
"Hufhh!" Suara nafas ngos-ngosan itu, terdengar mengudara di kamar luas dan mewah dengan nuansa maskulin.
Kim meringsut kepelukan suaminya yang masih digenangi keringat hasil, percintaan panas mereka yang ronde ke dua, setelah melakukan ronde pertama di kamar mandi, kembali Arthur merengek meminta penambahan imun lagi. Ia beralasan gara-gara dirinya berpuasa selama tiga hari jadi pria itu meminta ronde tambahan. Ia melupakan kondisi sang Istri yang masih lemah. Tapi Kim sebagai istri yang baik dengan ikhlas memberikan hak suami manjanya itu.
Arthur membalas pelukan sang istri. memberi kecupan hangat dan lama di puncak kepala wanita kesayangannya.
Pria itu menutup tubuh polos mereka dengan selimut berbulu kesukaan istrinya.
"Apa aku membuatmu kelelahan, okusan?" Bisiknya lembut dan diakhiri sebuah kecupan di dahi sang Istri.
"Sedikit! Sahut Kim pelan dengan mata yang terpejam.
"Maaf.! Bisik pria itu lagi dengan perasaan bersalah.
Arthur merasakan istrinya mengangkuk didalam pelukannya. " Aku lepas kendali," maaf." Bisik Arthur. Kembali Arthur merasakan istrinya itu mengangkuk pelan dan di susul nafas teratur dari hidung istrinya dan juga suara dengkuran halus.
Arthur terkekeh saat melihat wajah lelah mengemaskan istri cantiknya itu. Ia mengecup sekali lagi dahi Kim.
"Tidurlah! Bisiknya dan iapun ikut memejamkan mata untuk menyusul sang istri kealam mimpi.
Baru saja Arthur, menyusul istrinya kealam mimpi, sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar.
Arthur bangun dari tidurnya, ia terduduk sebentar, berjalan kearah ruangan ganti, mengambil sebuah kaos putih dan juga bawahan hitam. Setelah memakai pakaiannya Arthur menegok sang istri sebentar dan berjalan kearah pintu. Arthur membuka pintu kamarnya, pria itu mengerut binggung saat pelayan culun berada di balik pintu kamarnya. Arthur memandang gadis itu dingin dan datar.
Sedangkan Clara, begitu terpesona dengan ketampanan seorang Arthur. Ia terlihat keren dan maskulin dengan stelan rumahan sederhana. Wajahnya yang tampan terlihat lebih tampan.
"Ada apa.! Pertanyaan singkat dengan nada dingin itu, membuyarkan lamunan kagum Clara.
"S-saya di utus nyonya Gabriela memanggil anda tuan.?! Jawab Clara gugup.
"Hmm! Sahut Arthur dengan deheman.
"Ada lagi.?" Tanya Arthur dengan alis mengkerut.
"Hanya itu, tuan muda.!?
"Pergilah. Nanti aku dan istriku menyusul."
"Bai, …." Sahutan Clara berhenti ketika Arthur menutup pintu kamarnya tanpa aba-aba.
Clara hanya bisa mendegus kesal. Lagi-lagi dirinya gagal berbicara banyak bersama pria pujaannya.
"Aku harus cepat bertindak." Gumam Clara. Dan meninggalkan depan pintu kamar Arthur dan Kim.
*
*
*
"Ck! Seorang wanita dengan kacamata bulatnya berdecak ke arah seorang pria yang sedang membuka rambut palsunya dan juga melempaskan seluruh aksesoris yang melekat di beberapa anggota tubuhnya.
Pria itu membuka pakaian dengan warna mencolok itu dari tubuhnya, memperlihatkan tubuh kekar dan juga perut sempurna yang terdapat susunan danging keras di sana.
Pria itu menyugar rambut ikal panjangnya kebelakang dan setelah itu menghempaskan tubuh tingginya di sofa tunggal.
"Hah." Pria dengan wajah tampan dan manik mirip Kim itu menghembuskan nafas panjangnya.
"Aku bahagia adikku tampak bahagia dan ceria. Aku merasa senyum dan tawa adikku adalah obat kegundahan dan kesedihan ku." Ujar Larry pelan.
"Apa yang kau lakukan kepada, Keanu Adrian Adam, Larry.?" Tanya Jenny dengan tatapan sulit diartikan.
"Ck! Kau sudah tau rupanya." Sahut Larry dengan di ikuti kekehan.
"Aku sudah muak melihatnya mengejar adikku. Pria itu terlalu menyulitkan Kim adik kecilku. Dan terakhir dia hampir membahayakan Jawa malaikat kecilku.! Imbuhnya panjang kali panjang.
"Apa yang kau lakukan padanya, Larry.?" Tanya Jenny penasaran.
"Seperti aku menghabis para pengecut itu.?"
"Malvin dan Lotte.?"
"Yap!
"Dia tewas dalam keadaan tanpa busana. Jadi katakan apa yang kau lakukan padanya.!"
