
Seorang wanita, tengah menyelinap di setiap lorong remang di sel tahanan. Wanita itu mencoba membuat, sesuatu rencana untuk mengundang keributan yang akan melancarkan aksinya untuk melari di dari penjara.
Wanita itu meminta izin kepada sang penjaga sel tahanan untuk ke toilet, saat semua para tahanan sedang makan malam.
Lotte, kini sudah berada di area dapur. Wanita itu mendekati gas tabung kompor dan memotong selang kompor gas itu. Lotte tersenyum saat mendengar suara gas keluar dari selang yang ia potong. Lotte segera menyalakan korek api yang ia temukan di dapur sel tahanan itu.
"Semoga berhasil." Sinis Lotte dan wanita itu melemparkan korek api itu kearah tabung gas yang sedang mengeluarkan gas yang cukup banyak.
Lotte pun sekarang keluar dari dapur dan bersembunyi di balik dinding.
"Bom."
Gas itupun meledak dan menimbulkan kebakaran hebat di sekitar dapur. Asap kebakaran pun memenuhi setiap lorong sel tahanan itu.
Membuat, seluruh penghuni tahanan menjadi panik dan ketakutan. Semua alarm sel itupun berbunyi.
Seluruh petugas tahanan, berlarian untuk mengamankan para tahanan yang sedang berlarian untuk menyelamatkan diri mereka.
Lotte tersenyum puas saat rencananya berhasil. Iapun berlari saat penjagaan sedang lengah, Lotte berlari kearah belakang tahanan, di mana biasa aktifitas keluar masuk di lakukan oleh petugas kebersihan.
Lotte sudah lama menyusuri semua, seluk beluk sel tahanan untuk melancarkan aksi melarikan diri. Dia juga sudah memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan di area belakang tahanan. Dan seperti yang di rencanakan wanita itu, keadaan dalam penjara semakin kacau, saat api mulai menyebar di segala penjuru tahanan. Yang mengakibatkan penjagaan di sekitar penjara menjadi lengah.
Lotte yang melihat mobil kebersihan yang setiap malam keluar masuk itu, segera mendekati mobil tersebut dan naik keatas bagian belakang mobil kebersihan yang memang bagian belakangnya terbuka. Lotte bersembunyi di sela-sela tumpukan sampah yang begitu bau. Sepenuh tenaga Lotte, menahan rasa mual yang tiba-tiba datang.
"Tahan, Lotte. Ini demi kebebasan mu, maka bersabarlah." Gumam Lotte sambil menutup hidungnya dengan kedua tangannya.
"Ini semua gara-gara, Mogan, sialan itu." Geram Lotte.
"Awas, kau Mogan sialan." Geram wanita itu lagi.
"Oh, Tuhan. Ini bau sekali."
"Kenapa mereka lama sekali." Gerutu Lotte.
"Oh Tuhan. Kenapa aku begitu menderita."
"Dasar nyumuk sialan."
Lotte terus saja mengerutu, sambil menutup hidungnya. Dia merasa kesal, karena sejak tadi mobil yang ia pakai bersembunyi belum juga pergi dari area tahanan.
Tidak lama kemudian, Indra pendengaran Lotte menangkap suara beberapa birang sedang bercakap-cakap di dekat mobil yang Lotte gunakan bersembunyi.
Lotte pun tersenyum lega. Tapi senyuman berubah panik saat mendengar percakapan dua orang yang sedang bercakap.
"Untung, saja semua petugas bertidak cepat, memadamkan api. kalau tidak, sudah dipastikan seluruh sel akan terbakar habis dan juga para tahanan akan mati terbakar. Pungkas seorang pria barubaya.
"Kau, benar paman. Untuk para petugas cepat bertindak." Sahut pria yang masih muda.
"Sepertinya, kebakaran ini di sengaja.!? Cerca parubaya itu.
"Sepertinya begitu."
"Mungkin salah satu tahanan, merencanakan semua ini."
"Bisa jadi,!"
"Tapi, sepertinya aada tahanan yang melarikan diri paman."
"Maksudmu."
