Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 122


"Apa kau puas hari ini, okusan.?" Arthur mengejutkan sang istri dengan tegurannya dan juga kedua lengan kekarnya yang kini sudah  melingkar di pinggang ramping Kim. Arthur mengecupi pundak polos Istrinya dari arah belakang. Pria itu bahkan mengigit pelan pundak indah itu dengan gemes.


"Apa kau tidak merasa terganggu, dengan yang kulakukan.?" Tanya Kim balik sambil mengusap lengan suaminya.


"Tidak sama sekali. Aku bahkan ingin membantu mu,! Sahut Arthur dengan bibir yang masih sibuk mengecupi bahkan mengendus leher panjang Kim.


"Kau memang suamiku yang pengertian, sayang." Puji Kim dan mengecup puncak kepala Arthur yang berada di pundaknya.


"Tapi, dia sangat tergila-gila pada mu, baby." Goda Kim dengan tersenyum usil.


"Tapi, aku hanya tergila-gila padamu, okusan.!" Sahut Arthur dan menggigit pundak terbuka Kim.


"Apa kau ingin menggigit yang lain, sayang.?! Tawar Kim dan membalik tubuhnya dan langsung meloncat ke atas gendongan suaminya.


"Hum! Angguk Arthur.


"Bawa  aku ke kamar dan kita akan melakukan kegiatan gigit- gigitan," ujar Kim sambil terkikik.


 


"Okusanku, ternyata mulai nakal.!


"Suamiku yang polos ini mulai mesum."


"Aku hanya mesum pada mu, baby."


"Sama saja, suamiku sayang,!"


"Tapi sayangnya, aku tidak peduli. Sekarang aku hanya ingin cepat bertemu Mochi ku.!"


"Dasar suamiku yang mesum."


Arthur tidak tertarik lagi menyahuti ucapan Istrinya. Ia hanya tertarik pada bibir seksi Kim yang merekah menggoda itu. Tanpa menunggu, perintah, aba-aba dan wanti-wanti Arthur segera saja nyosor bibir Kim yang tebal seksi itu.


Pasangan itu berjalan ke arah kamar mereka dengan bibir yang saling menyapa mesra. Saling membelit lembut dan sang Indra perasa itu kini sudah menari-nari di rongga mulut mereka, menyapa para penghuni rongga mulut pasangan itu. Benda kenyal tanpa tulang itu kini makin lama makin menjadi hawa menuntut untuk menuju, mahligai penyatuan yang bisa membuat mereka, melayang tinggi dan melupakan semua beban yang menghimpit berganti kenikmatan.


Kim dan Arthur kini sedang melakukan keintiman itu dengan semangat dan penuh perasaan. kini pasangan itu,  telah meraih kenikmatan yang memabukkan.


Mereka melupakan bahaya yang sudah menunggu keduanya di ambang pintu pertempuran kembali.


*


*


*


Sementara di mansion mewah dengan nuansa Eropa klasik yang memiliki pilar-pilar megah dan kokoh. 


Di Dalam Mansion. Seorang wanita yang tidak muda itu lagi tapi masih terlihat segar. Wanita yang biasa di panggil nyonya Carol. Nyonya Carol melemparkan iPad canggih dan mahal itu, sehingga mengenai sebuah panjangan mahal sang nona.


Wanita itu baru saja melihat, sebuah tayangan video yang dikirimkan seseorang yang ia benci.


Nyonya Carol. Menggeram marah atas apa yang ia lihat. Sang anak  satu-satunya sedang di siksa.


"ini sungguh keterlaluan!! teriak wanita paruhbaya itu.


"Len!


"Iya, nyonya.!"


"apa dia keponakan ku.?


"iya nona!


"Ternyata dia sama seperti orang tuanya."


"Apa yang kita lakukan sekarang, nyonya."


"Kita musnahkan dan singkirkan. Bukankah sudah lama aku tidak bertemu keponakan ku itu. Aku ingin menyapanya! Jadi buatkan aku jadwal untuk bertemu dengannya."


"baik, nyonya."


asisten nyonya Carol, meninggalkan majikannya yang masih sedang memikirkan sebuah rencana untuk melenyapkan nyawa keponakannya itu. senyum seringai muncul di bibir nyonya Carol, ketika mendapatkan sebuah rencana yang sangat pas untuk keponakan mengerikannya itu.


"aku sudah tidak sabar bertemu dengan mu, keponakan cantik ku." monolog nyonya Carol.


"kau sudah berani menyentuh dan melukai anak tercinta ku. kau harus membayar mahal atas apa yang kau lakukan pada putriku ku, kimberly ligh Hugo."


"kau ternyata sang mirip dengan ibumu.!"


