Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 149


Kimberly terlihat sibuk pagi ini. Ia terlihat beberapa kali bolak-balik di kamar mandi dan kembali lagi ke ruangan ganti.


Ia seperti seorang ibu yang sedang sibuk menyiapkan keperluan sang anak. Menyiapkan air mandi, dan juga pakaian dan lain-lainnya.


Lalu kalian berpikir Kim sedang mengurus bayinya, maka kalian salah besar. Karena kali ini Kim sedang mengurus sang mommy yang tidak bisa melakukan apapun selain berbaring dan juga duduk di kursi roda.


Sudah satu Minggu Kim melakukan aktivitas barunya ini,. Mengurus sang mommy dan Daddynya dengan kelembutan dan kasih sayang.


Ia juga tidak merasa jijik membersihkan kotoran kedua orangtuanya itu. Kim sepenuhnya ikhlas merawat sang mommy dan Daddy.


Dengan cara inilah Kim bisa membalas perbuatan sang mommy dan Daddy di waktu ia kecil. Dan ini adalah kesempatan Kim untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.


Memberikan sejuta kasih sayang dan cinta, sama yang kedua orang tuanya itu berikan kepadanya sewaktu kecil.


Kondisi mommy dan Daddy, sudah lumayan membaik. Wajah mommy pun mulai berubah meskipun Kim harus melihat tulang-tulang kedua orangtuanya yang membuatnya biasa tiba-tiba terisak.


Mommy dinyatakan mengalami Depresi berat, trauma dan histeria. Di mana mommy mengalami suatu tekanan batin yang cukup parah, akibat pelecehan dan pemerkosaan yang dialami mommy Kim, belum lagi sebuah kekerasan yang ia terima dan juga dikurung bertahun-tahun dengan keadaan di pasung, membuat mommy dan Daddy Kim mengalami kelumpuhan.


Tapi Kim dan Larry sangat bersyukur masih bisa melihat kedua orang tua mereka, meskipun harus butuh perjuangan untuk memulihkan mommy dan Daddy Kim.


Kakak, adik itupun hanya bisa bersabar dan berusaha untuk menyembuhkan kedua orang tua mereka, yang belum merespon panggilan dan juga sentuhan.


Sang mommy kadang berteriak histeris dan mengamuk apabila melihat seorang pria mendekat ke arahnya, entah itu, Larry, Arthur ataupun Nathan.


Kim berjalan ke arah ranjang, dimana sang mommy berbaring dengan pandangan kosong menerawang ke atas langit-langit kamar.


"Mommy! Panggil Kim lembut. Ia duduk di tepi ranjang. Kim memberikan kecupan sayang di kening sang mommy.


"Waktunya, mandi, mom!" Ujar Kim memamerkan senyum indahnya.


"Ayo, mom. Aku bantu bangunan." Tawar Kim


Meskipun Kim tidak mendapatkan respon apapun dari mommy, tapi ia bersyukur bisa menatap dan merawat mommnya itu.


Kim terlihat membantu sang mommy, bangun dari baringnya. Ia mendudukkan mommy di pinggir ranjang. Dan membantu sang mommy duduk di kursi roda.


Setelah itu Kim terlihat mendorong kursi roda milik mommynya, ke arah kamar mandi.


Dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan, Kim membersihkan seluruh tubuh sang mommy.


Memberikan sabun keseluruhan tubuh mommy dan menggosoknya lembut, membersihkan rambut mommy yang habis dipangkas.


Sedangkan mommy hanya diam membisu dengan pandangan kosong. Ia tidak sama sekali merespon sentuhan Kim dan juga seruan atau perkataan, sang anak.


Kim terlihat mengusap cairan bening di ekor matanya, sekuat hati Kim menahan tangisnya agar tidak meledak. Setiap memandikan sang mommy, ia akan teringat masa kecilnya dulu. Sama yang Kim lakukan sekarang kepada mommynya, menggosok tubuh dan rambut Kim kecil sambil berkisah dan bercanda.


"Terimakasih, mom. Sudah mengajariku arti kasih sayang dan ketulusan. Terimakasih, sudah merawat ku penuh cinta dan kehangatan. Terima Kasih memberikan semua perhatianmu padaku dan kakak." Ungkap Kim dengan nada lirih.


"Kami menyayangi, mom. Aku dan kakak sangat merindukan mu, kami bersyukur masih bisa memelukmu meskipun dalam keadaan seperti ini, tapi kami sangat, sangat bersyukur.


"Aku dan kakak, menyayangi kalian." Bisik Kim di kepala snag mommy dan meninggalkan kecupan sayang di sana.


