
Suasana mendadak sunyi, saat tatapan dua insan manusia itu kembali saling beradu satu sama lain. Hanya deru nafas mereka yang terdengar dan juga suara para jangkrik yang menjadi melodi musik yang mengiringi suasana yang mendadak senyap.
Arthur sudah kesekian kalinya menelan ludahnya kasar, sehingga terlihat jangkung seksinya naik turun. Saat tubuh mereka saling menempel dan mendadak suhu tubuh pria itu panas, padahal air dalam kolam renang tersebut cukup dingin.
Karena terbawa suasana, Arthur memberanikan diri mendekat kearah bibir seksi Kim. Tapi niat pria itu terhenti saat suara lembut membuat suasana romantis itu hilang berganti suasana tegang.
" Apa yang kalian, lakukan.?" Tanya suara lembut yang membuat dua insan itu terkejut dan segera memisahkan diri.
"Kenapa kalian berenang, malam-malam? Cepatlah, berhenti. Mommy menuggu mu di ruang makan. Sentak mommy mengejutkan kedua orang yang kini mulai berenang ketepi kolom.
Mommy meninggalkan mereka berdua dengan hati puas.
"Oh, Tuhan. Mereka pasangan romantis." Gumam mommy pelan.
"Tunggu. Jangan bergerak, tetaplah di tempat mu." Perintah Arthur, ketika dia melihat Kim ingin keluar dari kolam renang.
Pria itu terlebih dahulu keluar dari air kolam renang dan berjalan kearah kursi malas.
Kim menyengit, binggung dengan ucapan Arthur.
"Baiklah dan gunakan ini." Perintah pria itu lagi dan memberikan sebuah baju mandi kepada, Kim.
Ternyata sejak tadi Arthur, mengambilkan Kim handuk mandi dan melarang calon istrinya itu keluar dari kolam renang dalam keadaan terbuka. Dia merasa tidak rela tubuh calon istrinya terekspos di depan umum.
Kim keluar dari air kolam dan menyambar handuk mandi yang di serahkan pria di depannya.
Arthur membaung pandangannya kearah samping saat Kim berada dekat dengannya dalam keadaan terbuka. Percayalah jantung pria itu tidak berhentinya berdebar kencang.
"Terimakasih." Ucap Kim pelan dan segera meninggalkan Arthur yang masih bergeming di pinggir kolam.
Athur memutar tubuhnya dan ikut meninggalkan kolam renang tersebut.
"Jantung." Batin pria itu sambil menyentuh jantungnya sendiri.
*
*
*
Arthur menghempaskannya tubuh tingginya di atas ranjang king size miliknya, setelah selesai membersihkan tubuhnya.
Arthur menatapi langit-langit, kamarnya dengan nafas yang menderu-deru. Pria itu tersenyum tipis ketika ingatannya kembali pada adengan romantisnya bersama Kim barusan.
"Jantung, kenapa begitu debar kencang saat berada di dekatnya.?"
"Oh, Tuhan. Aku bisa gila, bila terus-terusan seperti ini. Dia begitu cantik bila terlihat dari dekat dan matanya begitu indah berkilau." Monolog pria itu sambil tersenyum-senyum.
"Mommy, jantung kenapa." Teriak Arthur.
"Tok, tok, tok."
Arthur menyengit saat mendengar suara ketukan pintu. Pria itu bangkit dna mendekat kearah pintu kamarnya.
"Ada apa.?" Tanyanya kepada salah satu pelayan, ketika pintu kamarnya terbuka.
"Anda di tunggu nyonya, tuan." Jawab pelayan itu.
"Hm." Gumam Arthur.
Pelayan itu masih bergeming di tempatnya dan menatap wajah tampan tuan muda di mansion ia bekerja.
"Pergilah." Suruh Arthur.
"B-baik tuan." Sahut pelayan wanita yang masih muda itu gugup.
Setelah pelayan itu menjauh. Athur keluar dari kamarnya dan menutup kembali pintu kamarnya yang memiliki kunci khusus itu.
Arthur kembali tertekun saat dari jarak jauh dia bisa melihat wanita yang membuat jantungnya berdebar dan membuatnya selalu gugup.
"Selamat malam, mom." Sapa Arthur saat berada di dekat sang mommy.
"Selamat malam juga, sayang." Balas mommy.
"Selamat malam." Balas Kim datar.
