Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 50


Kim hanya terdiam sejak tadi, sambil menutup matanya saat mendengar kata demi kata dan pekikan demi pekikan yang keluar dari mulut mungil jenny.


Kim tidak menanggapi omelan sahabatnya itu yang menurutnya seperti suara nenek sihir. bahkan Kim menutup diam-diam telinganya dengan headset bluetooth tanpa sepengetahuan Jenny.


Kim sudah terbiasa mendengar omelan jenny dan setiap jenny mengomel maka Kim, menutup kedua telinganya.


"Kimberly ligh Hugo." hardik jenny dengan dada naik turun dan menatap lekat Kim di sebelahnya.


"Jangan, pernah membodohi ku lagi, Kimberly." sentak jenny dan menarik benda yang berada di kedua telinga Kim.


"Kim hanya mencebikkan mulutnya dan mendelik tajam pada jenny.


"Bangun." perintah jenny tegas.


"Kimberly, bangun.!" hardik jenny sekali lagi.


"Ck." Kim berdecak malas dan tak urung menuruti perintah jenny.


"Kau menganggu tidurku, Jeniffer Rachel." cebik Kim.


"Kau, tau."


"Tidak, aku tidak tau."


"Dengar aku, Kim.!?"


"Aku mendengar mu, Jenn.!?


"Kimberly."


"Baik, katakanlah."


Jenny mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak karena rasa kesal atas kelakuan sahabat, yang sialnya adalah nona boss-nya.


"Hari, ini kau membuatku malu dan kita hampir saja kehilangan kontrak kerjasama kita yang, nilainya sangat fantastik, Kim." gertak jenny.


Dengan alis terangkat sebelah, Kim menatap jenny penasaran. " Yang mana.?" pertanyaan bodoh Kim membuat jenny benar-benar frustasi.


"Kau, mengabaikan dan tidak sopan kepada klien kita, Kim." ujar jenny dengan mengkipasi wajahnya yang memerah karena kesal, dengan kedua telapak tangannya,


"Ck, ternyata karena pria menyebalkan itu, sampai kau mengomeli ku seperti ini."


"kau tau, aku paling benci pria seperti tuan mesum itu."


"Melihat, wajahnya saja membuatku mual."


"Apalagi tatapan mesumnya. ingin sekali aku mencongkel mata pria mesum penjahat kelamin seperti, … tuan siapa tadi.?"


"Tuan Keanu Andrian Adam."


"Nah, tuan Casanova mesum penjahat kelamin."


"Kim, ….!!!


"Aku, tidak perduli."


"Astaga, kau benar-benar menyusahkan ku, Kimberly ligh Hugo.!?


"Bukankah, itu adalah hak-ku, untuk membuat mu susah dan kewajiban mu, untuk melakukan semua perintah ku nona, Jeniffer Rachel.!" Kim tersenyum penuh kemenangan saat memenangkan perdebatannya bersama jenny.


"Terserah.!! ujar jenny dan merebahkan punggungnya di sandar kursi.


"Paman antarkan aku kerumah sakit.!" perintah Kim. perintah Kim tiba-tiba, sontak membuat jenny menyengit kaget.


Kim hanya tersenyum miring penuh arti.


Jenny kembali menghela nafas dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


"Semoga, saja wanita menyebalkan ini tidak membuat keributan." bisiknya pelan.


Kim tersenyum mendengar bisik lirih jenny.


"Tenanglah, aku hanya bermain-main sebentar." sela Kim. jangan lupa senyum menyeringainya yang penuh arti.


Jenny hanya mengangkat bahunya dan kembali memejamkan mata indahnya di balik kacamata bulat.


*


*


*


Mobil Bugatti Veyron super mewah itu sudah bertengger di parkiran salah satu rumah sakit terkenal Paris.


Kim memasuki lobby rumah sakit terkenal itu dengan jenny yang masih setia di sampingnya.


Dengan derap langkah yang begitu elegan dan terlihat pesona wanita berkelas tinggi. menjadikan Kim, sebagai pusat perhatian para pasien dan juga penggunjung di sana.


Semua orang di dalam lobby rumah sakit itu, terlihat kaget saat sang mantan surper model terkenal itu berada di hadapan mereka.


Kebanyakan dari mereka melihat kagum pada Kimberly ligh Hugo dan ada juga yang melihatnya sinis dan mencebir Kim.


Kim membalas senyuman setiap orang yang menyapanya dan tersenyum ramah padanya dan menatap dingin pada orang yang mencibir atau melihatnya rendah.


"Dasar, wanita kasar dan tidak punya hati." cibir salah satu parubaya saat melihat Kim melintas di hadapannya.


"Cih, sombong sekali." sambungnya lagi.


"Kenapa, tuan Malvin begitu menggilai wanita kasar dan psikopat seperti dia."


"Tuan, Malvin lebih cocok dengan anakku Sherly daripada wanita psikopat itu."


"Ah, coba saja Sherly lebih ganas dalam menggoda tuan Malvin, pasti sekarang aku akan menjadi mertua dari pengusaha kaya di kota ini."


Wanita paruhbaya itu terus bergumam sepanjang koridor rumah sakit, sambil membayangkan menjadi mertua dari tuan Malvin Abraham.


"Ah, semoga tuan Malvin segera menceraikan istri gilanya itu, dan aku akan mencoba mendekatkan Sherly dengan tuan Malvin Abraham." ujar wanita tua itu dengan tersenyum penuh angan-angan.


Di kamar VVIP.


"Clek."


"Oh, astaga."


"Maaf mengganggu, kalian."


"Lanjutkan."


"Kim-kimberly."


"Sa-sayang."


"Menjijikan."