
Kini mereka berempat sudah berada diatas sebuah tebing yang tidak terlalu jauh dari lokasi target musuh. mereka memantau pergerakan musuh mereka dari atas tebing, sambil bersembunyi di balik batu besar.
Markas para pembunuh bayaran itu memang tersembunyi di balik tebing-tebing.
Arthur dan Kim bersembunyi di balik pohon dan mengunakan teropong super canggih buatan Jepang yang dapat memantau pergerakan musuh mereka sekecil apapun.
Sementara Natan dan jenny sibuk memeriksa senjata mereka masing-masing. Jenny hanya menggunakan beberapa belati saja dan juga dua samurai yang kini terselip di belakangnya.
Natan yang kini sibuk mengisi senjatanya yang berukuran kecil dan sedang itu. Pria bermata empat itu melirik jenny yang menelisik benda tajam di tangannya.
"Kenapa dirimu lebih menyukai samurai dari pada senjata.?" Tanya pria bermata empat itu penasaran.
"Karena aku tidak tertarik." Jawab jenny pendek.
"Jadi kau lebih tertarik dengan benda tajam.?"
"Hm," gumam Jenny.
"Padahal senjata lebih penantang dan memuaskan," celetuk Natan.
"Apalagi senjata miliki ku," cicit pria itu pelan.
"Apa yang kau katakan.?" Ujar Jenny.
"Tidak ada." Sela Natan.
"Aku tidak bisa menggunakan senjata api, lirih Jenny.
"Oh yah." Sentak Natan.
"Hum. Aku hanya bisa menguasai benda tajam."
"Itu juga keren."
"Tapi aku ingin belajar memakai senjata, seperti wanita datar itu." Bisik Jenny dan melirik kearah Kim dan Arthur.
Natan hanya terdiam sambil menikmati hembusan nafas hangat Jenny yang menimpa wajahnya.
"Hei, kau kenapa diam."
"T-tidak apa-apa."
"Aku bisa mengajarimu.?"
"Benarkah.!"
"Hum, mengajari mu senjata lain juga aku bisa," ujar Natan dengan wajah mesumnya.
"Senjata apa.?" Tanya Jenny dengan polosnya.
"Senjata yang terbanyak di dunia dan terbaik di dunia.?" Ucap Natan lagi.
"Benarkah.?"
"Hum. Senjata yang bisa membuat lawan menjerit nikmat dan juga kesakitan."
"Nikmat.?" Jenny membeo.
Natan tersenyum penuh arti saat mengetahui kalau wanita dingin nan imut ini sangatlah polos.
"Apa kau memilikinya.?" Tanya Jenny dengan wajah penasaran, tapi sialnya itu sangat mengemaskan buat si Natan yang memiliki gelar Casanova mesum and culun.
"Punya, besar dan kuat. Sekali tembakan aku yakin bisa membuat perutmu membesar dalam beberapa bulan.?" Ujar Natan dan tersenyum penuh arti.
"Apa hubungannya senjata dan perut membesar.?"
"Karena senjata ku lain daripada yang lain."
"Benarkah! Apa aku bisa melihatnya.?"
"Kau serius ingin melihatnya.?"
"Hum." Sahut Jenny dengan anggukkan.
"Baiklah, buka lebar-lebar mata indahnya mu di balik benda bulat ini, aku akan memperlihatkan mu senjata dengan tinggi dan besar diatas rata-rata." Cerotos Natan.
"Oke, aku siap." Jawab Jenny polos.
"Oh God, ternyata dia sangatlah polos." Batin Natan.
"Cepatlah, aku sudah tidak sabar."
"Oh Tuhan, aku bisa gila. Mana dia memang sudah bangun." Batin Natan sambil melirik senjatanya di balik kain celana.
Jenny mengikuti arah pandang Natan dan dia menatap lekat sesuatu yang menonjol di bawah sana. Jenny yang penasaran pun ingin menyentuh benda itu.
"Apa ini senjatanya.?" Sela jenny mengejutkan Natan dari pantasi liarnya.
Natan membolakan matanya saat jenny menegok senjatanya dengan lekat dan ingin menyentuhnya.
"A-apa yang ingin kau lakukan.?" Tanya Natan gugup.
"Menyentuh senjata mu." Jawab Jenny sambil melirik kearah bawah.
