
"Oh, Tuhan. Ternyata anak nyonya Gabriela, sangatlah tampan dan manis. Apa kau tidak melihat wajah mengemaskannya? Oh, Tuhan dia sangat manis." Jenny yang baru memasuki kamar mereka langsung heboh, setelah keluar dari ruangan kerja nyonya Gabriela. Jenny begitu kagum dengan wajah tampan nan lembut Arthur. Bukan itu saja yang membuat wanita itu kagum, tapi sikap lemah lembut dan manis Arthur.
"Kau, sangat beruntung kali ini, Kim." Heboh wanita berkacamata itu.
"Beruntung kenapa.?" Tanya Kim tidak acuh.
"Beruntung, karena mendapatkan anak nyonya, Gabriela." Sahut jenny.
"Ck. Kalau begitu kau saja yang menikahinya." Decak Kim malas.
"Aku, mau. Tapi nyonya Gabriela, memilihmu. Coba nyonya Gabriela memilihku, ahk, betapa beruntungnya diriku mendapatkan pria semanis dan selembut tuan muda Arthur." Ujar jenny, dengan wajah yang berbinar.
"Kau, terlalu berlebihan." Cebik Kim, kesal.
"Sepertinya, dia sangat tertarik padamu.?"
"Bukankah, itu sudah biasa. Setiap pria yang melihat ku akan langsung tertarik.?" Sarkas Kim sombong.
"Cih, sombong." Decih jenny.
Kim,hanya mengangkat pundaknya dan mendekati jendela, memandangi air kolam renang yang begitu mengodanya untuk berenang.
Kim berputar dan mendekati pintu kamar, tanpa menghiraukan tatapan selidik jenny.
"Kau mau kemana, Kim." Tanya wanita berkacamata itu, yang melihat Kim membuka pintu.
"Kim, kau mau kemana." Teriak gadis itu saat panggilannya tidak mendapatkan sahutan dari Kim.
"Kim."
"Dasar, wanita aneh." Gerutu jenny.
Sedangkan, Kim menyusuri setiap kamar dan lorong di mansion itu untuk membawanya kearah kolam renang tadi.
Kim tersenyum saat menemukan kolam renang tersebut dan segera melepaskan semua kain yang melekat di tubuh indahnya, yang menyisakan hanya dalamnya saja. Kim menyemburkan dirinya kedalam kolam renang. Seketika seluruh tubuhnya terasa tertusuk oleh air kolam yang begitu dingin.
Kim berenang kesana-kemari, untuk menghilangkan pikirannya yang sedang bercabang kemana-mana.
Dia yang harus terpaksa menerima perjodohan yang di tawarkan padanya, demi perusahaan yang kini di kuasai oleh Keanu si brengsek itu.
Tidak ada jalan lain selain menerima perjodohan ini. Dan besok ia harus menyandang gelar seorang istri lagi, dimana dirinya baru menyandang gelar janda kembang.
Kim menenggelam seluruh tubuhnya ke dasar kolam, untuk menghilangkan rasa ragu yang tiba-tiba melanda dirinya.
1 detik, 2 detik, 3 detik , dan sepuluh detik kemudian. " Byur." Seorang pria tinggi dengan punggungnya lebar, melompat masuk kedalam kolam yang tingginya sampai dada orang dewasa.
Arthur yang tidak sengaja melihat Kim yang melintas di ruangan kerjanya yang tidak tertutup. Pria itu lantas mengikuti Kim secara diam-diam dan diapun bersembunyi di salah satu pilar yang tidak jauh dari kolam renang.
Arthur kembali di buat tertekun, membeku dan bergeming di tempatnya, saat melihat Kim melepaskan pakaian yang ia kenakan dan menyisakan dalaman saja di tubuh indahnya.
Arthur lupa caranya untuk mengatur nafasnya saat Kim berdiri dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
Bahkan benda ajaib Arthur bangkit dengan tidak sopannya, saat melihat keindahan tubuh Kim.
Arthur bagaikan seorang penguntit mesum yang sedang menikmati keindahan tubuh seorang wanita.
"Mom, maafkan aku karena sudah lancang mengintip seorang wanita dan tidak bisa menjaga kesucian mata Arthur." Gumam pria itu.
"Kali ini saja mom, aku berbuat seperti ini. Arthur janji tidak akan lagi." Batinnya lagi, sambil menelan ludahnya kasar saat Kim menungging dengan posisi yang menggoda.
