
"Hg." Suara lenguhaan itu terdengar lembut di telinga Arthur. saat dia kini sedang , asyik-asyiknya menyeesap salah satu gunung kembar rasa mochi, milik sang istri yang kini berada di bawah kuasanya.
Arthur menyesaap bergantian benda, yang menggantung indah di depan wajahnya.
Menyesaap, menyilatii, bahkan mengigit kecil si pucuk gunung mochi yang berwarna pink merekah.
"Hah." Kembali Indra pendengaran pria itu, disuguhkan suara yang menambah imun-nya semakin menggila.
Kim membawa tangan sang suami kearah inti tubuhnya. Tentu saja pria itu menghentikan sejenak kegiatan yang menyenangkan itu.
"Ada apa." Tanyanya dengan nada serak dan berat. Pria itu menatap tangannya yang kini menutup inti tubuh sang istri.
"Tidak." Jawab Kim lirih.
"Apakah ini sakit.?" Tanya Arthur dan menjenguk sang gua ajaib.
Kim hanya bisa mengigit bibir bawahnya, saat tanpa sadar suaminya itu malah mendekatkan wajahnya kearah sang gua ajaib. Pria itu bahkan menelisik sarang benda ajaibnya, sapa tau gua ajaib itu sedang lecet akibat hantaman benda ajaib yang begitu wow. … besar dan panjangnya.
"Tidak lecet, tapi kenapa jadi becek.?" Gumam Arthur pas di depan sang gua ajaib. Yang sukses membaut Kim, meringis. Bukan meringis sakit, tapi meringis saat gua ajaibnya di terpa hembusan nafas hangat sang suami.
"Ada apa? Apa ini sakit.?" Tanya Arthur, sambil membelai bahkan menekan-nekan pusat inti istrinya itu, yang lagi-lagi membuat Kim, memekik.
"Hg." Eraang Kim.
"Hei, kau kenapa.?" Tanya lagi, tanpa sadar satu jarinya menusuk kedalam gua ajaib. Yang kali ini membaut Kim mendesaah panjang.
"Katakan, ada apa.?" Serunya panik mendengar desaahan tertahan Kim, yang mirip-mirip meringis gitu.
"Hah." Ok kali ini desaahan Kim menjadi menggila. Ketika sang suami oon yang minta di tabok ini, tanpa sadar malah melakukan senam jari, keluar masuk di dalam gua ajaib sang istri.
Arthur mendekati wajah istrinya tanpa melepaskan jari telunjuknya di dalam gua ajaib, kim.
Kim tidak menghiraukan wajah bodoh, suaminya. Ia langsung saja menarik tengkuk sang suami dan menabrakkan bibir mereka. Kim menahan jari sang suami saat pria itu ingin mencabutnya.
Mereka kini, kembali saling melumuut dan menyesaap dengan sangat panas dan menggairahkan. Kim mengertakkan jari suaminya keluar masuk, dan Arthur pun melakukannya, seperti yang diajarkan sang istri. Kim melempaskan tautan bibir mereka dan meletakkan wajah suaminya di salah satu gunung mochi-nya.
Jadilah Arthur begitu liar di ronde kedua ini. Pria itu bermain-main diatas gunung sang istri dan di bawah jarinya yang sedang mengobok-obok sang gua yang penuh kenikmataan.
Kim hanya mampu mendeesah dan meleenguh, saat permainan sang suami sudah tidak bisa di kendalikan. Dia hanya mampu menarik kasar rambut suaminya, bahkan wanita itu mencakar punggung kokoh sang pria yang sedang berjuang demi sang keadilan yang kini sudah menjulang tinggi bagaikan tiang bendera, untuk bertempur sampai puncak pelepasan.
"Hah." Sudah kesekian kalinya Kim mengeluarkan suara yang menambah imun suaminya agar lebih mahir dalam bercocok tanam di ladang gersang.
"Cepatlah, kita mulai pada intinya." Pinta Kim dengan deru nafas yang bercampur aduk menjadi satu, itulah yang dinamakan nafas gairaah dan hasraat.
Arthur mengangkuk patuh. Diapun sudah siap memposisikan, sang benda ajaib tepat di depan lubang sang gua ajaib.
Kim membuka lebar kedua kakinya, dengan kedua tangannya yang berada di ceruk leher suaminya.
"Kau, siap." Ujar Arthur, yang kini memiliki semangat juang yang sangat besar.
"Hm, masuklah. Aku sudah tidak kuat." Sahut Kim dengan suara lirihan.
Arthur tidak menjawab, dia kini sudah memposisikan benda ajaibnya dengan gagahnya di depan sang lawan.
"Cepatlah." Rengek Kim. Yang sudah menanti tidak sabarannya.
"Hei, cepatlah." Ujar Kim, frustasi.
Kim menatap suaminya yang kini hanya bisa bergeming di tempatnya dengan wajah binggung.
"Ada apa.?" Tanya Kim sambil setengah berbaring.
Arthur tidak menjawab dia hanya melirik snag benda ajaib.
"Kenapa.?" Tanya Kim geram.
"Benda ajaibnya mundur dan tumbang." Cicit Arthur yang menatap sedih pada benda ajaib berubah bentuk. Yang tadinya dengan, gagahnya siapa bertarung hingga sang cebong bertaburan.
Kini berubah bentuk menjadi layu, lemes, kusut, bagaikan adonan yang gagal alis bantat.
"Dia, tertidur." Lirih Arthur.
"Hah." Kim membeo.
"Lihatlah." Ujar Arthur dan memperlihatkan benda ajaibnya yang kini gagal berjuang.
"Astaga. Oh, Tuhan." Ujar Kim lemes dan mengusap wajahnya.
"Maaf, mungkin aku terlalu gugup."
