
"Maka, mari kita membangun kembali hubungan kita, Kim dan kita mulai dari awal kembali. berikan aku satu kesempatan sekali lagi, Kim sayang, sekali lagi, ... Kim." dengan mata penuh harap Malvin memohon kepada Kim.
"Apa, alasanmu kau ingin mendapatkan kesempatan dariku,?" tanya Kim sambil menatap Malvin tanpa ekspresi sedikitpun.
"Karena, aku sangat mencintaimu, Kim. dan aku juga yakin kalau kau masih sangat mencintaiku. jadi mari kita memperbaiki semuanya dan aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan ku lagi." ujar Malvin tegas, dengan wajah penuh keyakinan.
"hehehe." Kim terkekeh miris.
"prang." semua orang yang ada di sana kembali terkejut, saat tiba-tiba Kim meraih guci dan menghembuskannya kelantai.
"Apa, kau bisa memperbaiki dan menyatukan kembali guci yang sudah hancur itu, Malvin.!" ujar Kim dengan nada suara tertahan.
Malvin terhenyak dan bergeming di tempatnya. pria itu menatap guci dan Kim bergantian.
mana mungkin dia bisa memperbaiki kembali guci yang hancur lebur itu.
"Apa, kau bisa.?" ujar Kim kembali dengan senyum penuh luka.
"Aku, tidak mungkin bisa menyatukan guci itu kembali, sayang. tapi aku bisa memberikanmu guci yang lebih indah dan mahal seperti guci kesayangan mu, ini. bukankah guci ini dariku, Kim.?" jawab Malvin, dengan perasaan lega karena ada sedikit harapan buatnya untuk mendapatkan kim-nya kembali.
"hahaha." tiba-tiba Kim tertawa hambar sampai kepalanya mendongak keatas.
membuat tubuh orang-orang di sana tiba-tiba merinding dan bergedik ngeri.
Lotte yang sejak tadi terdiam, menyimak perdebatan Kim dan Malvin, dengan gaya sombong dan tidak tau dirinya.
"Jadi, kau menyamakan aku dengan sebuah barang, Malvin sayang,? asal kau tau aku bukan seperti jaalang-jaalangmu di luar sana dan juga bukan seperti wanita di dekat mu itu,?" oh, iya kenapa jaalang satumu ini ada disini.?" raut wajah binggung dibuat-buat Kim, sukses membuat Malvin terpaku di tempatnya. sedangkan Lotte mengeram atas perkataan Kim yang menyebutnya jaalang.
"Dasar, Kim sialan." geram Lotte dalam hati.
"Ayolah, Malvin katakan padaku, apa selama ini kau menganggap aku barang,? dan kata juga kenapa wanita jaalang ini ada di mansion ku.?"
sekali lagi pertanyaan Kim membuat Malvin terdiam di tempatnya. tengkorokannya tiba-tiba kering dan lidahnya teras berat untuk mengucapkan satu katapun.
"Aku, istri Malvin Abraham sekarang, Kim." Lotte yang geram itu, menyela ucapan Kim. dia harus mengatakan statusnya kepada Kim, kalau dia juga adalah nyonya Abraham juga sekarang.
Malvin, menatap Lotte tajam dan di beralih kepada Kim dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayolah, sayang katakan padanya kalau kita, sudah menikah dan sudah menghabiskan malam pertama kita kemarin dengan sangat panas dan menggairahkan." sambung Lotte dengan tidak tahu malunya.
"DIAMLAH, LOTTE.!!! bentak Malvin geram.
"why, Malvin. apa yang harus kita tutupi, biarkan Kim tau kalau kita sudah men, ... " ucapan Lotte terhenti di udara saat Malvin kembali membentaknya.
"AKU, BILANG DIAMLAH LOTTE, ... DIAMLAH.!! teriak Malvin, membuat telinga Kim berdengung.
"Ck, bisakah kalian meninggalkan mansionku ini, dan selesaikan urusan kalian di tempat lain, terserah kalian ingin menyelesaikan masalah kalian dengan cara apa. yang terpenting tidak disini. kalian membuat telinga ku sakit." cibir Kim muak.
"Tidak, Kim aku tidak akan pergi kemana-mana." tolak Malvin cepat.
"Cih, dasar pria brengsek tidak tau malu." batin Jenny jengah.
"Kim, dengarkan aku." Malvin mendekati Kim dan menghilangkan jarang diantara mereka.
manik biru terang Malvin menatap manik biru kehijau-hijauan Kim dengan teduh. Malvin mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah cantik istrinya itu. tapi dengan segera Kim menghindar sehingga tangan Malvin terhenti di udara.
"Kimberly," lirihnya sendu.
"Izinkan, aku menyentuhmu, sayang." pinta pria itu, yang sekarang manik birunya sudah berkaca-kaca.
Kim hanya terdiam dan memalingkan wajah dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Sucikan, tangan mu dulu, maka aku akan membiarkanmu menyentuh ku, Malvin Abraham." sarkas Kim penuh ketegasan.