
🌹Tujuh bulan kemudian 🌹
Pagi ini suasana di halaman belakang kediaman keluarga Kato, terlihat berbeda. Dimana halaman luas itu kini, sudah dihiasi oleh dekorasi super mewah dan memukau.
Dengan detail-detail romantis namun nampak terlihat menggemaskan. Itu karena dekorasi yang dihiasi pull oleh warna pink dan biru.
Semak atau pohon hias lebat yang di bentuk menyurupai beberapahewan, meja tamu dengan piring di beri aksesoris berbagai bentuk binatang, balon yang bertaburan dan juga bergantung di atas berwarna pink dan biru, pilar bunga berwarna pink dan biru yang berbentuk melengkung dan memanjang. Serta bunga-bunga bergantungan di atas yang berwarna pink pula dan juga lampu-lampu neon yang bertuliskan, BABY'S KATO DAN HUGO.
Tamu akan terpukau dengan tampilan dekorasi dalam rangka perayakan tujuh bulan kehamilan Kim di Mansion Kato.
Yah hari ini adalah perayaan baby shower kim. Yang dirayakan semeriah mungkin, itu dikarenakan kandungan Kim atau lebih tepatnya calon Baby's Kim adalah cucu pertama di dua keluarga yang sangat terpandang di kota masing-masing.
Suara percakapan, canda dan tawa serta suara kebisingan anak-anak, terdengar meriah di halaman Kato. Mereka sedang menunggu sang calon mommy dan Daddy yang masih berada di kamar.
Para tamu tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya dengan dekorasi acara baby shower cucu pertama keluarga Kato. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil gambar mereka dengan memamerkan penampakan dekorasi mewah itu.
"Nathan.! Mommy Gabriela memanggil sang keponakan yang terlihat sedang melayani kemanjaan seorang istri yang sedang hamil muda.
"Iya, mom," sahut Nathan sambil menuntun Istrinya dengan sangat hati-hati.
"Kau, tidak apa-apa, sayang.?" Mommy Gabriela bertanya kepada Jenny, sambil mengusap perut Jenny yang sudah terlihat menonjol.
"Iya, mom. Aku cuma sering lapar," adu Jenny dengan mulut yang berisi makanan cake.
Nathan senantiasa membersihkan mulut istrinya penuh kelembutan.
"Duduklah.!" Perintah mommy.
Dengan patuh Jenny pun duduk di sebelah mommy Gabriela.
"Anak mesum. Panggil sipit kemari." Nathan yang ingin mendudukkan bokongnya di kursi, harus tertahan saat mendengar perintah sang mommy ratu. Dengan patuh Nathan melaksanakan perintah, mommy Gabriela dengan mulutnya yang bersungut-sungut tidak jelas.
"Dasar, pasangan tidak tahu di tempat. Menyusahkan," gerutu Nathan.
Nathan pun sampai di depan kamar, Kim dan Arthur. Dengan perasaan kesal, Nathan mengetuk pintu kamar Arthur dengan kekuatan penuh.
Suara ketukannya mengganggu pasangan yang sedang bermesraan di dalam sana.
"SIPIT. BUKA PINTUNYA." Teriak Nathan.
"SIPIT.!!!!
"SIPIT.!!!
Nathan masih mengetuk pintu kamar Arthur dengan gebrakan kuat dan berteriak nyaring.
"SI, ….! Nada teriak Nathan terhenti saat pintu kamar Arthur terbuka dan memperlihatkan wajah kesal sang pemilik kamar.
"Ck! Nathan berdecak dengan tatapan sinis ke arah sepupunya itu.
"Cepatlah, semua tamu sudah menunggu, pangeran sipit," cetus Nathan dengan mata mendelik ke arah Arthur.
"Hm! Gumam Arthur.
"Cepatlah,!" Sentak Nathan.
"Brakk!!
"SIPIT!!!! Nathan berteriak dengan emosi. Ketika Arthur menutup pintu kamarnya dengan kasar dan mengenai ujung hidung mancung pria itu.
"Dasar, sepupu laknat, sipit," amuk Nathan.
Pria tampan itu pun menjauh dari kamar Arthur dengan mulut kembali bersungut-sungut.
Sedangkan di dalam kamar.
"Nathan kenapa, sayang." Kim yang sedang merapikan penampilannya kembali, bertanya kepada sang suami yang raut wajahnya masih terlihat kesal.
Bagaimana tidak kesal, di kala ia dan benda ajaibnya akan mengarungi lembah gelap harus terjeda oleh teriakan dan amukan sepupu culunnya. Jadilah si benda ajaib kehilangan mood dan keberanian untuk memasuki gua ajaib sang istri.