"Lihatlah. Para petugas berlarian kesana-kemari, dan lihat itu. Petugas melakukan pemeriksaan pada setiap kendaraan yang keluar."
"Kau benar. Sudahlah, lebih baik kita pergi sekarang."
"Ayo paman. Malam ini aku juga memiliki janji temu dengan kekasihku."
"Dasar, anak muda."
Merekapun menaiki mobil kebersihan itu dan menyalakan mesin mobil dan berjalan menuju pintu gerbang keluar masuk.
Lotte yang berada di belakang semakin gugup dan ketakutan. Wajahnya kini sudah berubah memucat dan berkeringat dingin. Lotte menyusupkan tubuhnya kedalam plastik sampah besar, ia bersembunyi di sana saat, mobil kebersihan itu berhenti di pos penjagaan. Lotte mendengar deru langkah sepatu mengelilingi mobil kebersihan itu. Lotte hanya bisa terdiam dan merapal doa, ketika beberapa petugas memeriksa keadaan di atas tumpukan sampah yang bau. Lotte meringkuk lebih kedalam saat, senter terang sang petugas menelisik plastik sampah yang Lotte gunakan untuk bersembunyi.
Petugas itu menajamkan penglihatannya, dan pria itupun bermaksud mendekati plastik sampah itu dan ingin memeriksanya. Lotte hanya bisa menahan nafasnya dan berusaha tidak berteriak ketika binatang menjijikkan berada di telapak kakinya.
Lotte mengigit kuat lidahnya, saat mendengar deru langkah sepatu petugas yang semakin mendekat padanya.
Sedangkan sang pertugas semakin penasaran, pada plastik sampah yang terlihat berbeda. Pria sudah berada di dekat Lotte bersembunyi. Petugas itu sudah bersiap untuk membuka plastik itu, tapi niatnya terhenti saat salah satu temannya mengejutkan pria itu.
"Sepertinya dia tidak berada di sini." Ujar petugas lainnya.
"Ayo, kita cari di tempat lain."
Pria itupun kebingungan dan ragu-ragu, antara memeriksa plastik itu atau mengikuti temannya.
"Cepatlah. Wanita itu tidak mungkin bersembunyi disini. Dia wanita terhormat, jadi tidak mungkin dia bersembunyi di tempat kotor ini." Pungkas petugas satunya.
"Ah, kau benar." Ujar pria yang penasaran dengan plastik itu.
"Iya, juga mana mungkin wanita berkelas itu mau bersembunyi di tempat bau dan kotor ini." Gumam pria itu dan turun dari mobil kebersihan tersebut.
Lotte pun menyingkirkan binatang menjijikkan yang hinggap di kakinya. Wanita itu mencoba mengatur nafasnya. Diapun mengeluarkan kepalanya dan menghirup rakus udara yang menghembus menerpa wajahnya.
Mobil kebersihan itu sudah mulai melaju meninggalkan tahan tersebut. Lotte segera memasukkan kembali kepalanya kedalam plastik saat lampu sorot tahan menerpa mobil kebersihan itu.
Lotte keluar dari plastik sampah ketika dia merasa mobil tersebut melaju dengan cepat, itu berarti dirinya sudah aman. Lotte dengan segera keluar dari plastik sampah dan mengintip keuar melalui celah body mobil yang terbuka.
Lotte tersenyum puas dan lega, karena rencananya berhasil. Sekarang tujuannya hanya satu yaitu ke mansion Malvin suaminya. Tapi sebelum itu dia harus kembali ke apartemen dulu untuk mengganti pakaiannya. Lotte akan menunggu sampai apartemennya aman dari pemeriksaan petugas kepolisian.
"Malvin, sayang, tunggu aku." Gumam Lotte tersenyum bahagia.
🌹
🌹
🌹
Sementara di dalam kamar, Kim masih setia bergerak naik-turun di atas tubuh suaminya.
Ia bahkan bergerak semakin menggila dan tak terkontrol. Kim merasa sedang berciinta dengan boneka s*x saat pria di bawahnya hanya terdiam sambil merem melek dengan mulut yang terbuka.