"kau juga sangat menurunkan kekejaman ayahmu.!" nyonya Carol terus bermonolog sendiri di dalam ruangannya.


nyonya Carol menggapai ponselnya diatas meja kerjanya dan melakukan panggilan kepada seseorang diseberang sana.


"bagaimana!


" ..."


"bagus. jaga mereka baik-baik,. karena aku masih membutuhkan mereka."


" ..."


"hm. berikan saja."


" ...."


"baiklah ..."


"hum!


"Tut."


nyonya Carol mematikan panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya.


"sepertinya, ini akan berhasil.!" ujar nyonya Carol sinis.


"tunggu aku keponakan ku sayang.!"


*


*


*


Arthur menyengit binggung dan menatap Kim dan Jenny berganti.


"bersiap? tanya Arthur penasaran.


"hum. kami akan kembali ke kota Paris besok." jawab Jenny. Kim hanya terdiam saat mata tajam suaminya menyorotinya.


"kau tidak memberitahukan ku, okusan.?!


"maaf. aku lupa.!


"oh Tuhan. untung aku sayang padamu.!"


"kau ikut.?


"tentu saja aku ikut. aku mana bisa di tinggal sendiri.!"


"aku juga tidak rela membiarkan mu sendiri disini. terlalu banyak ulat keket yang mendekati mu, sayang.!"


"kau, cemburu, honey.!"


"apa aku terlihat bahagia saat suami ku dikelilingi ulat keket.?"


"kau terlihat seperti psikopat.!" cibir Jenny.


"bukankah itu keren.?


"keren. sangat ... keren."


"terimakasih, pujian mu, Jenny."


"cih!


"selamat malam menjelang tidur malam.!" suara berat dan serak membahana di dalam mansion itu. Natan yang baru tiba dari kencannya, kini memasuki mansion dengan senyum cerah.


senyum manisnya ia pamerkan kepada para mahkluk beda jenis di depannya. Natan mencengir, memperlihatkan gigi putihnya dan juga sebuah lesung pipi di sebelah kiri wajahnya.


Natan menyapa ketiga manusia itu disana. di ruangan santai. dengan senyum tampan yang menawan dan binar mata yang bahagia terlihat jelas di balik kacamatanya pria itu.


"cih! Arthur berdecih melihat senyum Natan.


"selamat malam dan selamat menjelang tidur semua.!" sapa Natan dengan setengah membungkuk.


"hai, ... bidadari bermata empat ku, yang jatuh dari pelukan ku.!" sapa Natan kepada Jenny.


Jenny memperbaiki letak kacamata bulatnya dan menatap sengit kepada Natan.


"astaga tatapan mu sungguh membuatku meleleh, sayang.!" kini Natan dalam mode mata keranjang dan juga dalam mode mata bathin.


"jangan memanggilku sayang. aku merasa geli.!" ketus Jenny.


Natan menghampiri wanita bermata empat itu. tanpa pamit Natan duduk disebelah Jenny.


"apa kau ingin belajar untuk tidak geli lagi.?!


"maksudnya.?"


"supaya kau tidak geli kalau di sentuh seperti ini.!" ujar Natan dan mengambil tangan Jenny dan mengeggamnya.


"apa yang kau lakukan.! pekik Jenny.


"memberikan saluran energi positif kepada mu."


"positif mesum." sela Arthur sinis kepada Natan.


"Jangan macam-macam padanya.!" sambung Kim yang sejak tadi menyimak perdebatan Natan dan Jenny.


"aku hanya satu macam, kakak ipar." sahut Natan.


"cih!


"memangnya kau ada berapa, kalau bukan satu macam.!" tanya Jenny polos.


"banyak!


"banyak?


"hum. salah satunya kalau aku khilaf, maka aku akan membuat bermacam-macam model dan gaya."


Jenny terbengong mendengar ucapan Natan. wanita itu menampilkan wajah binggung yang sangat mengemaskan. ingin rasanya Natan khilaf saat ini. saat netranya menatap bibir mungil Amber yang merekah merah.


"kau mau contoh.!


"hum!


"baiklah tutup matamu.! pinta Natan yang tidak bisa berpaling dari bibir merah merekah Jenny.


dengan patuh Jenny menutup matanya. dia juga merasa heran, kenapa dia harus tutup mata? cara apa yang ingin di tunjukkan pria ini?


tak lama kemudian sebuah benda lunak dan hangat menyapa bibirnya yang mungil merekah. Amber membuka matanya dan maniknya membulat seketika saat Natan mengecup bibirnya yang masih bersegel itu yang masih original 100 persen.


"ahkkk!!


"ciuman pertama ku."


"oh Tuhan aku sungguh beruntung mendapatkan bibir perawatan.!


"dasar pria pencuri!


"yah aku pencuri hatimu, sayang.!"


"akh!!


"dasar laki-laki mesum culun.!!