Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 146


"Mommy. Kemanakah engkau akan membawa kami wahai, mommy yang agung,?" Nathan yang sudah merasa lelah itu terus saja berceloteh.


Membuat Arthur merasa jenuh dengan tingkah konyol sepupu lacknat nya itu 


"Wahai, Nathan. Si pria culun Casanova, bisakah dirimu itu diam? Atau perlukah diriku membungkam mulut ember seribu bocor mu itu.?"


"Apakah, kau tahu  sepupu sipit ku, kalau diri ini dan hati ini sudah lelah. Dan saat ini diriku hanya membutuhkan pelukan dari bidadari ku yang bermata empat ini." Nathan narik Jenny kedalam pelukannya dan menyerukan wajahnya pada leher Jenny.


"Mommy. Bisakah Keponakan tampan ini pulang terlebih dahulu.?" Nathan masih melanjutkan drama menyedihkannya.


"JHONATAN! Teriak mommy menggelegar di terowongan rahasia itu.


"Yes, mom."


"Diam. Dan jangan bicara lagi, oke.!" Titah sang mommy ratu.


Nathan mengangguk patuh dibalik ceruk Leher kekasihnya.


"Baby? Aku lapar," bisik Nathan.


"Lapar? Jenny menghentikan langkahnya dan menatap wajah menyedihkan pria yang sedang bermanja-manja padanya itu.


"Hum! Gumamnya dengan anggukkan lemah.


"Sabar, pria culun ku.!?


"Baby!? Rengek Nathan kembali.


"Shut! Diamlah, cup." Jenny mengecup sekilas bibir pria culunnya yang memiliki tingkat kecerewetan yang akikih.


"Oh baby, aku menginginkannya lagi." 


"No!


"Baby!?


"Tidak sekarang, honey."


"OH Tuhan, hatiku berbunga-bunga dan perutku terasa berkupu-kupu." 


"Dasar, mesum."


"Ayo, cepatlah.!"


Jenny akhirnya menarik, pria culunnya itu untuk melanjutkan mengikuti langkah yang lainnya.


*


*


*


"Tahanan?" Lirih Kim. 


Mereka merasa terkejut saat berada di paling dalam terowongan. Di sana terdapat sebuah tahanan bawah tanah. Dan juga terdapat banyak tulang belulang manusia di dalam sel tersebut.


Mereka juga disambut aroma menyengat dari bangkai manusia yang membusuk disana.


Perasaan Kim dan Larry mulai gelisa dan berdebar-debar. Kaki mereka bahkan sangat berat untuk melangkah lebih dalam lagi. 


Genggaman tangannya makin menguat di lengan Arthur. Wajah pun berubah tegang dan pias.


"Kau baik-baik saja, okusan.?" Tanya Arthur dengan nada khawatir.


Kim berusaha mengangguk lemah dan menampilkan senyum terpaksa.


"Kau, tidak sedang baik-baik saja, okusan.!" Ujar Arthur yang menghentikan langkahnya. Ia membingkai wajah Kim dan menatapnya lekat.


"Tidak! Sebaiknya kita menyusul yang lain."


"Ta, …."


"Ayolah, aku baik-baik saja."


Arthur terpaksa mengikuti keinginan sang istri. Ia merangkul pundak istrinya lembut dan penuh kehati-hatian.


"Wajahmu pucat, okusan." Pekik Arthur.


"Aku, tidak apa-apa, sayang.!" Elak Kim.


"Mommy, daddy.!" Pekik seorang pria dari arah paling dalam tahanan tersebut.


Kim membeku dan bergeming di tempatnya. Ia hafal betul suara pekikan seseorang di dalam sana. Dengan dada berdebar kencang dan tubuh menegang di sertai gemetar Kim melangkah untuk mengobati rasa penasarannya.


Arthur menuntut istrinya itu, untuk melangkah kearah suara raungan dan isakan menyedihkan dari Larry.


*


*


*


"Mommy, daddy.!" Lirih Kim dan tubuhnya merosot kelantai, saat melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak.


"Mommy, daddy.!" Panggil Kim dan ia merangkak mendekati tahanan tersebut, yang terdapat sepasang suami-istri yang dalam keadaan menyedihkan.


"Okusan," tegur Arthur saat melihat sang istri terisak pilu sambil merangkak mendekati tralis tahanan tersebut.


"Okusan, jangan seperti ini." Ujar Arthur yang tidak sanggup melihat sang istri dalam keadaan seperti sekarang.


"Mommy, daddy.!" Panggil Larry kepada sepasang suami-istri itu yang hanya terdiam dengan tatapan kosong. 


"Mommy, daddy.!" Teriak Larry dengan histeris.


"Daddy, mommy." Lirih Kim yang berada di dekat kakaknya. 


Kim dan Larry menangis dan terisak memanggil kedua orang tua mereka.


Dada mereka terasa tertimpa sebuah batu besar dan tertusuk ribuan belati. Sesak dan sakit itu yang kini Kim rasakan. Melihat keadaan kedua orang tua mereka dalam keadaan yang begitu menyedihkan dan memilukan. Kedua kaki, mommy dan Daddy mereka di pasung. Dan tangan mereka terikat di sisi ranjang besi yang sudah tidak layak pakai.


Kim menangis sambil memukuli dadanya yang terasa sakit dan sesak. Ia bahkan memukuli tralis besi tahanan. 


"Daddy, mommy. Ini aku Kim." Lirih Kim dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mereka.


"Buka! Pinta Kim dan memandangi Arthur yang juga ikut menangis.


"Mommy Gabriela. Buka pintunya, aku mohon." Pinta Kim dan Larry sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Mommy! Geram Arthur.


Mommy Gabriela yang juga merasakan kesedihannya tidak akan sanggup melihat keadaan sahabatnya itu.


Mommy Gabriela menghapus air matanya dan ia mengangguk kepada Haruka.


"Baik nyonya." Sahut Haruka.


Haruka lantas membuka kunci tahanan sel tersebut.


"mommy, daddy.!"


"mommy, daddy. ini aku, kimby dan kakak."