
" Dor, dor, dor." Suara tembakan itu kini menggema di seluruh ruangan mansion Lincol. Kim dan gengnya sudah melumpuhkan penjagaan dan keamanan di luar.
Kini mereka sudah berada di dalam, mansion dan menyerang para anak buah Lincol dengan membabi buta. Mereka tidak mengenal apapun selain menghabis para musuh.
Kim dan suaminya tidak terpisahkan. Mereka bersama-sama membantai habis para cecurut milik tuan Lincol. Begitu juga Nathan dan Jenny yang tidak terpisahkan. Nathan bahkan mencuri kesempatan untuk mencium bibir kekasih bermata empat miliknya. Membuat Jenny jengah. Sedangkan Larry melawan musuh dengan tangan kosong. Ia memberikan senjata api nya kepada Lusi.
"Apa yang harus aku lakukan.?" Lusi yang gemetar memegang senjata api itu bertanya kepada Larry.
"Tembakan kepada para musuh." Jawab Larry yang kini sibuk melawan musuh yang menyerangnya.
"Bagaimana caranya.?" Tanyanya lagi sambil mengamati senjata itu dengan lekat.
"Tarik pelatuknya dan arahkan ke para musuh yang berpakaian merah."
"Seperti ini?
"Dor." Lusi yang mengarah tembakan my kearah Larry, membuat pria dengan wajah dingi itu mengerang, untuk saja ia memiliki gerakan gesit, sehingga Larry menarik musuhnya dan menjadikan tameng.
"Apa yang kau lakukan, Lusi.!! Erang Larry.
"Menembak.?
"Bukan ke arahku Lusi, tapi ke arah musuh."
"Oh! Seperti ini."
"Dor! Kali ini Lusi menembak musuh, tapi sayang sasaran nya meleset.
"Kau, harus menembak musuh di bagian tubuhnya, Lusi!! Bukan dibagian bawah musuh.!
"Oh, oke!
"Dor! Lusi kembali melepaskan peluru ke arah pria yang akan menyerang Jenny.
"Dor! Kini tembakan Lusi tepat. Sangat tepat mengenai kepala pria jelek itu.
"Good girl.!" Puji Larry.
"Tapi aku membuat dia mati.!" Keluh Lusi.
"Itu tujuan kita, girl."
"Aku, merasa tidak tega.?"
"Awas! Bugh."
"Jangan lengah, Lusi. Disini berbahaya, perhatikan sekitarmu." Ujar Larry mengomeli Lusi yang melamun dan tidak memperhatikan sekitarnya.
"Hum!
"Tembak!
"Apa?
"Tembak Lusi."
"Di belakang mu, Lusi."
"Oh!
"Dor! Lusi pun dapat melumpuhkan musuh di dengan tembakan kecil milik Larry.
*
*
*
"Okusan. Kau mau kemana.?" Arthur mencekal tangan Kim, ketika istrinya itu ingin menaiki sebuah tangga di mansion itu.
"Mencari pria menjijikkan itu." Sahut Kim dengan tatapan mengerikan.
"Tunggu, Aku ikut bersamamu. Ingat jangan pernah menjauh dariku, ok."
"Hm."
"Bugh!
"Dor!
Kim dan Arthur menaiki tangga setelah melumpuhkan musuh mereka yang menghalanginya jalan keduanya keatas.
"Dor, dor, dor." Kim memberi timah panas pada setiap musuh yang menghalanginya untuk bisa bertemu langsung dengan pria yang sudah menghancurkan kebahagian keluarganya.
"Bugh, bugh, bugh." Sedangkan Arthur melawan setiap antek-antek Lincol dengan tangan kosong atau menggunakan belati kecil kesayangannya.
"Akhh! Teriak anak buah Lincol, saat Arthur mengarahkan belati nya ke dada pria tersebut.
"Akh! Lagi-lagi Arthur melumpuhkan lawan dengan satu kali tusukan di setiap bagian mematikan sang musuh.
"Di mana pria tua itu.?" Kim menahan salah satu anak buah Lincol dan mengarahkan sebuah belati di leher pria itu, yang tubuhnya sudah berkeringat dingin.
"D-di sana, nona." Jawab anak buah Lincol dengan nada ketakutan.
Kim yang tidak ingin membuang-buang waktu lama lagi, menggores dan melukai leher pria tersebut.
"Ayo! Ajak nya pada Arthur.
Arthur mengangguk dan menarik tangan istri ke arah pintu yang ditunjukkan pria tersebut.
"Brakk! Kim dan Arthur menendang pintu kokoh itu dengan kuat.
"Cih! Kalian sungguh manusia menjijikkan."
"Ternyata, kau sudah datang rupanya."
"Maaf, kau harus melihat pemandangan ini, nona cantik."
"Tutup mulutmu, brengsek."