Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 68


" Hei, … kalian sudah datang.?" Pertanyaan seorang wanita, menyeda acara makan siang Lusi dan Laura. Mereka berdua langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut tuan rumah.


"Duduklah. Kalian santai saja, anggap saja rumah kalian sendiri." Ucap Kim dengan tersenyum.


"Terimakasih, nona. Dan maaf kami tidak menunggu anda untuk makan siang, karena kami sudah kelaparan." Jawab Lusi dengan cengengesan.


"It's ok. Santai saja.!" Balas Kim dan ikut bergabung dengan kedua temannya itu.


"Jenny." Sela jenny saat pandangan dua orang itu mengarah padanya.


" Lusian." Balas gadis ceria itu.


" Laura." Balasnya dengan wajah cuek.


"Salam kenal semua." Ujar jenny ramah.


"Salam kenal juga, kakak." Saut Lusi antusias.


Mereka pun makan siang bersama dengan di selingi canda dan tawa, yang paling dominan adalah si gadis ceria Lusi.


"Bersiaplah, kita akan menghadiri acara makan malam nanti." Perintah Kim, kepada ke tiga wanita yang ada di hadapannya.


Dengan kompak mereka mengangguk kepala mereka patuh, dengan ucapan Kim.


"Lusi, mulai sekarang kau akan ikut ikut casting foto model di models Paris Hugo. Dan nanti Julio akan membimbing mu, jadi menurutlah padanya." Ucap Kim pada gadis imut di depannya.


"Baik, nona." Saut Lusi dengan semangat.


"Laura. Kau akan menjadi bodyguard ku sekarang." Kali ini Kim berkata pada Laura yang hanya menampilkan wajah cueknya.


"Baiklah." Jawabnya cuek.


Mereka pun melanjutkan obrolan dan canda tawa mereka hingga matahari hingga sore hari menyapa mereka.


*


*


*


"Di rumah sakit berbeda"


"Akhh." Teriakan kesakitan terdengar di kamar rawat VVIP yang tak kalah mewahnya dari kamar rawat Malvin.


"Oh, Tuhan. Ini sakit sekali." Keluh pria berwajah Arab Eropa itu, saat burung untanya terasa nyeri dan begitu ngilu.


"Ahkk, sakit. Cepat berikan aku obat untuk menghilangkan rasa sakit ini, "akhh." Teriak Keanu mengema di seluruh kamar rawat itu.


"Awas, kau Kimberly ligh Hugo. Aku akan membalas mu, dan kau sendiri yang akan datang padaku dan naik ke ranjangku." Geram Keanu di sela rasa sakit yang melandanya.


Pria Arab Eropa itu begitu terpukul dengan keadaannya sekarang, meskipun tidak separah malvin, tetap saja pria itu merasa terpukul dengan hasil laporan snag dokter.


Dokter mengatakan, kalau alat reproduksinya mengalami cedera parah, yang mengakibatkan Keanu harus kehilangan kehebatan di atas ranjang dan juga berpengaruh pada tingkat kesuburannya, akibat tendangan keras dan kuat yang di berikan oleh Kim, pada burung onta-nya yang sangat hebat.


Wajahnya pun tak luput dari cedera. Hidung tinggi menjulangnya harus mengalami patah, belum juga kedua rahang kokohnya yang kini harus melakukan pembedahan untuk meratakan kembali rahang dan juga hidungnya.


Jadilah pria Casanova itu harus menghabiskan hari-harinya di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan.


"Sial. Wanita sialan itu menghancurkan wajah tampanku juga." Erangnya lagi.


"Aku, tidak akan melepaskan mu Kimberly. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada kejantananku, yang sekarang harus menderita." Gumamnya dengan nada penuh amarah.


"Austin." Sentaknya.


"Saya, tuan." Saut asisten Austin.


"Apa, sudah kau lakukan yang ku perintahkan.?"


"Sudah, tuan."


"Bagus. Aku ingin dia menerima akibatnya atas kelancangan wanita sialan itu padaku."


"Aku, pastikan wanita itu sendiri yang akan datang padaku dan memohon di hadapanku." Gumam pria itu dengan tatapan menerawang tajam ke depan


"Cari tau semua tentang wanita itu. Aku tidak habis pikir dengan keberaniannya dan juga kesadisannya." Perintah Keanu, untuk mencari tahu tentang latar belakang seorang Kimberly.


Pria itu merasa Kimberly, bukanlah wanita sembarangan, dia yakin di balik seorang Kimberly ada latar belakang seorag penguasa atau dari kalangan klen mafia mungkin.