Natan pun salah tingkah dengan kepolosan wanita bermata empat ini. Niat hati ingin mengerjai wanita ini, tapi kini dirinya harua deg-degan menghadapi tingkah polos jenny.
Jenny pun mengarahkan tangan mungilnya kearah senjata Natan. Sedangkan pria itu hanya bisa menutup matanya dan terdiam.
"JANGAN.!" Teriak Natan yang menghentikan tangan Jenny yang kini mengantung di udara.
"Kenapa.?"
"Jangan menyentuhnya, itu berbahaya dan haram."
"Berbahaya.?"
"Iya."
"Berbahaya bagaimana.?"
"Pokoknya berbahaya dan aku takut kau akan terpesona melihat senjata ku."
"Maka perlihatkan padaku."
"Tidak. Dan tidak." Natan pun meninggalkan jenny dengan wajah penasaran dan binggung.
"Astaga, ini yang dinamakan senjata makan senjata." Gerutu Natan, melihat senjatanya ikut berdiri seakan ingin ikut berperang malam ini.
"Kau kenapa.?" Tanya Arthur.
"Bukan urusanmu." Ketus Natan dan mengambil teropong yang ditangan Arthur.
"Sepertinya, kita harus bergerak sekarang."
"Hum. Sepertinya mereka sudah mulai lengah," ujar Natan dan memberikan teropong itu kepada Arthur.
"Baiklah, kita bersiap."
"Bersiaplah, kita serang mereka sekarang," perintah Natan pada para anak buahnya yang sedang bersembunyi melalui, Earpiece yang terpasang di telinga mereka masing-masing.
"Apa kalian siap.?" Seru Arthur sebagai ketua mereka.
"Siap." Jawab ketiganya bersamaan.
"Ayo."
Arthur mulai memimpin, penyerangan mereka kepada para musuh, di ikuti para anak buah mereka yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka mengendap-endap diantara bebatuan, mereka kini sudah berada di dekat sebuah rumah kayu yang sudah usang itu. Arthur dan Kim bersembunyi di balik pohon Pinus.
Sedangkan jenny dan Natan bersembunyi di balik mobil yang terparkir disana.
Arthur menatap Natan dan mengedikkan kepalanya kearah musuh yang sedang bersenang-senang.
Natan mengangkuk, dia pun melangkah lebih dari dekat kearah musuh di ikuti jenny di belakangnya.
"Kenapa kau mengikuti ku." Bisik Natan frustasi.
"Kitakan satu tim, jadi aku mengikuti mu." Jawab jenny.
"Astaga." Pekik Natan tanpa sadar.
Membuat para musuh tersadar oleh kehadiran mereka.
Arthur dan Kim hanya mencebikkan bibir mereka melihat tingkah konyol Natan dan jenny.
"Siapa disana." Teriak para pria yang berjaga di pintu masuk markas musuh.
Segera saja Natan menarik Jenny dan membawanya bersembunyi di balik pohon.
Tanpa sadar posisi mereka begitu sangat intim. Dimana tubuh mereka saling menempel.
Jenny mendongak bersamaan juga Natan menundukkan wajahnya. Terjadilah saling tatap menatap antara empat pasang mata itu.
Oh, jodoh yang sangat serasi dan kompak, sama-sama mempunyai mata empat.
Natan hanya pokus pada bibir mungil Jenny yang berwarna pink merekah, sementara jenny seakan terhipnotis manik biru terang Natan.
Mereka masih betah saling mengagumi dalam diam dan saling tatap menatap. Kini hayalan mereka sedang berlarian di bawah pohon-pohon dan saling tersenyum malu sembari diiringi oleh musik syahdu.
Hayalan indah mereka terjeda saat sebuah belati melayang di udara tepat di samping mereka dan tak lama kemudian seorang pria jatuh di bawah kaki keduanya dengan belati menembus kepala pria tersebut.
Natan dan jenny terkejut dan mereka secara bersamaan menoleh asal suara decakan.
"Ck! Tidak tahu malu, bermesraan diarea musuh." Cibir Arthur.
"Hei, … siapa kalian." Teriak seseorang pria dengan tubuh di penuhi tato.
Kim tanpa banyak basa-basi, segera melayangkan samurai yang ada ditangannya kearah pria tersebut.
