Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 120


Seorang pelayan dengan tampilan culun, kini


menapaki kakinya di setiap anak tangga yang akan mengantarkannya ke atas, ke lantai dua. untuk melancarkan aksi licik yang akan menjerat pria yang sudah lama ia impikan.


Gadis itu menyusuri lorong lantai atas menuju, ruangan yang berada di paling sudut lantai dua itu.


Gadis dengan sebuah nampan berisi secangkir kopi berwarna hitam diatasnya. Kopi yang sudah ia beri sebuah remahan obat yang membuat orang yang meminumnya lupa diri.


Senyum licik gadis itu terlihat di bibirnya yang menyerupai seringai. Dia merapikan penampilannya dan mengulurkan tangan kirinya untuk, mengetuk pintu berwarna hitam pekat itu. Ia menggapai tuas pintu saat indaranya menangkap suara, yang menyuruhnya masuk. Gadis itu terlihat menghela nafas panjang setelah itu membuka pintu kokoh itu.


"Clek! Pintu itu terbuka dan terlihatlah sosok pria idaman gadis itu di sana, di meja kerjanya yang sedang fokus menatap benda persegi di hadapannya. Ia melangkah mendekat dengan perasaan berdebar-debar. Bukan karena ia takut tapi jantungnya memang sering berdebar-debar saat menatap pria tampan di depannya.


"Tuan! Serunya dengan senyum manis.


Arthur mengalihkan perhatiannya pada, sosok pelayan yang ada di dekat meja kerjanya. Ia menukik alisnya heran melihat gadis itu. Ia hanya menampilkan wajah datar dan suara dingin yang berat.


"Ada apa.? Sahut Arthur dingin.


"Saya membuatkan anda secangkir kopi, tuan.!? Seru Clara dengan hati riang, karena bisa berduaan dengan pria impiannya.


"Kopi? Tanya Arthur dengan hidung mengerut.


"Iya tuan, untuk menemani anda bekerja." Jawab Clara semangat.


"Tapi saya tidak memintanya.!" Ujar Arthur binggung.


Clara hanya bisa bergeming dan binggung.


"Kenapa kau diam.?


"M-maaf tuan. Aku diperintahkan Nona muda, tuan.!?


"Istriku.?! Sahut Arthur tidak percaya.


"I-iya tuan,! Jawab Clara gugup.


Arthur menatap cangkir yang berisi cairan hitam di dalamnya, ia juga memicingkan manik coklatnya kearah Clara.


Clara yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah, wajahnya bahkan merona.


"Bawalah. Aku tidak membutuhkannya,!" Perintah Arthur dengan nada dingin.


Clara menyengit mendengar perintah Arthur. Kini ia merasa geram karena usahanya kali ini akan gagal lagi. Ia pun memutar akalnya agar rencana nya ini berhasil dan tidak menghasilkan kegagalan lagi.


"Kenapa, kau diam? Bawalah, aku tidak menyukai kopi.!" Cercah Arthur tanpa melirik Clara.


"T-tapi ini perintah nona, tuan.? Sela Clara berusaha agar Arthur meminum kopi yang ia bawa.


"Cih! Kau jangan menipu ku. Istri ku tidak akan mau menyuruh seseorang untuk melayani ku. Dia akan datang sendiri kemari, dan … aku tidak meminum kopi. Aku rasa Istri ku tau soal itu.! Sarkas Arthur sinis.


"Keluarlah. Aku tidak akan mungkin masuk kedalam jebakan mu, jaalang.!" Cibir Arthur.


"A-apa maksud anda tuan.?!


"Ck! Kau jangan menipuku, wanita murahan. Aku tau semua rencanamu dan juga niat mu datang kesini, Clara Lincoln. Putri tunggal dari, tuan Lincoln dan Carolina." Pungkas Arthur dengan tatapan tajamnya menyorot Clara.


"A-aku tidak mengerti maksud anda tuan.!? Sahut Clara dengan perasaan was-was.


Arthur bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Clara. Ia meraih rahang wanita itu dan menjepitnya kuat, membuat wanita itu meringis sakit.


"S-sakit tuan.!


"Apa kau pikir aku bodoh? Sehingga dengan mudahnya kau ingin menjebakku? Asal kau tau aku membenci wanita murahan sepertimu. Jadi sebelum aku masih memiliki kesabaran, tinggal tempat ini dan pergilah jauh dari kehidupan ku.!" Bisik Arthur dengan aura mematikan.


"Lepaskan.! Clara menyentakkan tangan Arthur kasar dari rahangnya, sehingga Arthur bergeser kebelakang.


"Ck! Ternyata kau wanita licik.!" Sinis Arthur.


Clara menarik kerah baju Arthur dan bermaksud mencium suami dari Kim itu, tapi dengan kasar Arthur mendorong tubuh Clara membuat Clara terjungkal kebelakang.


"Kau! Geram Arthur.


"Apa? Iya aku Clara. Gadis kecil yang selalu mengagumimu sampai sekarang, tapi kau tidak pernah sedikitpun melihatku. Kau hanya peduli pada wanita sialan itu. sekarang kau sudah menikah dengan wanita lain, dan itu membuatku sakit hati.


Aku sudah menyukaimu sejak dulu, Arthur. Tapi kamu tidak sedikitpun melihat ku. Aku bahkan merelakan masa remaja ku hanya untuk mendapatkan perhatianmu, aku merelakan cita-citaku hanya bisa berada disisimu. Jadi salahkah jika aku ingin memiliki mu.!!!! Ungkap Clara dengan kesedihan yang terlihat di wajahnya.