"Oh, Tuhan. Buatlah mataku tertutup." Batin pria itu gusar.
Arthur masih menyaksikan dan menikmati keindahan tubuh indah itu kesana-kemari dengan lincahnya.
Jangkung seksi Arthur bahkan sejak tadi naik turun. Debaran jantungnya pun kini sudah bertalu-talu dengan ritme cepat.
"Bukankah dia calon istri ku? Jadi tidak apakan aku mengintip calon istri ku sendiri.?" Batinnya bertanya.
"Ternyata mom benar dia wanita yang begitu cantik. Tapi kenapa mantan suaminya begitu bodoh meninggalkan wanita secantik dia." Monolog pria itu lagi.
Detik berikutnya pria itu terkejut saat Kim tidak muncul setelah menenggelam tubuhnya kedalam dasar kolom.
Pria itupun mengambil tindakan setelah, menghitung Beberapa detik dan calon istrinya belum juga muncul. Segera saja pria tampan itu melempaskan atasnya dan meluncur kedalam kolom.
Arthur berenang kedasar kolam dan mendekati Kim yang sedang terdiam dengan mata terpejam. Segera saja pria tampan itu mendekat kearah Kim. Setelah berada di dekat calon istrinya itu, Arthur langsung meraih tubuh Kim dan membawanya keatas.
Arthur menyapu wajahnya yang basah dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Ia memandangi wajah Kim yang mata indahnya masih terpejam tapi nafasnya terdengar ngos-ngosan seperti dirinya. Arthur menarik nafas lega dan pandangannya tidak berpaling sedikitpun dari wajah Kim yang hanya di batasin hidung mancung mereka.
Kini nafas hangat mereka saling beradu dan menerpa wajah mereka. Tangan kekar Arthur kini melekat erat di pinggang ramping Kim, dan tangan kirinya kini tanpa sadar menyingkirkan anak rambut yan menutupi mata Kim. Sedangkan Kim secara refleks memeluk pundak lebar Arthur.
Kim membuka mata bulatnya dan memperlihatkan manik indahnya saat sapuan nafas hangat menerpa wajahnya. Arthur kembali terdiam saat melihat manik indah Kim yang berkilau saat di timpa cahaya di sekitar pinggiran kolam renang. Arthur seakan terbawa arus keindahan manik biru kehijau-hijauan milik Kim. Pandangan mereka beradu Sejenak, sebelum tubuh Arthur kembali menegang saat merasakan sesuatu, dua benda kenyal nan padat menjadi jarak antara mereka.
Dada pria itu terlihat naik-turun begitu cepat. Debaran jantungnya berdetak kencang.
"Oh, Tuhan. Benda apa itu." Batinnya dan menurunkan pandangannya secara berlahan dan mata sipit nya melebar seketika.
"Mommy, mataku ternodai lagi."
"Apa yang kau lakukan, Mr." Suara lembut bak melodi indah menyapa Indra pendengaran pria berwajah campuran itu.
Arthur menatap sejenak Kim dan dia kembali di Landa kegugupan saat mendapatkan tatapan tajam dari Kim.
"A-aku, hanya menolong mu, nona." Sahut Arthur gugup. Yang masih dalam posisi seperti semula.
"Menolongku.?" Tanya Kim, melihat pria bermanik coklat terang itu.
Dengan polosnya Arthur mengangkuk pelan.
"Why."
"Bukankah kau tadi tenggelam, nona? Jadi aku menolongmu."
"Tenggelam.?"
"Iya,"
"Astaga."
"Kenapa.?"
"Mr, pikir aku tidak bisa berenang.?"
"Hu'um."
"Oh, Tuhan."
"Apa, kau tidak apa-apa, nona.?"
"Tidak."
"Ini, sudah malam. Kenapa kau malah main air.?"
"Siapa yang main air.?"
"Anda nona."
"Astaga. Aku tidak akan berada di sini kalau tidak bisa berenang, Mr."
"Jadi, kau bisa berenang.?"
"Tapi, kenapa anda berenang malam-malam.?"
"Bukan urusan anda."
"Tapi, anda bisa sakit, nona."
Kim tidak menimpali lagi pertanyaan, Arthur. Dia hanya menatap pria didepannya dalam diam dan dengan raut datar.
Sebaliknya, dengan keadaan pria itu yang kini gugup dan salah tingkah.
"Apa yang kalian lakukan.?"