Setelah mommy terlihat rapi, Kim membawa mommy ke taman belakang untuk berjemur.


Kim dengan hati-hati mendorong kursi roda sang mommy. 


Kim tersenyum bahagia saat disana sudah ada daddy Damian ditemani oleh kakak Larry.


"Selamat pagi, daddy," sapa Kim dan memberikan ciuman hangat di pipi kurus daddynya.


Daddy Damian hanya bisa mengedip-kedipkan matanya untuk merespon ucapan dan sentuhan anak-anaknya. 


"Aku, menyayangimu, dad." Ucap Kim tulus.


"Selamat pagi, kakak." Sapa Kim kepada kakaknya.


"Selamat pagi juga, kimby." Balas Larry.


Larry mendekati sang mommy dan berjongkok di depan mommy Caroline. " Selamat pagi, mom." Ucapnya dengan diselingi ciuman hangat di kening sang mommy.


"Kau terlihat cantik, mom." Puji Larry.


"Mommy, memang selalu terlihat cantik, kak," sela Kim. " Iyakan, dad," ia bertanya kepada daddy Damian.


"Aku, selalu menyayangi kalian," Larry memeluk orang tuanya secara bergantian.


"Kakak, benar, mom, dad. Kalau kami merasa bersyukur kalian masih hidup. Dan kami akan selalu merawat kalian." Ucap Kim sendu.


"Kalian sangat berarti buat kami," 


"Kalian adalah, kekuatan dan kelemahan kami,"


"Jadi, tetaplah bersama kami, meskipun dengan keadaan seperti ini." Kim mengusap air matanya yang mulai mengalir.


"Kami, menyayangi kalian." Ucapnya lagi dan lagi-lagi tangisannya meledak disaat rasa sesak itu tak tertahankan lagi.


"okusan," Arthur yang baru bergabung menarik lembut sang Istri dan membawanya kedalam pelukannya.


"shttt! berhentilah menangis, okusan. tangisan mu membuatku tersiksa." bisik Arthur.


"aku, hanya tidak sanggup melihat keadaan, mommy dan Daddy, sayang." jawab Kim dalam isakannya.


"kau, pasti kuat okusan. dan kau harus kuat." Arthur mencoba menghibur sang istri.


"hum! aku pasti bisa. dan aku harus bisa." racau Kim di dalam pelukan sang suami.


"lebih baik kau istirahat, okusan." pinta Arthur.


"tidak! tolak Kim sambil menggeleng kepalanya.


"aku tidak ingin meninggalkan, mommy dan Daddy," ujarnya lagi.


"biar, daddy dan mommy bersama, kakak. yang di katakan, suamimu benar. kau butuh istirahat." sela Larry.


"dan suamimu juga membutuhkan mu, kimby." bisik Larry.


Kim menatap sang suami yang terlihat lesu itu. bisikan sang kakak membuatnya tertohok.


karena sibuk merawat, mommy dan Daddy, ia melupakan kewajibannya sebagai istri.


apalagi suaminya ini begitu baik dan pengertian kepadanya.


"maafkan, aku." lirih Kim dan membelai wajah rupawan suaminya.


"maaf? Arthur terlihat menyengitkan alis tebalnya.


"aku mengacuhkan mu, sayang." bisik Kim.


"tidak, okusan."


"aku sibuk melayani, mommy dan Daddy, sehingga melupakan kewajiban ku sebagai seorang, istri." imbuh Kim.


"aku, tidak masalah, okusan. dan aku mengerti keadaan mu sekarang," sahut Arthur penuh pengertian.


"kau suamiku yang paling pengertian dan manis." puji Kim dan menghadiahi wajah suaminya dengan kecupan.


"ck! kalian mulai lagi." cibir Larry.


"lihatlah, mom, dad. mereka selalu memamerkan kemesraan mereka." degus Larry.


"kau terlihat kasihan," ejek Arthur.


"Apa maksud mu, adik ipar lacknat." pekik Larry.


"pria kesepian." ejek Arthur dan tertawa.


"ehe! aku mempunyai kekasih asal kau tahu,!" hardik Larry. tidak terima dengan ejekan Arthur.


"benarkah? siapa.?" sahut Kim dan Arthur bersamaan.


"hm, ... itu rahasia," gugup Larry.


"dia wanita atau pria.?"


"hey! adik ipar kurang asupan."


dan tawa Kim dan Arthur mengelegar di taman belakang. menertawakan nasib percintaan sang kakak yang masih dalam bayangan abu-abu.