
"Hg." Lenguhan lembut nan serak terdengar di kamar istirahat yang berada di ruangan CEO.
Mata indah biru kehijau-hijauan itu, kini telah terbuka lebar.
Kim mendesis saat denyut di tengkuknya begitu ngilu. Kim bangkit dan duduk bersandar di sandaran ranjang di kamar istirahatnya.
"Jenny, sialan." Umpat Kim pelan.
"Dia, memukuliku lagi," stth." Desis Kim saat denyutan di tengkuknya terasa ngilu.
"Dasar, sahabat tidak punya akhlak." Gerutu wanita itu sambil memijit tengkuk lehernya.
"Clek."
"Kau, sudah bangun rupanya." Tegur jenny, yang baru datang. Wanita itu duduk di tepi ranjang, di samping Kim.
"Kau, membuatku kesakitan lagi, Jennifer." Geram Kim.
"Maaf, aku terpaksa melakukannya kalau tidak, aku tidak yakin wajah tuan, Keanu akan berubah tampan." Cibirnya sambil mendelikkan matanya, di balik kacamata bulat besarnya.
"Aku tidak akan mengampuni orang yang berani menyentuhku, apalagi dia dengan berani mencium bibir berhargaku ini." Ujarnya yang masih terlihat raut wajah marahnya.
"Tapi, Kim, …." Jenny menyeda ucapan dan dia menarik nafas.
"Tapi, kenapa?" Tanya Kim.
"Aku takut tuan Keanu akan menyimpan dendam padamu, dia akan berusaha menghancurkan perusahaan kita Kim. Aku takut dia menjadikan ini semua kelemahan untukmu, agar bisa menjadikan mu kekasihnya." Pungkas wanita bermata empat itu.
"Sepertinya dia sangat tergila-gila padamu, Kim. Dan dia pria egois, kalau kau mau tau. Dia akan melakukan apapun yang ia inginkan menjadi miliknya. Kali ini adalah kau, Kimberly ligh Hugo."
"Jadi kita harus berhati-hati." Sambungnya lagi dengan sikap bijak, wanita manis itu.
"Aku, tidak perduli. Kalau dia melakukan sesuatu maka aku harus melawannya bukan? Dan ingatlah aku siapa." Balas Kim dengan nada sombongnya.
"Aku tau kau adalah keturunan Hugo, Kim."
"Tapi, please berhati-hatilah, Kim." Jennifer memberikan peringatan kepada Kim dengan lembut dan bijak.
"Entahlah. Kita liat saja nanti." Balas Kim santai.
"Bisakah, kau serius, Kim.!? geram jenny.
Kim hanya mengangkat kedua pundaknya acuh dan berdiri dari ranjang.
"Bersiaplah, mungkin perusahaan kita akan mendapatkan berita buruk besok." Sela jenny, yang menghentikan derap langkah Kim, untuk keluar dari kamar.
"Ok." Jawaban Kim, membuat jenny hanya bisa mengelus dada.
"Oh, Tuhan. Berikan aku selalu kesabaran." Lirihnya dan menatap punggung Kim, yang sudah berjalan Kembali kearah pintu. Jenny pun mengikuti, langkah Kim di belakang.
"Apa berkas perceraiannya sudah siap.?" Kim bertanya kepada jenny tanpa melihat raut wajah kesal wanita bermata empat itu.
"Sudah." Jawabnya ketus.
" Bagus. Sekarang ayo kita ke rumah sakit.!" Ajak Kim.
"Ke rumah sakit.?" Jenny membeo, dengan wajah binggung.
"Iya." Balas Kim, dengan singkat, padat dan jelas.
"Untuk,?"
"Bertemu tuan Abraham. Jangan lupa bawa berkas perceraiannya." Perintah Kim, sambil kembali melangkahkan kaki panjangnya kearah pintu keluar dari ruangannya.
"Kau, ingin bertemu dengannya sekarang.?"
"Hm, aku tidak perlu menunggunya sampai mati, kan.?" Seloroh Kim santai.
"Aku, tidak perduli. Lebih cepat, lebih baik dan aku bisa bebas dari dia. Dan aku memilih berpisah dengan status cerai daripada aku harus jadi janda karena di tinggal suami, apalagi jandanya tuan Abraham, itu sangat mengelikan." Pungkas perempuan dengan rambut cepak-nya yang tertiup angin.
Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil sport mewah Kim yang berwarna hitam dan atap mobilnya di biarkan terbuka. Mobil mewah itupun melintas di jalanan ramai dikota Paris.
