
"Membakarnya.!" Pekikan itu datang dari arah ranjang pasien. Dimana seorang wanita cantik yang masih terlihat pucat lemah, begitu schok mendengar perkataan Natan.
Wajah Kim berubah sedih dan bersalah. Matanya pun kini sudah berkaca-kaca. Ia sudah lalai dan ingkar pada seorang gadis kecil, yang berjanji akan melepaskannya dan membawanya pergi dari tahanan bawah tanah. Arthur yang melihat raut wajah sedih istrinya merasa heran. Iapun mendatangi sang istri yang terlihat menunduk untuk menahan air matanya yang sudah tergenang di kelopak mata indahnya.
Arthur meraih dagu sang istri, ia begitu terkejut melihat linangan air mata di manik indah istrinya.
Arthur segera menoleh kearah sepupunya yang hanya mengedikkan bahu tidak acuh.
Arthur ikut bergabung bersama istrinya diatas ranjang. Ia kembali meraih wajah sang istri dan menghapus kristal bening yang berasal dari manik indah istrinya dan mengalir membasahi pipi mulus Kim.
"Ada apa, okusan.?" Arthur bertanya dengan nada lembut sambil mengusap pipi mengemaskan istri impiannya.
"Katakan padaku, okusan.?" desaknya dengan tatapan lembut tapi penuh tanda tanya.
"Kenapa, kau tega membakar markas tuan, Alvanso.!" Sahut Kim dengan isakan. Arthur menukik alis tebalnya binggung. Pria sipit itu kembali mengalihkan tatapannya kearah pria yang juga menatapnya heran.
"M-maksud kamu apa, okusan.?" Tanya Arthur dengan nada hati-hati.
"Kau membakar markas mereka, itu berarti semua tahanan tuan Alvanso juga ikut terbakar. Apa kau lupa, kalau aku sudah berjanji kepada anak kecil yang ada disana untuk datang menyelamatkannya? Tapi kenapa kalian tega membakar tempat itu? Aku merasa bersalah pada para mereka. terutama pada bocah menyedihkan kemarin." Ungkap Kim bersamaan dengan isakan pilu.
"Jangan menangis, okusan." Pinta Arthur lembut. Percayalah, dia paling membenci istrinya dalam keadaan menangis daripada istrinya memegang senjata.
"Bagaimana aku tidak menangis dan bersedih? Kalau aku merasa berdosa.!" Terang Kim kembali.
"Hust, ... diamlah okusan. Semuanya baik-baik saja. Mereka selamat dan sekarang mereka berada di tempat yang sangat aman." Ungkap Arthur, dengan tangan yang tak hentinya menghapus air mata sang istri yang mengalir dari mata indah pemilik hatinya itu.
"Mereka selamat.?"
"Hum. Mereka sekarang sudah aman, okusan."
"Benarkah,?"
"Iya. Aku tidak akan secoroboh itu, membuat mereka menjadi korban."
"Oh, sayang ku. Kau memang suami tampan ku yang paling terbaik."
"Begitukah."
"Hum, kau pria tampanku yang manis dan lucu."
"Kau, juga Istri ku yang tercantik di dunia."
Setelah mulut mereka saling memuji, kini mulut mereka saling bertautan dengan sangat lembut. Mereka kembali merasakan dunia hanya milik mereka berdua. Pasangan itu melupakan sosok pria yang kini bergeming ditempatkannya, ketika mata empatnya di suguhi tontonan romantis secara nyata.
"Apakah begitu indahnya jatuh cinta? Sehingga pangeran tampan seperti ku, dianggap pangeran nyamuk oleh mereka. Pasangan ini memang sangatlah, sungguh terlalu." Gerutu Natan, menatap sinis pasangan yang tidak perduli pada jiwa Casanovanya yang meronta.
"Astaga, tiba-tiba aku merindukan para kekasih ku." Cicit pria tampan itu.
"Hei!! Pekiknya menyadarkan pasangan tidak tau tempat itu.
"Berhentilah, memamerkan adengan mesum kalian." Ketus Natan sinis.
Arthur menarik wajahnya dari wajah istrinya dan ia berdecak kesal karena, proses pemulihan imun-nya lagi-lagi terganggu. Pria itu menoleh pada sang pelaku utama yang sudah menganggu kesenangannya bersama sang istri.
"Ck! Keluarlah kalau kau tidak kuat melihatnya." Cebik Arthur kearah sepupunya itu.
Natan tidak menimpali ucapan Arthur. ia hanya bertanya kepada intinya saja.
"Apa kau serius ingin membeli pesawat jet tempur.?" Natan bertanya pada intinya akibat kenapa dirinya berada di sini, bertemu dengan pria setengah jadi, dan sekarang dia harus merelakan empat mata sucinya ternodai.
"Serius!" Sahut Arthur pendek.
"Apa kau yakin tuan Arthur Cedrik Kato.?" Ucap Natan dan menekan perkataannya.
"Yakin.!" Jawab Arthur kembali singkat.
"Kau tidak ingin berpikir seribu kali lagi.?"
"Tidak.!"
"Apa anda tau , harga pesawat jet tempur yang anda pilih, tuan muda Kato.?"
"Tidak.!"
"Oh yah? Kenapa aku merasa ingin mencekik anda tuan muda Kato.?" Geram Natan.
"Itu tidak penting. Yang paling penting bagiku kebahagiaan Istri impianku," balas Arthur enteng.
"Harganya sangat mahal, Arthur Cedrik Kato.!!!
"Tidak masalah. Selamat itu memakai uang ku dan bukan mengadaikan dirimu." Cebik Arthur.
