Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 128


"Ka, …" perkataan Kim terjeda saat pria yang berjalan mendekatinya kini memeluk dirinya begitu erat. Tubuh Kim menegang saat mendengar bisikan pria yang sangat ia kenal itu.


Syukurlah, kau tidak apa-apa, adik kecil ku.?" Ucap pria tersebut tanpa sadar. Karena rasa khawatirnya ia tidak menyadari dirinya sekarang yang mengungkap jati dirinya sendiri.


Kim melepaskan rangkulan pria yang dia kenal sebagai bawahannya itu. Kim menatap pria tersebut dengan dahi mengerut dan tatapan jeli nya menelisik wajah pria tersebut.


"Astaga ini, tidak mungkin." Lirih Kim, saat menemukan apa yang ia cari. Sebuah tanda di bawah telinga pria itu.


"Kakak.? Lirih Kim tanpa suara dan menutup mulutnya dengan memakai kedua tangannya. Kim mundur dua langkah atas fakta yang diketahui saat ini.


"Iya. Ini aku Larry, kakak kesayanganmu peri kecilku." Sahut Larry dengan mata berkaca-kaca.


"Ini, t-tidak mungkin. J-jadi kau kakakku.?" Tanya Kim dengan wajah tidak percaya. Ternyata sang kakak selama ini berada di dekatnya, dan sering kali menghabiskan waktu bersama kakaknya dalam pekerjaan.


Kim menggeleng pelan. Ia belum percaya atas apa yang ia lihat saat ini.


"Kimby.? Panggil pria itu lirih.


Tangis Kimberly meledak, saat mendengar panggilan kesayangan kedua orang tuanya dan juga panggilan kesayangan sang kakak. Ini nyata. Yah ini nyata dan pria ini adalah kakaknya yang tidak diketahui kabarnya. Kakak yang selalu ia rindukan, kakak yang begitu menyayanginya dan kakak yang selalu menjaganya kemanapun ia pergi maka sang kakak, lah yang menjadi pengawas kesayangan. Dan ternyata selama ini kakaknya sudah berada disisinya.


"Kimby." Panggil Larry kembali dengan air mata yang membanjirnya wajah rupawan pria itu.


"Kakak, Larry.?" Cicit Kim.


Kim menghapus air matanya, lantas mendekat kearah Larry dan memeluk pria yang begitu ia rindukan. Pria yang merupakan cinta keduanya, setelah cinta pertama ia beristirahat kepada sang daddy. Pria yang selalu memanjakan, membelanya dan menjaganya.


"Kakak." Lirih Kim di pelukan sang kakak.


"Iya, sayang ini aku, kakakmu.?" Sahut Larry, dengan pelukan yang begitu erat di tubuh sang adik.


Terciptalah suasana haru di antara, kakak dan adik itu di tempat sang musuh. Mereka berdua saling berpelukan dengan diselingi tangisan yang begitu memilukan. Tangisan kebahagiaan dan kelegaan diantara kedua, adik kakak itu perdengarkan.


Jenny menyusut air mata dibalik kacamata bulatnya. Ia juga ikut terharu atas pertemuan kembali, di antara dua saudara yang berpisah.


Sementara nyonya Carol yang melihat, dua saudara itu bertemu kembali merasa senang. Bukankah itu berarti ia akan mendapatkan sesuatu yang ia ingin selama ini melalui dua saudara itu? Dengan diam-diam nyonya Carol berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya menggunakan sebuah pisau daging yang Kim tancapkan di telapak tangannya. Nyonya Carol menahan jeritan saat mencabut pisau tersebut menggunakan mulutnya. Hanya air mata kesakitan yang terlihat mengenang di kelopak matanya.


Nyonya Carol, melirik kearah Kim dan Larry yang masih saling berpelukan. Ia berusaha membuka tali di tangannya sambil melirik kearah Kim dan Larry. Senyum liciknya nampak, ketika satu tali mampu ia lepas. Selanjutnya nyonya Carol membuka ikatan satunya dengan mudah. "Berhasil." Gumamnya pelan. Ia lalu menoleh kearah sang putri yang terlihat tak sadarkan diri. Nyonya Carol menoleh sekilas kearah Kim dan Larry, setelah itu kembali menoleh ke arah sang anak. Nyonya Carol mencoba membangun putrinya itu, dengan menepuk pipi Clara pelan.


"Clara. Bangunlah, nak.!" Bisik nyonya Carol.


"Cla." Bisik nyonya Carol geram.


"Mommy! Sahut Clara pelan.


"Bangunlah, kita keluar dari sini." Ucap nyonya Carol sambil berbisik.


Clara tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengangguk patuh, mengikuti sang mommy yang merangkak pelan ke arah pintu rahasia di ruangan itu. Nyonya Carol ingin segera menghubungi suaminya yang berada di Jepang untuk membantunya dan menangkap dua kunci penting untuk mengantar mereka, untuk menemukan harta Karun.


"Cepatlah, Cla.! Sentak nyonya Carol kepada putrinya yang terlihat meringis sakit di area perutnya.


Mereka berdua tidak menyadari kalau tiga orang di belakangnya sedang menatap mereka sinis. Kim meraih kursi kayu yang digunakan nyonya, Carol tadi. Kim dengan perasaan penuh amarah, mengangkat kursi tersebut dan melemparkan ke arah Clara.


"Prang."


Kurus kayu itupun mendarat dengan indah dan tanpa hambatan di tubuh rapuh Clara. Membuat gadis itu kembali tak sadarkan diri dengan keadaan mengenaskan, dengan cairan merah keluar dari kepala gadis itu. Nyonya Carol membeku dan membelalakkan matanya melihat dengan kepala sendiri sang putri terkapar dengan keadaan mengenaskan.