*
*
*
Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Kim dan jenny sudah terparkir dengan elegan di parkiran rumah sakit terkenal itu.
"Kali ini jangan membuat masalah lagi, Kim,!" Perintah jenny dengan wajah serius.
"Hm. Mana berkasnya." Saut wanita arogan itu.
Jenny menatap Kim cegah dan mengambil berkas di dalam tas kerja yang sering ia gunakan apabila kekantor dan memberikan pada wanita yang ada di sampingnya.
"Ingatlah, Kim jangan membuat masal, …." Kalimat jenny berhenti saat, Kim sudah turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.
"Brakk." Suara mobil itupun mengejutkan, jenny.
"Kimberly, sialan.!! Pekik wanita berkacamata itu.
Jenny pun turun dari mobil dan berlari mengejar Kim yang sudah memasuki lift untuk menuju lantai atas di mana ruangan Malvin.
*
*
*
"Di ruangan VVIP"
Sosok pria dengan punggung kokoh dan memiliki wajah tampan yang di tumbuhi tunas jambang yang mulai memanjang itu. Pria itu kini sedang duduk di kursi roda dengan menghadap jendela kaca yang transparan. Pria itu sedang memikirkan nasibnya yang begitu menyedihkan. Dia harus mengalami kebisuan permanen dan dia harus kehilangan sebagian barang kebanggaannya. Pria itu menerawang kedepan dengan sorotan tajam penuh dendam. Pria itu tidak akan bisa menerima keadaan dan kondisinya yang sangat menyedihkannya ini.
Pria itu begitu terpukul, saat baru membuka matanya dan dia harus mendengar kenyataan pahit yang begitu berat untuknya. Kenyataan bahwa dia harus kehilangan sebagian lidahnya yang membuatnya bisu permanen, dan yang paling tidak bisa ia terima adalah keadaan benda yang ia banggakan kepada para wanita yang ia tiduri, hanya sisa separuh dan tidak akan bisa mendapatkan kepuasan lagi.
Ayolah, siapa yang akan terima dengan kenyataan seperti ini. Dimana alat yang bisa membuatmu menikmati dan melayang di langit ketujuh itu tidak akan lagi bisa terbang, jangankan terbang mungkin sang penjantan tidak akan bangun lagi.
Apalagi bagi seorang, Malvin Abraham, yang tiada hari tanpa bersenang-senang dengan para wanita-wanitanya. Dia adalah pria normal yang sangat hipeer dan penjantannya sangat tangguh di atas ranjang, membuat para mahkluk indah dan mengoda menyerit dan berteriak. Tapi sayang sekarang pria itu harus terpaksa mengucapkan salam perpisahan kepada sang penjantannya.
Apa artinya sebuah kekuasaan dan harta kekayaan, kalau dirinya harus kehilangan satu-satunya alat yang bisa membuatnya menghilangkan kejenuhan dan memberikannya kenikmatan dunia yang hanya sementara itu.
Malvin menghela nafas panjang saat dadanya tiba-tiba bergemuruh dan terasa sesak. Pria itu tidak menyangka wanita yang begitu ia jaga dan mudah ia atur itu, berubah sangat mengerikan. Kim-nya kini berubah bagaikan predator yang sangat mengerikan. Karena obsesinya kepada Kim, dia melupa untuk mengenal lebih jauh watak dan perilaku Kim yang sebenarnya.
Dia hanya sibuk membuat istrinya terlihat lebih layak dan di sanjung di depan para pesaing-pesaingnya dan juga pada para koleganya.
"Clek." Pintu kamar rawatnya tiba-tiba, terbuka dan Malvin tidak menghiraukannya sama sekali. Pikiran pria itu kini sedang berkecamuk.
"Tuan." Sapa sang asisten dengan memberi hormat pada tuan mudanya.
"Bagaimana.?" Tanya Malvin dengan sebuah tulisan, saat membalikkan badannya.
"Ternyata nyonya adalah keturunan, dari keluarga Hugo, tuan." Jawab sang asisten, dengan raut wajah serius.
"Hugo.?! ujar Malvin tanpa suara
"Iya, tuan. Klen mafia yang terkenal pada zamannya." Pungkas sang asisten.
Jawaban sang asisten membuat Malvin tersendak kaget dan membulatkan matanya.
"M-mafia.?! Ujarnya tanpa suara dan hanya mengerakkan mulutnya.
sang asisten yang paham dengan bahasa tuannya hanya mengangguk.