
"Tidak, sayang. aku sangat mencintaimu dan itu hanya bohong, Kim sayang." Malvin, berusaha menyakinkan Kim meskipun rasa sakit menyerangnya.
"Bohong." hardik Kim.
"Kau, pembohong dan brengsek, Malvin." ujar Kim dengan geram dan giginya kini saling bergesekan.
"Tidak, say, … "akk." perkataan Malvin terhenti saat Kim kembali menusuk lengan Malvin.
Kim yang sudah muak itu, kini menusuk lengan kiri Malvin, membuat pria itu berteriak kencang.
Kim menangkup kedua pipi bercambang Malvin dan mengeluarkan lidah pria itu. dan seketika Kim memotong lidah Malvin yang mudah berkata manis penuh dusta itu. Malvin hanya mampu histeris dalam rasa sakit pada bagian mulutnya. air mata kesakitannya pun turun deras bercampur keringat dan darah yang keluar dari mulut Malvin.
Lotte dan jenny hanya bisa membeliakkan mata mereka dan tertekun, terpaku, terhenyak, terkejut. tidak bisa mereka gambarkan rasa mereka saat melihat perbuatan mengerikan Kim.
Malvin tidak bisa berkata-kata lagi saat separuh dari Indra mengecapnya hilang. Malvin hanya bisa menatap nanar wanita di atasnya itu.
Kim hanya tersenyum penuh kesedihan bercampur rasa puas. dia kembali menyusuri tubuh Malvin dengan benda di tangannya.
"Sekarang, aku akan bermain-main dengan benda yang sangat kau bangga ini, Malvin? jadi ucapkanlah selamat tinggal pada alat kesayangan mu ini, yang bisa membuat para jaalangmu menjerit. mari kita liat apakah mereka masih ingin bermain dengan mu, saat alat kebanggaan mu ini hilang sebagian.?" ucapan sarkas penuh kengerian dan benda kecil itu kini sudah memutari alat kesayang Malvin.
Malvin hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan dan terpatah-patah. wajahnya pun sudah memucat akibat darah yang terus menerus keluar.
Lotte yang tidak tahan itupun hampir kehilangan kesadarannya, tapi dengan cepat Kim kembali menarik rambutnya.
"Kau, belum melihat kejutan besarnya, Charlotte.!? bisik Kim dan masih menarik rambut Lotte dengan sangat kencang.
sedangkan Kim mendekati Malvin kembali. dan mengarahkan benda kecil itu diarea terlarang Malvin.
"Apa, kau siap sayang.?" tanya Kim dengan seringainya.
Malvin hanya mampu mengedikkan matanya karena kesadarannya kini hampir hilang.
Malvin tidak merasakan apapun lagi saat ini, rasa ngantuk mulai menyerangnya dan detik berikut teriakan kesakitan kembali ia keluarkan dari mulutnya saat benda kesayangannya terpotong separuh. kesakitan yang begitu dahsyat dan detik itu juga kesadaran Malvin hilang.
Lotte dan jenny kembali terhenyak dan bergeming. Lotte bahkan histeris di balaik dekapan kain yang menyumpal mulutnya. sedangkan jenny berlari memuntahkan isi perutnya yang sejak tadi ia terasa di aduk-aduk.
Kim, hanya tersenyum puas saat ia memotong separuh benda berharga Malvin. Kim melepaskan sarung tangannya dan memasukkan kedalam plastik yang sudah ia sediakan. ia berjalan kearah Lotte yang terdiam membisu di tempatnya, tampak wajah scok Lotte, itu terlihat saat Kim mengeluar gumpalan kain yang berada di mulut Lotte dan Kim juga melempaskan ikatan tangan Lotte. Kim meraih pisau kecil yang ia gunakan menyunat Malvin dengan melapisi tangannya dengan sapu tangan. Kim meletakkan pisau itu di tangan Lotte yang masih bergeming dan linglung.
"Ayo," ajak Kim pada jenny yang wajahnya memucat.
"Apa, kau sudah menghubungi mereka.?" tanya Kim pada jenny yang masih scok itu.
Jenny hanya mengangguk dan mereka keluar dari kamar itu setelah menghilangkan semua tanda-tanda keberadaan mereka. meninggalkan Lotte dengan wajah ketakutan dan terkejut, ia menatap kearah ranjang di mana Malvin terkapar dalam keadaan mengenaskan. Lotte melirik benda kecil di tangannya dan membuangnya kelantai. dan ia baru sadar kalau ia di jebak disini.
Bertepatan itu juga suara teriakan histeris mengejutkannya.
"Akhhh."