"Sayang," Kim mendekati suaminya yang bibir tipisnya kini maju tiga cm kedepan.
"Cup! Kim mengecup sekilas bibir merah alami Arthur.
"Nanti, kita lanjutkan, sayang," bujuk Kim, untuk mengembalikan mood suaminya itu.
"Ini, semua gara-gara si culun lacknat itu," dengus Arthur.
"Sudahlah, sekarang bersiaplah. Mommy pasti sudah menunggu kita," ujar Kim.
"Okusan," rengek Arthur.
"Okusan."
"Ayo." Kim menarik tangan suaminya keluar dari kamar. Terlalu lama di kamar ia takut khilaf. Bisa-bisa ia akan luluh pada rengekan suami manjanya ini.
*
*
*
Dengan penuh kelembutan Arthur menuntut sang istri berjalan ke arah taman yang sudah di ramai dengan kedatangan tamu undangan yang sebagian besar dari kalangan pengusaha dan juga sahabat-sahabat mommy Gabriela.
Kim kini berjalan dengan susah payah kearah taman. Hamil dengan lima janin sekaligus, membuat perut Kim terlihat membesar pada ibu hamil pada umumnya. Yang membuat Kim kesusahan dalam berjalan ataupun duduk. Ia akan merasa sesak dan juga mudah lelah.
Tapi ia menjalani masa-masa kehamilannya dengan santai dan bahagia, apalagi suami sipitnya selalu ikut andil dalam pertumbuhan anak-anak mereka.
Arthur juga senantiasa melayani semua kebutuhan dan keinginan istrinya.
Arthur akan menemani Kim begadang apabila sang istri kesusahan tidur atau gelisah, meskipun ia juga lelah oleh aktivitas seharian di perusahaan.
Arthur bahkan memijat atau memasak untuk Kim, ketika Istrinya itu, merasa lelah atau kelaparan.
Arthur akan melayani sang istri dengan sepenuh hati dan penuh kehangatan.
Membuat Kim bertambah cinta kepada suami manjanya itu.
*
*
*
"Hati-hati," bisik Arthur yang membantu sang istri duduk di samping mommy.
Mommy Gabriela pun membantu menantunya itu yang terlihat kesusahan duduk.
"Mommy, daddy," sapa Kim kepada kedua orang tuanya yang duduk di dekat Larry.
"Kakak," sapa Kim juga.
Larry menghampiri sang adik dan mencium kening adiknya itu.
Kim tersenyum sendu kepada Larry, yang terlihat rapuh.
"Kau, baik-baik saja,? Tanya Kim.
"Hm! Gumam Larry dan memeluk adiknya itu.
"Bersabarlah. Semuanya akan baik-baik saja." Kim mengusap-usap punggung belakang Larry, yang tampak rapuh itu.
"Terima Kasih," bisik Larry dan kembali mengecup kening Kim.
"Bersabarlah, dude." Arthur terlihat memberi kekuatan kepada kakak iparnya itu.
"Hm! Sahut Larry dengan gumaman.
"Ayolah, bro. Kau harus melupakannya, ini sudah tiga bulan aku melihatmu seperti ini," seloroh Arthur.
"Aku akan berusaha," sahut Larry.
"Hm, semoga berhasil." Arthur pun menepuk pundak Larry dan melangkah ke arah depan di mana ia dan Kim akan memulai acara intinya.
"Entahlah. Apakah aku bisa melupakannya."
"Ini terlalu sakit buatku," gumam Larry.
Pria itu menolehkan kepalanya, saat tangan lemah sang daddy menggenggam kuat tangannya. Seakan daddy Damian memberikan kekuatan dan dukungan kepada putra satu-satunya itu.
"Daddy, Jangan khawatir. Aku pasti baik-baik saja," ucap Larry sambil memamerkan senyum penuh luka itu kepada daddy Damian.
Sementara mommy Caroline tetap pada keadaannya yang terdiam dan belum ada berubah sedikitpun.
Sementara daddy Damian, keadaannya mulai membaik. Ia bisa merespon dan mendengarkan keluhan anak-anaknya, walaupun ia harus divonis lumpuh. Tapi daddy Damian memiliki semangat untuk sembuh.
"Lebih baik kita ikut bergabung, dad, mom," ajak Larry.
"Tolong antarkan mommy kesana," perintah Larry dengan nada, dingin kepada seorang wanita cantik yang sejak tadi terdiam menyimak obrolan keluarga hangat itu.
"Baiklah!