"Aku menghabisinya dengan kebiasaan dia bermain jaalang, aku hanya mengunakan racun mematikan tanpa terdeteksi."
"Kalian sangatlah berbahaya."
"Aku rasa kau pun sangat berbahaya,"
"Ck! Aku pulang."
"Ingat jaga sikap mu jangan sampai membuat kecurigaan. Apa kau mengerti.!?
"Hm."
"Baiklah, aku pulang."
Jenny meninggalkan Larry sendiri di dalam ruangan tertutup dan tersembunyi. Disinilah Larry lebih bebas mengeluarkan wujud asyli. Wajah tampannya ia tutupi dengan berpenampilan pria aneh menjijikkan. Tidak ada cara lain yang ia lakukan untuk bisa melindungi sang adik.
"Aku rela dihina dan dimaki demi melindungi mu adikku, malaikat kecil ku.!" Ujarnya senduh.
*
*
*
"Kau darimana.?"
"Jennifer Aniston! Kau darimana.? Pekik Kim, saat pertanyaan di tulikan oleh sahabatnya itu.
"Kemarilah! Suruh Jenny.
"Cih! Dasar anak buah lacknat."
Jenny tidak tertarik menimpali cibiran sinis Kim, wanita bermata empat itu menarik tangan Kim dengan tidak sabar.
"Ada apa.?
"Lihat ini.!" Perintah Jenny.
"Ini serius.?
"Hm! Dia ditemukan tewas di atas ranjang apartemen nya."
"Ck. Kasihan sekali.!"
"Dia meninggal dengan cara kebiasaannya!"
"Aku tidak percaya dia memiliki riwayat jantung."
"Hm."
"Aku heran kenapa semua tiba-tiba mati.?
"Mungkin mereka memiliki musuh yang lain.!
"Bisa jadi begitu."
"Sekarang bersiaplah kita akan kembali, ke Paris."
"Kembali?
"Kita harus mengurus beberapa pekerjaan disana. Ini penting. Sangat penting, jadi jangan banyak permintaan dan alasan.
"Tapi, suamiku.!?
"Kau bisa membawanya. Aku rasa iya juga tidak akan bisa jauh dari mu."
"Itu karena dia suamiku. Dan aku harus membawanya, terlalu banyak bibit pelakor yang menyukai suami tampan ku itu."
"Terserah!
"Kau mau kemana?
"Istirahat,"
"Dasar wanita menyebalkan."
"Pria yang malang!" Sinis Kim menatap Poto seorang pria yang sedang tak bernyawa dalam keadaan tanpa busana.
*
*
*
"prang."
Kim terkejut saat mendengar suara keributan berasal dari ruangan kerja suaminya di lantai dua.
Kim berdiri dan berlari ke arah tangga dan menapaki setiap anak tangga dengan tergesa.
Kim dapat mendengar teriakkan histeris dari seorang wanita dan juga teriakan suaminya.
Kim bergeming saat melihat keadaan ruangan kerja suaminya yang berantakan. kim memicingkan matanya kearah wanita yang sedang meringsut di sudut ruangan. ada mommy dan Jenny di sana. manik Kim menatap suaminya yang seperti kebinggungan.
"sayang.! panggil Kim lembut.
"Okusan! sahut Arthur, segera saja pria itu memeluk istrinya.
"Aku tidak melakukannya, okusan. sumpah." adu Arthur.
"percayalah padaku, okusan. aku tidak menyentuhnya." aduhnya lagi.
"tatap aku.!" pinta Kim.
Arthur pun menatap mata lembut istrinya. Kim dapat melihat kecemasan di dalam manik coklat suaminya.
"apa yang terjadi.?" tanya Kim dengan sang suami di dalam pelukannya.
"T-tuan muda sudah melecehkan ku, nona.!" sahut Clara cepat.
Kim menatap suaminya yang mengelek lesu. Kim tersenyum dan kembali membawa suaminya kedalam pelukan nya.
"apa kau yakin.?" tanya Kim lagi.
"iya nona."
"apa yang kau lakukan di ruangan kerja suami ku.?"
"Aku hanya mengantar kan kopi pesan tuan nona.!"
"kopi? sejak kapan suami ku ini menyukai kopi.!?
sahutan Kim membuat Clara bergeming dan gugup."
"apa yang merobek pakaian mu suamiku juga yang melakukan nya.?"
"iya nona. tuan muda memaksa saya, ...."
"bohong. itu tidak benar, okusan, mommy."
mommy Gabriela hany terdiam sejak tadi dengan wajah datar dan dingin.
"sejak kapan suamiku bisa melakukan kebrutalan seperti itu? membuka kancing baju saja dia tidak bisa.!?
"satu lagi. sejak kapan suamiku memiliki kuku panjang dan membuat luka goresan di lengan mu.?
"Kau ingin menjebak suamiku?!
"tidak nona. aku tidak berbohong, tuan muda mencoba melecehkan ku."
"apa kau tau, yang ada suamiku lah, yang di lecehkan oleh wanita murahan seperti mu."
"apa maksud anda, nona.!
"tutup mulutmu!!