"Duduklah, son."
"Baik, mom."
Arthur pun duduk di sisi sebelah kiri, mommy dan Kim dan Jenny duduk di sisi sebelah kanan mommy.
Pandangan Arthur tidka lepas dari wajah, Kim, yang terlihat cantik tanpa polesan make up itu. Dan pandangannya beralih pada bibir sensual Kim yang merekah alami yang sungguh sangat menggoda imannya.
"Kau, mau makan apa, nak.?" Mommy lagi-lagi, menghancurkan hayalan indah sang putra.
"Terserah, mommy saja." Sahut Arthur.
Mommy pun melayani putranya itu. Parubaya itu sudah terbiasa melayani anak manja kesayangannya. Bahkan seringkali mommy masih menyuapi anak semata wayangnya itu, bila sang putra dalam mode manja akut.
Kim memperhatikan semua perlakuan nyonya Gabriela terhadap putranya. Dia tidak menduga nyonya Gabriela begitu memanjakan putranya itu.
"Apakah, aku bisa semanis nyonya, Gabriela memperlakukan putranya." Batin Kim, yang masih menyaksikan perlakuan ibu dan anak itu.
Diapun kembali kepada makanannya yang terhenti saat menyaksikan kelakuan ibu dan anak di hadapannya.
*
*
*
Sementara di negara seberang.
"Bagaimana, apakah aku hamil.?" Lotte dengan tidak sabarannya bertanya pada dokter yang memeriksanya di ruangan kesehatan di area sel tahanan.
Dokter yang memeriksa Lotte berjalan kearah meja dokter di ikuti Lotte di belakangnya.
"Selamat, anda positif hamil, nona." Ucapa dokter khusus di sel itu.
"Dokter, serius.?" Tanya Lotte untuk menyakinkan apa yang ia dengar barusan dari dokter di depannya.
"Iya, nona. Sekarang kehamilan anda sudah memasuki bulan ke lima." Pungkas sang dokter, sambil melihat lapora keluhan Lotte beberapa hari ini dan juga jadwal menstruasi wanita itu.
Lotte tidak dapat berkata apa-apa lagi atas apa yang di ucapkan, sang dokter padanya.
"Aku hamil.?" Batin Lotte.
"Yes, aku hamil." Sorak wanita itu senang.
"Berarti tidak lama lagi aku akan keluar dari sel, sialan ini." Batinnya penuh kesinisan.
"Nona, harus menjaga baik-baik kandungan anda dna jangan terlalu stres dan juga kurangi berpikiran keras, perbanyak istirahat cukup. Ini obat penguat kandungan dan juga vitamin untuk anda." Ujar sang dokter. Dan memberi Lotte sebuah vitamin.
"Terimakasih, dok." Sahut Lotte dengan wajah binar bahagia dan lega.
Lotte pun diantara kembali kesel tahannya. Senyum sejak tadi terukir di wajah lusuh wanita itu.
Lotte duduk di pinggir ranjang Reyok di sel tahanan yang ia tempati. Sambil mengusap-usap perutnya lembut, Lotte terus saja bersorak gembira karena sebentar lagi diriy akan keluar dari sel terkutuk ini.
Lotte bahkan tidak merasa senang akankabar kehamilannya, dia merasa senang karena sebentar lagi dia akan meninggalkan sel busuk ini.
"Yes. Sebentar lagi aku bakalan keluar dari sel terkutuk ini." Gumam wanita itu, dengan nada hina.
"Aku, tidak sabar lagi keluar dari sini, dan bertemu dengan Malvin. Pasti dia akan senang mendengar berita tentang kehamilan ku." Monolog wanita yang kini terlihat lusuh yang tidak terawat.
"Ah, sebentar lagi impianku untuk memiliki, Malvin tercapai. Aku tidak peduli dia cacat atau apa, aku hanya menginginkan, Malvin menjadi milikku." Gumam wanita itu sendirian sambil tersenyum puas.
"Malvin, aku datang untuk membawakan kabar baik, sayang. Tunggu dan sabarlah, sayang. Kita akan bersama-sama untuk melenyapkan wanita gila itu." Ujar Lotte dengan sorotan penuh dendam.
"Kimberly, tunggulah balasan dari kami."
"Akan tiba saatnya kau akan kalah."
"Dasar wanita licik dan kejam."