Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 39


"sucikan, tanganmu dulu maka aku akan membiarkan mu menyentuh ku, Malvin Abraham." sarkas Kim dengan nada penuh ketegasannya. jangan lupa raut wajah datarnya.


Malvin membulatkan manik birunya, pria itu begitu tertegun akan ucapan sang istri. " sucikan,?" lirih Malvin tanpa suara. pria itu memundurkan tubuh lemasnya kebelakang.


netra biru terang itu kembali menatap netra indah Kim, menatapnya dengan linangan air mata penyesalan. dia sangat mengharapkan Kim akan luluh dengan keadaannya sekarang. tapi pria itu harus menelan kekecewaan saat netta birunya menatap raut wajah biasa nan datar Kim.


"Apakah, sudah tidak ada lagi kesempatan buatku, Kim.?" lirihnya dengan perasaan sesak.


Malvin, yang melihat, Kim yang hanya terdiam kembali terisak di kedua telapak tangannya yang sedang ia gunakan untuk menutupi wajah menyedihkannya itu.


"Katakan, dengan cara apa aku harus mensucikan tangan ku.?" tanyanya, sambil menghapus air mata yang terus membanjiri wajah maskulinnya itu.


"Katakan, Kim. dengan cara apa aku harus mensucikan tanganku.!" geram Malvin, saat tidak mendapatkan jawaban dari Kim.


"Dengan, darahmu." jawab Kim, dingin dan datar.


jawaban sarkas Kim, sukses membuat mulut semua orang di ruangan itu menganga dan bola mata mereka melotot tidak percaya.


Sedangkan Malvin, hanya bisa bergeming. dan menatap Kim tidak percaya.


"Kau, serius Kim.?" tanya Malvin


"Yah, aku serius. apa kau sanggup.?" jawab Kim enteng.


"Baiklah, aku akan melakukannya. apapun akan aku lakukan demi mendapatkan kesempatan kedua darimu, Kim." Malvin menarik nafas sebelum melakukan sesuatu yang dapat menyakinkan, Kim kalau dirinya berhak mendapatkan kesempatan kedua.


Kim hanya mengedikkan bahunya acuh, saat Jenny memberikan tatapan tajam kepadanya.


Sedangkan Lotte masih mencerna semua ucapan Malvin. detik berikutnya Lotte pun terpekik, saat melihat Malvin mendekati dan meraih pecahan guci yang masih berhamburan dilantai.


"Apa, yang kau lakukan, Malvin.!! pekik Lotte, dan mencekal tangan Malvin yang mencoba melukai nadi-nya sendiri.


Malvin yang sudah bertekad untuk mengambil hati Kim kembali, rela melakukan apapun. termaksud melukai dirinya sendiri. Malvin berjongkok di depan pecahan guci itu. dia meraih pecahan guci yang terlihat runcing bagian ujungnya.


Malvin pun mendekatkan pecah guci itu di pergelangan tangan yang terdapat pembuluh darah. Malvin siap untuk melukai pembuluh darahnya itu, tapi sebuah tangan halus mencegal tangan yang terdapat pecahan runcing itu dan pekikan Lotte membuatnya gagal.


Tak, satu orangpun yang mencoba menghalangi Malvin berbuat nekat, kecuali Lotte. Kim, Jenny dan paman Leo, hanya menatap tingkah Malvin biasa saja.


"Lepas," Malvin menyentakkan tangan Lotte dan mendorong kasar Lotte. " aku, akan melakukan apapun demi, Kim dan aku tidak perduli dengan semua harta dan kekayaan ku, yang aku inginkan adalah Kim." sentak Malvin, yang tidak terima Lotte mengacaukan niatnya.


"Jangan, gila, … Malvin,!!! Akhh." teriak kesakitan Lotte saat benda runcing itu mengenai pergelangan tangannya.


Malvin tidak memperdulikan teriakan kesakitan Lotte, dia hanya ingin melanjutkan niatnya untuk mendapatkan kesempatan kedua dari, Kim.


Malvin, kembali mengarahkan pecahan runcing itu dan dia menatap wajah datar Kim tanpa ekspresi kepadanya.


Malvin meletakkan pecahan guci itu kembali ke nadi-nya dan bersiap melukai pergelangan tangan kekarnya.


"Jangan, Malvin Abraham.!! pekik Lotte yang berusaha menghentikan Malvin kembali. tapi usah Lotte gagal karena pecahan guci itu sudah melukai pergelangan tangan Malvin dan mengenai nadi-nya.


"MALVIN …!! teriak Lotte, saat melihat cairan merah segar keluar dari pergelangan tangan Malvin begitu banyak.


"Kau, gila, … Malvin.!!! Akhh.!" Lotte yang terkejut hanya bisa berteriak dan memaki Malvin.


Sementara, Kim hanya menjadi penonton yang sedang menikmati tayangan menegangkan di depan matanya. Kim tidak ada niat sedikitpun untuk membantu Malvin yang sudah mulai memucat itu.


Kim bahkan meninggalkan ruangan itu tanpa peduli makian Lotte terhadapnya. dia hanya tersenyum miring, menoleh sekilas kepada Lotte dan Malvin yang sudah lemas tak berdaya itu.


"Kimberly, kau wanita gila.!!! teriak Lotte.


"Tolong, … siapapun tolong, … antarkan Malvin ke rumah sakit."


"Dasar, kalian pelayan sialan, dimana hati kalian, hah.!"


"Cepatlah, tolong tuan kalian.!"


"Hei, … pelayan sialan." Lotte memaki habis para pelayan di mansion itu, yang hanya diam bergeming di tempatnya. mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah perintah dari nona mereka, agar tidak membantu tuan Malvin.


"Setidaknya, panggilkan dokter.!!! pekik Lotte, dia begitu panik saat begitu banyak darah yang keluar dari pergelangan tangan Malvin dan kesadaran pria itu sudah hilang. wajahnya mulai memucat dan tubuhnya mulai dingin. darahnya pun sudah membanjiri lantai.


"MALVIN.!! teriak Lotte.