"Kenapa, kau gugup."
"Entah. Aku juga tidak mengerti."
"Kemarilah dan berbaringlah.!"
"Untuk membangun si benda ajaib milikmu."
"Apa, bisa."
"Bisa."
"Bagaimana caranya.?"
"Makanya cepatlah berbaring.!"
Arthur pun dengan patuh menuruti perintah sang istri, berbaring di samping istrinya.
Kim dengan segera, memposisikan wajahnya di depan benda ajaib suaminya.
"Apa yang akan kau lakukan.?" Arthur menyengit kaget saat tangan istrinya menyentuh bahkan membelai sang penjuang keadilan Demi kemakmuran lahang gersang sang istri.
Kim tidak menyahuti ucapan suaminya, dia malah memasukkan benda kenyal panjang itu kedalam mulutnya. Kim memaju mundurkan wajahnya di sana. Dia juga menjilatii benda tanpa bertulang itu, yang bisa berubah bentuk kapan saja.
Arthur hanya bisa menahan nafasnya sesaat dan memejamkan mata. Wajahnya kini menengadah keatas menikmaatii permainaan sang istri di atas benda ajaibnya yang kini mulai berubah mejadi gagah Kembali.
"Hg." Degusan berat keluar dari mulutnya. Ketika sang, istri makin menjadi di atas benda yang kini siap untuk berjuang kembali.
Kim melempaskan benda itu, saat di rasanya sudah ok, untuk di ajak bercocok tanam.
"Kita mulai.?" Tanya Kim dengan nafas ngos-ngosan.
Arthur hanya bisa mengangguk patuh, sambil mengatur nafasnya juga.
Kim kembali merebahkan tubuhnya dan bersiap untuk menerima kehadiran sang benda ajaib.
Arthur yang sudah paham pun kembali memposisikan sang penjuang. Arthur kembali mendekati gua ajaib itu dan mempersiapkan sang benda ajaib di atas pintu gua yang berwarna pink cerah itu.
"Glek." Arthur meneguk air ludahnya kasar.
"Masukkan cepat." Pinta Kim.
Arthur pun mulai sedikit demi sedikit lama-lama menjadi enak. Memasukkan benda ajaibnya.
"Hg." Lenguhan Meraka berdua saat Kim mendorong kasar bokoong sang suami kasar, agar sang benda ajaib itu masuk dengan sempurnanya kedalam gua ajaib yang menggoda.
Mereka berdua terdiam, sejenak saling menatap dengan kening yang menyatu juga. Sampai-sampai deru nafas hangat mereka menderpa wajah masing-masing keduanya.
"Bergeraklah." Bisik Kim, ditengah cumbuan bibir mereka.
Arthur pun mulai bergerak. Yang pertama-tama, pria itu menggeesek pelan. Kedua maju mundur, dengan gerakan pelan dan ketiga, gerakan keluar masuk yang kini makin menjadi hentaakannya.
"Hah." Desaah Kim, ketika suaminya mulai menghentaak lebih cepat dan kuat.
Arthur yang kembali memiliki imun untuk berjuang itupun, mempompa dengan semangat gua ajaib istrinya, yang kini mulai kebanjiran.
Eraang dan desahaan mereka berdua kini, saling bersahut-sahutan dengan nada suara yang mengelegar di seluruh penjuru kamar mereka.
Bunyi penyatuaan mereka kembali terdengar dan kali ini sangat nyaring, di tambah suara ranjang yang terdengar menambah irama musik percintaan panass mereka, bahkan saking hebohnya, nakes pun ikut bergoyang-goyang, yang menyebabkan lampu itu bergetar dan bergeser.
Arthur memommpa dan menghentaak dengan semangatnya dan penuh gaiirah, dia bahkan sudah lihai soal, sosor- menyosor. Kecup-mengecup, gigit-mengigit, jilat- menjilat.
"Hah, aku mau sampai." Serak Kim.
"Tunggu. aku belum, Dikit lagi, yah dikit lagi, yah dikit lagi, ok." Bersama. Adeh kayak kang parkir ajah.
Tidak beberapa lama terdengar raungann panjang dari mereka yang mengelegar di seluruh kamar, bahkan lampu tidur pun hingga terjatuh, saking hebohnya si Arthur sedikit oon ini, bercocok tanam.
"Hg," leguhaan terakhir Arthur saat kecebong terakhirnya sudah memasuki tempat barunya.
Arthur mencabut sang benda ajaib yang kini terlihat kelelehan itu. Bisa di lihat dari bentuk dan warnanya yang berubah mengkilat.
Arthur merebahkan tubuh tingginya di samping istrinya yang masih kelelahan. Pria itu menarik tubuh tanpa helai istrinya kedalam pelukannya.
Pria itu mengecup kening sang istri yang, masih terlihat, ada sisa-sisa keringat hasil kerjasama mereka dalam bercocok tanam. Arthur menutupi tubuh mereka dengan selimut .
"Selamat malam." Bisik Arthur dan di akhiri kecupan sayang di kening Kim.
"Selamat malam juga." Balas Kim dan mengeratkan pelukannya di pinggang sang suami dan menyerukan kepalanya di dada lebar nan bidang suaminya.
Mereka kini tertidur karena kelelahan dengan aktivitas luar binasa mereka yang sangat menyenangkan dan bikin nagih.
Ok, gais sepertinya si Arthur yang oon-nya astaghfirullah, nauzubillah minta di tabok. Sudah mulai nagih gais dan pengen lagi.
semoga saja benda ajaibnya nggak gugur sebelum berjuang 🤣🤣,
Banyak-banyak terimakasih untuk kalian semua.
Lope lope lope pokoknya buat kalian☺️☺️☺️❤️❤️❤️❤️