"Aku, tidak akan mengampuni mu Kimberly."


"Kau, harus menjadi milikku dan mainan ku sayang."


Keanu menyerigai di balik rasa nyeri yang tiba-tiba, datang kembali.


"Pergilah dan segera lakukan rencana kita." Perintah Keanu sambil mendesis.


*


*


*


"Nona, Lotte. Ada yang ingin bertemu denganmu." Seru sang penjaga sel tahanan itu.


Lotte yang sedang merenungi nasibnya itu, tersendat kaget dan ia pun berdiri dari ranjang Reyok itu dan mendekati sang penjaga sel tahanan.


"Ikutlah." Perintah wanita tambung itu.


Lotte pun dengan patuh mengikuti wanita yang memanggilnya tadi. Dari jauh dia sudah melihat wanita berambut pendek sedang menatap dirinya. Dengan tidak sabarannya Lotte berlari kearah Mogan, dengan wajah binar bahagia. Dia berharap Mogan menyampaikan kabar bahagia kali ini.


"Katakan, padaku." Ujar Lotte saat berhadapan dengan Mogan, dengan sebuah kaca menjadi penghalang mereka. Dan telopon masing-masing menempel di telinganya.


"Ck." Decak Mogan malas.


"Mogan." Geram Lotte di balik telepon yang ada di tangannya.


"Sabarlah, sampai tuan, Malvin pulih." Saut Mogan malas dengan mencebikkan mulutnya.


"Jadi, dia masih di rumah sakit.?"


"Bagaimana kabarnya."


"Apa dia baik-baik saja.?!


Rentetan pertanyaan di berikan kepada Mogan, yang hanya bisa diam dengan wajah malasnya.


"Mogan, jawab aku." Pekik Lotte sambil mengarahkan telepon yang di pegangnya ke mulutnya.


"Jangan, teriak, Lotte,!! Aku mendengar mu." Geram Mogan.


"Katakanlah, bagaimana kabar Malvin." Tanyanya dengan wajah tidak sabaran.


"Keadaannya, sangat menyedihkan." Sinis Mogan, dengan wajah cuek.


"A-apa maksud mu." Tanya Lotte kembali.


"Dia harus mengalami bisu permanen dan aku jamin dia tidka akan bisa menikmati para jaalangnya lagi. Alat penjantannya telah." Mogan tidka melanjutkan ucapannya, tapi wanita itu bergaya seperti seorang yang sedang memotong leher binaatang.


"Kau, serius." Pekik Lotte kembali, sehingga mendapatkan teguran dengan wanita yang ada di belakangnya.


"Hm. Jadi bersabarlah hingga pria malang itu pulih dan kita meminta untuk mencabut laporan untukmu."


"Tapi, sampai kapan aku harus bersabar, Mogan."


"Aku, sudah tidak tahan dengan keadaan sel itu, yang begitu bau dan kotor. Dan kau lihat kulitku jadi merah-merah karena gigitan nyamuk dan lihatlah wajahku berubah mengerikan."protes wanita itu yang kini wajahnya di tumbuhi bintik-bintik merah yang lumayan banyak.


"Tunggulah, sebentar lagi. Dan aku harap tuan, Malvin mau membebaskan mu."


"Kenapa, kau bicara seperti itu." Hardik Lotte, yang tidka terima dengan ucapan Mogan.


"Entahlah." Jawab Mogan sambil mengangkat bahunya.


"Semoga, saja kau memberi kabar gembira buat tuan, Malvin."


"Apa, maksudmu."


"Sapa tau kau memberi kabar tentang kehamilan mungkin." Saut Mogan asal.


"Hamil.?! Lotte membeo.


"Apakah, kalau aku hamil, Malvin akan membebaskan ku.?" Tanya Lotte penuh harap.


"Tentu saja. Bukankah dia sangat mengharapkan seorang anak selama ini? Dan lagi tidak akan pernah punya anak dengan keadaan penjantannya yang sudah mati." Kekah Mogan.


"Kasian sekali, dia tidak akan pernah bisa menikmati goyangan para jaalangnya." Sarkas Mogan.


"Jaga, ucapanmu, Mogan." Sentak Lotte, yang tidak terima Malvin di hina.


"Terserah. Aku pergi dulu."


"Ingat, jangan bikin rusuh lagi."


"Aku, muak mengurus kelakuan mu." Decak Mogan dan meninggalkan Lotte di sana.


"Hamil.?!


"Mudah-mudahan, aku hamil."