
Arthur keluar dari kamar mandi dengan mimik wajah cemberut, ditekuk, kesal, tapi wajah itu membuat Kim gemes dan segera mendekati suaminya.
"Wajahmu begitu menggemaskan, sayang." Ujar Kim sambil memainkan wajah tampan suaminya hingga berubah merah.
"Sampai kapan aku puasa, okusan," rengek Arthur dengan mimik wajah sedih, gelisah dan menderita, karena nasib benda ajaibnya akan dalam masalah.
"1 Minggu," sahut Kim.
"What! Pekik Arthur dengan ekspresi mata sipitnya dipaksa melebar.
"Apa tidak bisa dikurangi waktunya, okusan." Tawar Arthur dengan wajah memohon. ( Ya elah si kang Mochi, minyak kale di tawar.)
"Tidak." Jawab Kim sambil menggeleng.
Mereka kini sedang bersiap tidur. Dan Kim kini sudah berada di dalam pelukan suaminya.
"Kalau dikurangi 4 hari, bagaimana? Jadi aku hanya puasa selama 3 hari saja." Tawar si pria sipit minta di ciipok.
"Tidak bisa, sayang." Jawaban Kim membuat wajah tampan itu menciut.
"Jadi, bagaimana nasib benda ajaibku.?"
"Biarkan, dia istirahat selama seminggu. Agar bibit unggul mu tertampung banyak. Sapa tau karena kesabaran dan kegigihan mu dalam berpuasa, kita akan mempunyai anak kembar Lima." Sahut Kim seadanya. Ia hanya ingin mencoba menghibur sang suami.
"Kalau dia bangun kayak gini? aku harus apa.?" Tanya Arthur polos. Kim mengikuti arah pandang sang suami. Yang memperlihatkan benda ajaib suaminya yang sudah menegang dan berdiri kokoh tapi bukan pilar Mansion Kim. Tapi sebuah pilar untuk memperbanyak keturunan.
"Apa sakit? Kini giliran Kim yang bertanya dengan wajah lugu.
Arthur menggeleng dengan wajah tersiksa.
"Terus!
"Tidak sakit. Tapi rasanya tidak nyaman, rasanya berdenyut ngilu, seperti kepala yang terserang vertigo."
"Wow. Ternyata bukan kepala atas saja, yang terserang penyakit. Ternyata kepala bawah juga bisa terserang vertigo."
"Okusan! Daripada di terkena stroke."
"Stroke. Berarti dia tidak akan bangun lagi." Dan tawa Kim pun menggelegar di kamar mereka. Menertawakan perbincangan konyol keduanya
"Okusan.! Rengek Arthur yang kini menyusupkan kepalanya di dada Kim.
"Kalau begitu, aku minta ini saja. Boleh kan, Okusan.?"
"Hum!
Kim dengan berat hati membiarkan suaminya itu menjadi bayi besar yang menyusu dengan rakusnya. Daripada ia mendengar rengekan suaminya. Ia juga tidak tega melihat wajah tersiksa suaminya yang manis dan polos ini.
Kim menundukkan, melihat suaminya yang sudah terlelap dengan pucuk gunung kembarnya yang masih berada di mulut sang suami. Kim menjauhkan wajah Arthur dari dadanya dan meletakkan kepala sang suami di bantal yang ada di sampingnya. Kim mengecup kening, kedua mata suaminya, hidung, kedua pipi Arthur dan terakhir bibir tipis sang suami yang begitu manis.
Setelah mengucapkan selamat tidur, Kim memiring tubuh suaminya dan memeluknya erat.
*
*
*
Sementara di kediaman nyonya Carol.
Seorang pria yang tampak masih bugar dan gagah di umurnya yang terbilang sudah melebihi setengah abad. Tuan Lincol, menangisi kepergian putrinya yang begitu tragis. Ia tidak akan pernah terima dan akan menuntut balasan, setimpal pada orang yang sudah membuatnya kehilangan Istri dan putri satu-satunya, Clara. Kepergian sang anak membuat tuan Lincol merasa kehilangan teramat sangat.
Putri manjanya yang pemberani dan memiliki watak licik sepertinya. Lincol berjanji akan membuat keturunan Hugo menyesal. Karena sudah mengusik ketenangan seorang Lincol yang notabene nya seorang ketua gangster Yamukade.
Mata tua itu kini menajam dan urat-urat tangannya, terlihat merah akibat menahan amarah yang membuat dadanya sesak. Gigi pria berusia lebih dari setengah abad itupun tergeluk ngeri.
"Patrick.!! Teriaknya memanggil sang bawahan setianya.
"Saya, tuan." Sahut bawahan tuan Lincol.
"Apa yang kau dapatkan.?" Tanyanya kepada sang bawahan dengan tubuh bak pegulat.
"Ternyata dia menantu dari mendiang tuan, Cedrik, tuan."
"Cedrik?
"Iya, tuan. Suami dari nyonya Gabriel Kato, klen dari mafia Kato, tuan,"
"Jadi mereka, masih melanjutkan hubungan kedua pihak,?
"Sepertinya begitu, tuan.!"
"Hem? Sudah kau menyiapkan semuanya.?
"Sudah, tuan."
"Berikan kepada mereka, besok.!"
"Siap, tuan."
"Keluarlah!
Bawahan tuan Lincol terlihat membungkukkan badannya. Dan keluar meninggalkan bos nya itu.
Tuan Lincol terlihat menerawang ke depan, dengan tatapan yang begitu tajam. Tatapannya bahkan mampu membuat orang merinding. Tuan Lincol ingin bermain-main dengan para keponakannya itu. Sebelum dirinya menghabisi nyawa, orang-orang yang membuat dirinya kehilangan sang putri.