
Satu bulan kemudian.
Rooftop hotel Paris Hugo kini sudah dihiasi oleh dekorasi yang begitu menakjubkan.
Dekorasi yang mengambil tema bebas. Dimana tamu undangan akan di sajikan oleh pemandangan kota Paris.
Sang calon pembelai pengantin sengaja mengambil tema bebas untuk acara pernikahan mereka.
Keduanya ingin para tamu undangan merasa nyaman berada di acara pernikahan mereka.
Jadilah keduanya memilih dekorasi bertema bebas.
Hari ini adalah hari pernikahan Nathan dan Jenny akan dilangsungkan secara meriah. Itu semua tidak luput dari campur tangan sang mommy Gabriela.
Yah ingin acara pernikahan Nathan dan Jenny, dilangsungkan secara meriah.
Siapa yang akan berani membantah perintah sang mommy ratu. Tidak ada yang berani membantahnya. Berani membantah maka masa depan mereka terancam.
Pintu salah satu kamar suite room di hotel Paris Hugo terbuka, dan menampilkan sosok wanita cantik yang mengenakan gaun berwarna putih gading yang begitu elegan dan glamor.
"Kau, sudah siap.!" Kim melangkah ke arah sahabatnya yang terlihat gugup di depan cermin meja rias.
"Kau sangat cantik." Puji Kim, yang sangat terpesona oleh kecantikan Jenny hari ini.
"Semua orang juga mengakui itu." Cebik Jenny.
"Astaga, kau akan menikah Jenn. Tapi lihat, … wajahmu, cuek sekali." Kim terkekeh melihat Jenny yang berusaha menutupi kegugupannya.
"Kau gugup.?" Tanya Kim.
"Hm! Sangat." Sahut Jenny.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Kim menggenggam tangan basah Jenny.
"kau benar-benar, gugup." Kim kembali menertawakan keadaan sahabatnya itu.
"sialan kau, kimby.!" pekik Jenny.
"cepatlah. pengantin pria mu sudah menunggu. ia juga tidak jauh bedanya dengan mu. pria cerewet itu tiba-tiba diam seribu bahasa. ujar Kim." cerotos kim.
"benarkah!
"hm! dia bahkan mondar-mandir seperti setrika." cibir Kim, yang membantu Jenny melangkah ke arah pintu kamar hotel suite room itu.
mereka pun melangkah hati-hati ke arah lift khusus untuk membawa mereka dengan cepat ke atas rooftop.
"tenanglah! bisik Kim, mencoba menenangkan Jenny dar rasa gugupnya.
"hm! aku cuma deg-degan." seloroh Jenny.
"cih! sama saja, Jenny."
"diamlah, kau membuatku tambah gugup." cetus Jenny.
"baiklah!
*
*
*
"Kau siap.?" ujar Kim pada Jenny ketika lift khusus yang mereka berhenti tepat di sebuah rooftop yang sudah di sulap semewah dan seglamor mungkin membuat yang melihatnya akan merasa, takjub.
Jenny bahkan membuka mulutnya dan matanya berbinar kagum.
"wow. kau melakukan ini.?"
"Bukan."
"lalu?
"Mommy!
"wow, mommy memang yang terbaik."
"astaga, aku kembali gugup,"
"coba, tarik nafas dan hembusan." Kim mencoba menghibur sahabatnya itu.
"ayo! Kim menuntun Jenny kearah pelaminan dan disana sudah ada sang suami dan juga sang pembelai pria.
semua mata kini tertuju pada kedua sosok wanita cantik bak boneka itu. apalagi mereka menatap takjub pada pengantin wanita yang terlihat begitu cantik.
gaun pengantin sederhana tapi terlihat berkelas dan glamor itu kini membungkus tubuh indah Jenny.
Nathan yang berada didepan sana tak hentinya mengeluar air mata haru nya.
Arthur dan Larry mencoba menenangkan Nathan dari tangisannya.
"Aku hanya terharu dan takjub atas kecantikan istri ku." sahut Nathan.
"dia belum menjadi istri mu. dia masih dalam masa status calon istri untukmu." cibir Arthur.
"aku tidak perduli, dia tetap Istriku."
"dasar bucin akut."
"lihatlah, pengantin wanita ku. dia begitu cantik. oh Tuhan, aku sudah tidak sabar membawanya kekamar." seloroh Nathan. ia melupakan adegan tangisannya tadi.
" istri ku paling cantik." puji Arthur pada istrinya sendiri.
"terserah."
"lihatlah, dia makin mendekat,"
Kim dan Jenny kini berada di depan sang pembelai pria.
Kim menyerahkan telapak tangan Jenny kepada Nathan yang masih terisak.
dengan tangan gemetar Nathan meraih telapak tangan Jenny tersebut dan menariknya lembut
" cantik! bisik Nathan.
" kau juga terlihat tampan." balas Jenny.
"mari kita, selesaikan ini semua dan kembali ke kamar."
"kamar!
"hm!
"untuk apa?
"untuk menyambung rasa,"
"maksud kamu.?"
"menyambung rasa, antar kau dan aku."
"aku dan kau.?"
"lupakan. dan mari kita mengikrarkan janji."
"hm, ayo."
Jenny dan Nathan akhirnya mengikrarkan janji mereka yang akan sehidup semati. dan selalu berbahagia selamanya
acara pernikahan Nathan dan Jenny, diadakan begitu meriah dan diselingi oleh canda tawa oleh keluarga hangat mereka.
mommy Gabriela tidak henti-hentinya tersenyum bahagia melihat wajah bahagia anak-anak mereka.
sejak tadi mommy Gabriela berada di sisi para sahabatnya yaitu, mommy dan Daddy Kim.
mommy Gabriela dengan setia menjaga sahabatnya itu.
"Larry, kau kapan menikah,"
"nanti, mom."
"Apa kau ingin Lusi di pinang oleh, Kenzie.?"
"NO!
"jangan teriak, bodoh." sentak Arthur.
"Lusi hanya milikku."
"cih!
"Daddy!!! tiba-tiba seruan seorang gadis membuat mereka tersendak berjamaah
"Daddy.?" cicit mereka dengan tatapan kearah Larry dan Lusi.
"sejak kapan kau menikahi mommynya, Lusi.?" seloroh Arthur yang bermulut tanpa filter itu.
"bukan begitu adik ipar, lacknat."
" Tapi, dia memanggil mu, daddy.?" cetus Arthur.
"apa kau berubah status menjadi, ayah gula.?" seloroh Arthur kembali.
"tutup mulutmu, adik ipar lacknat."
Seluruh keluarga penuh kehangatan itu hanya bisa menyaksikan perdebatan antara, adik ipar dan kakak ipar.