor Kim.


"Sayang? Bisik Kim dengan tangannya membelai wajah suaminya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus yang mulai memanjang.


"Sayang ku! Bisik Kim sambil mengecup kening Arthur lama.


"Maaf! Cicit Kim.


Kim naik keatas ranjang bergabung bersama sang suami. Kim membuang baju kotornya jauh-jauh.


Ia lalu masuk kedalam pelukan hangat sang suami.


Jujur ia juga sangat merindukan suami manis dan tampannya ini.


"Sayang! Bisik Kim di telinga Arthur dan memberikan kecupan disana.


"Maaf!


"Aku juga sangat merindukanmu, honey," bisiknya lagi dan mengecup seluruh wajah suaminya itu.


Arthur mengerjap saat merasakan tubuh dan aroma yang sangat ia rindukan itu berada di pelukannya.


Arthur membuka mata sipitnya dan seutas senyum terbit di wajah rupawan nya itu. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh hangat istrinya.


"Kau disini, okusan.?" Tanya Arthur yang kini berada di ceruk leher Kim.


"Kau tidak suka aku disini.?" Kim membalikkan pertanyaan kepada suaminya.


Kim mengusap lembut rambut kecoklatan sang suami penuh kasih sayang.


Kim merasakan sang suami menggeleng di ceruk lehernya. " Aku merindukanmu," lirih Arthur yang pelukannya makin mengerat.


"Maaf! Sahut Kim. Ia menciumi kepala suaminya itu.


Arthur menjauhkan wajahnya dari ceruk Leher Kim, ia menatap lekat wajah sedih sang istri.


"Why! Bisik Arthur yang kini menempelkan kening mereka setelah mengecup sekilas bibir seksi sang istri.


"Aku sudah menggacuhkanmu," cicit sang istri.


"No! Aku mengerti keadaanmu, okusan dan aku tidak permasalahkan semua itu. Kebahagiaanmu lah yang paling penting bagi ku." Imbuh Arthur yang kembali membuat Kim tertohok.


Dia tidak menyangka perasaan sang suami begitu besar kepadanya.


"Maaf dan aku juga merindukanmu," ungkap Kim dan memeluk erat tubuh kekar suaminya itu.


Kim bahkan mengecupi dada telanjang sang suami.


"Jangan menggodaku, okusan." Ujar Arthur dengan nada suara berat.


Kim mendongak memandangi wajah sang suami yang sudah merah merona.


"Aku sengaja ingin menggoda muda, sayang."


"Apa, kau tidak merindukannya.?" Kim membawa tangan kekar Arthur kesalah satu gunung kembar rasa Mochi kesukaan.


Ah Arthur sangat merindukan buah kesukaannya ini. Buah rasa Mochi yang mampu membuatnya melayang tinggi.


"A-apa sudah bisa.?" Arthur bertanya dengan perasaan yang mulai berdebar. Ia seperti melakukan malam pertama kembali.