Arthur tidak begitu tertarik mendengar ungkapan tidak masuk akal Clara. Baginya Clara adalah gadis gila, yang termakan oleh obsesinya sendiri. Arthur tidak akan termakan oleh ungkap menyedihkan Clara, ia tidak akan mungkin merasa bersalah. Salahkan gadis itu sendiri yang terlalu terobsesi padanya.


"T-tidak sebelum kau bisa aku miliki." Sahut Clara.


"Ck! Aku tidak akan mungkin tertarik pada wanita gila sepertimu.!" Sinis Arthur.


Hati Clara terasa tercabik-cabik mendengar nada hinaan Arthur. Clara yang sudah dikuasai rasa ingin memiliki, segara melancarkan rencana berikutnya. Ia mengacak rambutnya sendiri hingga terlihat berantakan, ia juga menyobek pakaiannya di bagian Lengan, ia membuka kasar kancing baju pelayan yang ia pakai sehingga memperlihatkan dua aset indahnya, dan terakhir ia mencakari sendiri tubuh putih mulus nya.


Arthur tidak tertarik untuk melayani keluhan tidak masuk akal Clara. Ia tidak memperdulikan apa yang Clara lakukan. Ia hanya sibuk di dunianya sendiri.


Clara bangkit setelah dia yakin dengan kondisinya, tidak lupa ia juga membuka lebar pintu ruangan kerja Arthur yang mana sudah terbuka sedikit. Ia mendekati Arthur dan menarik kasar kembali kerah baju Arthur. Ia lalu berusaha untuk menyatukan bibirnya ke bibir Arthur. Pria itu tentu menolak dan sekali lagi mendorong kasar Clara kali ini sangat kuat membuat wanita itu terbanting ke belakang dan mengenai meja hias disana.


"Pranggg! Vas bunga diatas meja hias itupun jatuh dan menimbulkan suara keributan.


"Dasar wanita murahan!!! Bentak Arthur.


Mommy dan Jenny yang kebetulan berada di lantai dua terkejut mendengar keributan di ruangan Arthur. Mereka yang baru saja berbincang-bincang itu segera mendatangi ruangan kerja Arthur.


Mommy dan Jenny terhenyak, saat melihat ruangan Arthur sudah berantakan dan mereka berdua terkejut, melihat Clara sedang terisak dengan tubuh gemetar takut di sudut ruangan.


"Flashback off."


"Tutup mulutmu, wanita murahan." bentak Kim.


Kim mendorong tubuh suaminya pelan. ia lalu mengecup sebentar bibir tipis Arthur dan memberikan senyum lembut kepada suaminya itu.


"Kau terlalu sempurna, sayang. jadi jangan heran kalau begitu banyak ulet keket mendekati mu." bisik Kim. Arthur hanya mengangguk membenarkan ucapan Istrinya.


"apa kau tahu, kalau aku sangat suka bermain-main dengan benda tajam!? aku suka mengukir sebuah karya dikulit seseorang. jadi apa kau juga ingin wajah cantikmu ini menjadi bahan uji coba ku.?" bisik Kim ditelinga Clara dengan jari-jari panjang dan juga kuku-kuku panjangnya menari-nari di wajah mulus Clara.


"Apa kau pikir kami semua disini manusia bodoh, yang akan percaya dengan jebakan murahan mu ini, nona Clara Lincon.? ujar Kim dengan suara yang mendayu-dayu tapi mengerikan.


"wajahmu mulus dan terawat. apakah ada seorang pelayan yang memakai perawatan mahal seperti mu? dan apakah ada seorang pelayan yang memiliki kuku-kuku indah seperti mu, nona muda? oh yah satu lagi. para pelayan disini tidak di perbolehkan mempunyai kuku. jadi kenapa kau memiliki kuku-kuku indah dengan biaya perawatannya, sangatlah mahal."


"bukankah begitu, mommy.?" Kim menatap sang mertua yang diam menyimak adengan di depannya. sang mommy menggakuk dan tersenyum miring saat melihat wajah pucat Clara.


Kim kembali menatap Clara dengan seringai devilnya.


"apa dia tadi menyentuh mu, sayang." Kim menoleh kebelakang dimana suaminya hanya terdiam dengan wajah datarnya.


Arthur mengangkuk dan menunjukkan letak yang di sentuh Clara.


Kim melemparkan kembali tatapannya kepada Clara yang wajahnya sudah berubah pias.


"biar aku membantumu memotong kuku mu, nona.!? bisik Kim dengan tersenyum miring.


"tidak perlu.!" tolak Clara dan menarik tangannya yang di genggaman oleh Kim.


"oh, tidak bisa begitu nona muda. kau harus menerima hukuman karena sudah berani menyentuh milikku." bisik Kim dengan suara mengerikan.


"T-tidak.! tolak Clara.


"bibi Haruka."


"iya nona.?!


"kau menyimpan gunting kuku.?


"ada nona."


"ambilkan untukku. bermain-main dengan gunting kuku pun aku suka."


bibi Haruka menatap nyonya Gabriela yang terlihat mengedipkan matanya.


"baik, nona muda.!"


Clara hanya bisa meringsut di sudut ruangan itu dengan wajah pucat dan gemetar. ia tidak mengetahui, larat. dia yang tidak mau tahu tentang kegerian Istri dari seorang Arthur.


"ucapkan selamat tinggal buat ibumu, nona muda Lincol.!"


"jangan. jangan sakiti aku, aku mohon.!!!!


"akhhh!


"mommy Carolina.!!!!