"Srett." Satu kali sebatan di dada pria itu langsung terkapar di tanah.
"Wow." Seru Natan tanpa suara.
"Hei, kalian." Ujar musuh yang lain dan kini mereka berlari kearah Arthur dan gengnya.
*
*
*
Kini mereka sudah saling berhadapan dengan tatapan mematikan mereka masing-masing.
Arthur kini berada di depan para anak buahnya, yang sudah siap dengan senjata mereka semua.
Sementara di pihak lawan, mereka juga tidak ingin kalah. Jumlah mereka begitu banyak, tapi tidak membuat jiwa berdarah dingin Arthur dan Kim memudar. Malahan pasangan ini begitu semangat dan bersorak dan hati. Pasangan ini hanya menampilkan senyum devil mereka.
Yang mana membuat para lawan geram, akan sikap sombong pasangan suami-istri ini.
"Cih, sombong." Decih salah satu musuh mereka, melihat tingkah santai pasangan ini.
Sebuah tepuk tangan mengalihkan perhatian mereka semua, suara tepuk tangan yang datang dari balik pintu rumah yang terbuat dari kayu itu.
Sesosok pria parubaya datang kepada mereka dengan gaya pongahnya yang di dampingi oleh beberapa wanita yang memakai pakaian serba hitam.
Kim menyoroti pria itu tajam dan lekat. Tangannya mengepal kuat saat pria parubaya itu makin mendekat padanya. Kini tatapan Kim begitu mematikan menghunus pria tua itu yang masih terlihat bugar. Mungkin pria tua itu seumuran dengan mendiang Daddy-nya.
Dada Kim kita bergemuruh kuat, ketika pria tua itu berada di depan wajahnya. Nafas Kim bahkan kini mulai berat saat melihat seringai jijik pria didepannya itu.
"Aku, sepe, … akhhh," belum selesai pria tua itu berucap, Kim sudah mengarah belati kecil yang ada di tangannya kearah paha pria tua itu dengan gesitnya.
Semua orang di buat tercengang oleh gerakan tak terbaca Kim.
"Akhh, teriak pria tua itu kesakitan.
"Bunuh, wanita sialan itu." Perintah pria tua itu kapada para pengawal pribadi mereka.
Dua wanita yang menjadi pengawal pribadi pria tua itupun, menyerang Kim.
Berhati-hatilah, okusan." Pesan Arthur saat mereka siap melawan musuh.
Kim hanya mengangguk patuh dalam diam.
kini mata tajamnya hanya tertuju pada pria tua itu yang kini sedang dilarikan kedalam rumah kay itu.
"bug." Kim memberikan sebuah tendangan kepada musuh wanita tepat di alat vitalnya.
tanpa membuang-buang waktu, Kim mengayunkan samurai di tangannya kearah leher wanita tersebut.
"sret." wanita itupun terjatuh dengan darah yang keluar dari Lehernya.
"dasar wanita, jaaalang." pekik musuh wanita satunya, saat melihat temannya sudah terkapar dengan sangat mudah.
Kim hanya menyerigai devil dan tanpa aba-aba, Kim menyerang wanita itu dengan memberikan sebuah tendangan tepat di perut rata wanita itu. musuh itupun tidak mau kalah, ia kembali menyerang Kim dengan mengarah tinjunya kearah wajah Kim, dengan gerakan gesip Kim dapat menghindari pukulan wanita itu, yang kini lagi-lagi ingin menyerang, Kim dengan tendangannya ke area kepala Kim. lagi-lagi istri Arthur ini dapat mengelak dengan gerakan lincah.
Kim yang jengah bermain-main, diapun mengambil belati di dalam celananya yang memiliki saku banyak itu. Kim memeteng leher wanita tersebut, saat musuhnya itu kembali menyerang Kim dengan sebuah pukulan yang akan di berikan di area dada Kim, tapi Kim mampu menghindarinya dan tanpa babibubebo, Kim menggores leher wanita itu dengan belati kecil di tangannya.
Kim menghempaskan wanita itu di tanah.
Dengan sebuah senyuman miring mengerikan.
Kim meraih samurai miliknya yang tergeletak di tanah dan dia menuju pintu rumah kayu itu dalam keadaan yang begitu mengerikan.