"CLARA.!! Teriak nyonya Carol histeris. Wanita dengan usia setengah abad itu, mendekati sang putri yang terkapar lemah di lantai. Belum ia sampai ke dekat sang putri, sebuah tangan lentik menarik rambut panjangnya kuat dan menariknya ke tengah-tengah ruangan tersebut. Sementara Larry melakukan panggilan kepada seseorang di seberang sana dengan mode video call. Mode videonya ia arahkan ke arah Kim yang sedang memberikan siksaan kepada nyonya Carol, seperti yang mereka lakukan kepada kedua orang tua Kim dan Larry.


Larry tersenyum, ketika seseorang menjawab panggilannya dan terdengar suara erangaan di seberang sana.


"Cih. pria menjijikkan." ujar Larry menyapa pria parubaya diseberang sana.


"siapa yang kau maksud menjijikkan, sialan.!" hardik pria dengan usia setengah abad lebih itu.


Larry merasa jijik saat indera pendengarannya,. diusik oleh suara lacknat diseberang sana.


"ternyata selain menjijikkan, anda juga seorang banjingan." kekeh Larry.


"apa maksud mu, sialan. dan siapa diri kau.!" teriak pria diseberang sana dan menatap ponselnya.


"C-Carol, ... C- CLARA.!!! pria diseberang sana terdengar membeo.


"bagaimana, tuan Lincol. apa kau suka kejutan yang kuberikan.?" sela Larry, menyadarkan tuan Lincol dari rasa terkejutnya.


"Apa yang kalian lakukan pada keluarga ku.!" Terdengar teriak dan wajah geram.


"memberikan balasan setimpal pada kalian." sahut Larry dengan tersenyum devil.


"kami tidak akan melepaskan mereka, sebelum nyawa mereka pergi." ujar Larry dingin.


"lepaskan, istri dan anakku, brengsek.!" teriakkan dan amukan terdengar di seberang sana.


"hei, ... lepas' mereka." terdengar suara frustasi tuan Lincol.


"lihatlah, anak mu tuan, Lincol.?" Larry mendekatkan ponselnya kearah Clara yang dalam keadaan sekarat.


"princess.? sentak tuan Lincol melihat keadaan putri kesayangannya.


"Daddy.! lirih Clara lemah.


"putri ku sayang.!


"Daddy, Cla, sudah tidak kuat lagi.!"


"No, sayang bertahan. Daddy akan segera kesana menolong kalian."


"Cla, sudah tidak kuat, dad."


"sayang. kau putri dari Lincol yang berani dan kuat. jadi daddy mohon kuatlah sayang." terdengar lirihan kesedihan di seberang sana.


"Da-daddy, Cla, ... su-sudah tidak kuat, dad."


"Cla, no sayang. jangan tinggalkan daddy, bertahanlah sayang, putri daddy. tunggu daddy akan datang, nak." racauan tuan Lincol.


sedangkan Clara sudah tidak dapat bangun lagi dan bergerak. nyawanya sudah pergi meninggalkan raga gadis itu. tuan Lincol berteriak histeris, pun nyonya Carol. kedua orang tua itu berteriak atas kehilangan putri semata wayang mereka.


"Clara.!! teriak tuan Lincol histeris.


Kim dan Larry, tersenyum puas atas jeritan kehilangan pasangan suami-istri itu. akhirnya mereka bisa merasakan apa yang keduanya rasakan dulu. kehilangan orang tercinta tepat didepan mata mereka. Kim dan Larry merasakan ini belum cukup, ia ingin membuat mereka merasa kehilangan lagi. mereka akan membuat pasangan ini hancur.


"kalian. aku akan menghabisi kalian semua.!" pekik tuan Lincol.


"aku akan membuat kalian membayar mahal atas apa yang kalian lakukan pada keluarga ku."


"Kami, menunggu anda, tuan Lincol. tapi sebelum itu lihatlah apa yang akan kami lakukan pada Istri mu ini." ujar Kim dingin menghadapkan wajahnya kearah kamera dengan menarik rambut nyonya Carol kebelakang dan sebuah benda tajam Kim letakkan di leher nyonya Carol.


"LEPASKAN ISTRI JAALANG.!!


"tidak sebelum nyawa masih ada. dan malam ini anda akan menyaksikan kehancuran kedua orang kesayangan mu." sahut Kim dingin.


"akhh!


teriak nyonya Carol, ketika Kim menggores kecil kulit wajahnya.


"Carol." teriak tuan Lincol.


"s-sayang." lirih nyonya Carol.


"ahk!


kembali teriak nyonya Carol terdengar.


Kim lagi-lagi melukai wajahnya.


"rasakan lah, apa yang kami rasakan dulu, tuan Lincol. perasaan kehilangan." sela Larry, dengan tatapan membunuh.


"setelah, Istri mu. maka kau akan menjadi korban kami."


"brengsek. aku akan menghabisi kalian semua."


"maka lakukanlah, sebelum kami datang menghabisimu."


"akhh!


Kim yang sudah merasa jengah dan muak. ia lantas mengores leher nyonya Carol dengan dalam, sehingga wanita setengah abad itu, meregang nyawa dengan cairan merah mengalir dari leher panjang.


tuan Lincol terlihat tidak dapat berkata-kata diseberang sana, saat menyaksikan pembantaian keluarganya.


"akhh!! Carol, ... Clara." teriak Lincol histeris.


Kim dan Larry merasa puas atas pembalasan dendam mereka. Jenny hanya bergedik melihat aksi mengerikan adik kakak ini. ia juga merasa lega atas pertemuan dua kakak adik tersebut.


"okusan.!!!