Kim membawa telapak tangan suaminya, menuju sang gunung mochi-nya. Arthur pun menuruti kemauan istrinya itu, ia meremass dan meermat lembut gunung mochi kesayangannya. Pria itu juga memainkan puncak mochi itu yang sudah mencuat keras.
Kim menarik tangan suaminya, hingga kini posisi Arthur setengah berbaring. Kim membawa gunung mochi-nya kearah Indra pengecap sang suami. Ia meminta suaminya untuk memainkan gunung mochi-nya dengan Indra pengecap Arthur.
Pria itupun dengan senang hati, merasai gunung kembar mochi-nya dengan semangat dan rakus.
Arthur bahkan menyesapp gunung itu bergantian dan sesekali menjiitii puncak berwarna pink itu, dia juga kadang mengigitinnnya pelan. Membuat Kim semakin menggila dan bergeraak dengan ceepat.
Kim mendorong tubuh kekar suaminya dan melumutt sebentar bibir tipis suaminya itu. Kim menghentikan hentaakannya sejenak, ia menatap netra coklat sang suami.
"Bergeraklah." Pinta Kim dengan nafas yang memburu.
"A-apa.? Sahut Arthur gugup dengan wajah yang merah merona dan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.
"Bergeraklah." Pinta Kim lagi, sambil menggeseekkan milik mereka dengan lamban.
"Hg." Eraang Arthur.
Arthur pun mengerakkan tubuhnya, seperti ulat kepanasan.
"Astaga." Ujar Kim sambil menepuk keningnya.
"Bukan bergerak seperti itu. Tapi bergerak naik turun, maju mundur terus keluar masuk. Seperti ini." Ujar Kim, sambil mengeraakkan piinggangnya naik turun.
"Ikuti aku." Perintah Kim.
Arthur pun mengikuti gerakan sang istri, melakukan gerakan naik turun dan keuar masuk. Kadang mereka melakukan gerakan, maju mundur.
Gerakan demi gerakan kini makin menjadi dan semakin jadi, itu terbukti saat terdengar bunyi penyatuaan mereka dan diiringi bunyi ranjang yang gerusuk-gerusuk.
Mereka juga saling menyentuh, meeremat, menyesaap bahkan saling mengigit.
"Hg." Deesah Kim, saat puncak dari kegiatan mereka akan tiba. Dan dia juga merasakan milik suaminya semakin mengembang dan berdenyut.
"Hahh." Dengus Arthur, dengan raut wajah yang semakin memerah dan tubuh mereka berkeringat hingga mengkilat.
"Tunggu." Bisik Arthur menghentikan hentaakannya dengan dada yang naik turun.
"Ada apa." Sahut Kim, dengan suara parau dan ngos-ngosan.
"Cepatlah, aku sudah ingin keluar." Ujar Kim tidak sabaran.
"Sebentar, aku ingin buang air kecil dulu." Sahut Arthur, yang membuat Kim menghentikan geseekan nya.
Kim menatap suaminya dengan alis menukik tajam.
"Turunlah dulu sebentar, aku ingin buang air kecil dulu."
"Kumohon turunlah, aku sudah tidak tahan," hg."
"Kumohon, aku tidak tahan." Teriak Arthur, saat sesuatu tiba-tiba akan meledak di bagian ujung benda ajaibnya.
"Cepat akau sudah tidak tahan." Teriaknya lagi.
"Keluarkan saja didalam." Balas Kim, yang semakin melaju gerakan naik turun dan maju mundur bahkan gesek- mengeesek pun semakin menggila.
"Hentikan, aku sudah tidak tahan." Teriak Arthur diikut nada deesahan dan eerangan.
Kim tidak menghiraukan peringatan sang suami, ia tahu apa yang di maksud suaminya itu. Kim malah menahan kuat telapak tangan suaminya dan membungkam mulut suaminya dengan cumbuaan.
"Bersamaa." Ujar Kim.
"Awas, dia keluaarr." Teriak Arthur mengelegar.
"Akhh." Eerangan pasangan itu secara bersamaan.
puncak dari kegiatan cocok tanam pun sudah sampai pada tujuan mereka yaitu, membibitan lahang gersang. dan meraka pun jatuh tergulai lemas.