"Tap, ….," Ucapan Natan terhenti di udara saat Arthur menyela ucapannya kali ini.
"Diamlah. Sekarang aku ingin pesawat itu tiba malam ini.!" Titih Arthur bagaikan seorang raja.
"Tidak semuda itu, pulguso.!!! Pekik Natan frustasi.
"Apa kau pikir hanya kau saja yang membutuhkan imun dan belaian. Asal kau tau kalau diriku juga menginginkan sentuhan seorang wanita." Protes Natan yang sangat menjiwai adengan dramatisnya itu.
"Cih, dasar pangeran drama.
"Berikan aku 1 Minggu." Nego Natan.
"Oh, … tidak bisa begitu pria culun." Pekik Arthur dan pria itu berdiri dan mendekati sepupunya yang sedang memohon.
"Ayolah, dude. Aku juga butuh hiburan."
"Tidak, … tidak … dan tidak.!"
"Aku ingin pesawat pesanan istriku, sore ini harus berada di atas rooftop rumah sakit ini." Titih Arthur tanpa ditolak lagi, apa lagi di tawar.
"Bukankah begitu, okusan.?"
"Hum. Aku ingin melihatnya sekarang." Sela Kim.
"Kalian memang pasangan tidak berbelah kasihan kepada seorang Casanova sepi belaian ini." Ujar Natan penuh dramatis kembali.
"Cih drama."
"Aku, rasa Julia pasangan yang cocok dengan mu."
"It, …." Ucapan Natan kembali berhenti saat sebuah suara mendayu menyela ucapan penolakannya.
"Astaga, jiwa kurang belaian ku terpanggil.!" Sela Julia dengan senyum nakal penuh godaan kepada Natan.
"Jaga mata jelekmu itu, pria setengah jadi."pekik Natan.
"Aku suka suara mu, darling. Begitu seksi dan menggoda." Ujar Julia dengan pengucapan menggoda dan mendayu, yang membuat Arthur mendadak mual.
"Owek, …!"
"Apakah suamimu sedang hamil, kimby."
"Owek."
"Oh Tuhan, apakah dia benaran hamil.?
"Kau tau, aku juga ingin seperti, suamimu."
"Hei, pria setengah masak.!"
"Iya, darling."
"Berhentilah memanggil ku seperti itu.!"
"Baiklah, sayang."
"Oh God. Apakah boleh aku melemparkan pria jadi-jadian ini kelantai dasar.?"
"Aku hanya ingin dilempar dipelukan mu, pria tampan ku."
"Owek." Arthur begitu mual mendengar ucapan Julia yang menurutnya sangatlah mengelikan.
"Astaga, kimby. Suami mu benar-benar hamil." Teriak Julia, yang tidak lama mendapatkan sebuah lemparan bantal dari Kim.
"Diamlah. Kau berisik sekali.
"Aku, hanya penasaran, sayang.!!
"Hei, pulguso. Berhentilah memanggil istri ku sayang."
"Kau, terlihat tampan jika marah, sayang."
"Owek."
"Julio!!!
"Julia, kimby, J U L I A."
"Diamlah."
"Baiklah. Aku akan diam sambil memandangi pria-pria tampan disini."
"Cih. Dasar pria setengah masak."
*
*
*
"Sejak, kapan mommy mengetahui tentang Istri ku.?" Arthur dan mommy kini sedang berada di balkon diruangan rawat Kim.
Pandangan Arthur tidak lepas dari sosok istrinya yang sedang meringkuk mengarungi mimpi indah.
"Setelah berpisah dengan mantan suaminya." Jawab mommy yang ikut memandangi menantunya.
"Mommy juga tidak menduga kalau anak dari Carolina dan Damian masih hidup."
"Mommy, mendapatkan informasi dari seseorang."
"Siapa.?"
"Seseorang yang selama ini melindungi, Kim. Hidupnya selalu dalam bahaya, dia masih memiliki musuh dalam keluarganya sendiri."
"Siapa.?"
"Bibinya, carelina adik dari mommy Kim. Mereka saudara kembar yang sangat bertolak belakang. Carelina adalah wanita tamak dan serakah."
"Aku tidak mengingatnya."
"Kau tidak mungkin mengingatnya, kalau pikiranmu hanya soal kimberly."
"Aku hanya mengaguminya, mom."
"Peri es mu.?
"Hum. Peri es ku."
"Perhatian mu hanya tertuju pada peri es mu itu. Tanpa memperdulikan Cinderella yang begitu mengagumi mu. Dan sekarang pun dia masih mengagumi mu."
"Siapa? Kenapa aku tidak mengingatnya.!"
"Kau melupakannya, tapi sampai sekarang dia masih mengikuti mu dan mengharapkan dirimu."
"Apa maksud, mommy.?
"Belajarlah, peka dalam keadaan sekitar mu, son. Dan jaga istri mu baik-baik, dia masih menjadi incaran bibinya sendiri. Dan berhati-hati di mansion, dia adalah wanita yang sangat berani dan nekat.
"Apa maksud, mommy."
"Cinderella. Pengagum mu, berada di sekitar kita."
"Bisakah, mommy menjelaskan sejelas-jelasnya.?"
"Belajarlah, membaca keadaan sekitar kita, son."
"Lindungi selalu istri mu, hidupnya dalam bahaya."
"Apa dia dikelilingi oleh para pengkhianat.?"
"Seperti itulah."
Arthur terdiam mencerna semua ucapan dan nasehat sang mommy.
jangan lupa tinggalkan jejak jari jempol kalian bestie dan juga jejak jari-jari indah kalian di kolom komentar ☺️☺️🙏