Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 97


"Lihatlah.!" Jenny menyerahkan iPad-nya kepada, Kim.


"Apa.?" Jawab Kim, dengan alis mengerut.


"Lihat saja sendiri." Sahut Jenny tak acuh.


Kim menyalakan iPad yang ada di tangannya. Ia melebarkan manik biru kehijau-hijauannya, saat melihat sebuah berita beserta gambar yang ada di dalam iPad yang diberikan Jenny tadi.


Di dalam iPad itu tertulis sebuah berita tentang, pembunuhan sadis, yang dilakukan oleh model terkenal Lotte Simpson kepada Malvin Abraham dan manejernya Mogan.


Kimberly menatap Jenny yang duduk di hadapannya. Ia menyimpan iPad itu diatas meja. Kim butuh penjelasan atas berita yang barusan ia lihat.


Jenny menghela nafas sesaat dan membuangnya dengan berlahan juga. Jenny membalas tatapan yang penuh keingintahuan wanita di hadapannya ini.


"Lotte, yang membunuh mereka." Ungkap Jenny. Dan menjeda ucapaan sebentar.


Kim hanya diam dengan wajah datarnya, sambil menyimak perkataan Jenny.


"Lanjutkan." Perintah Kim dingin.


"Wanita itu, melarikan diri dari Tahanan, setelah membuat keributan. Ia mendatangi kediaman pria itu, dan ia mendapati suaminya sedang asyik di tempat tidur dengan manejer sendiri. dan ternyata Lotte hanya di jadikan tumbal oleh Mogan untuk memisahkan mu dengan Malvin. Lotte tidak terima dan di akhirnya menghabisi mereka berdua dan wanita itu juga mengakhiri hidupnya dalam keadaan hamil." Kim, mendengarkan informasi jenny dalam diam dengan wajah yang tidak bisa di tebak.


"Aku tidak menyangka, mereka saling mengkhianati. Padahal dua wanita itu begitu akrab," cih." Jenny berdecih dan terkekeh.


"Bukankah, Ini karma buat mereka semua.?" Sambung Jenny.


"Mungkin." Sahut Kim dengan wajah datar.


"Ck! Wajah mu sangatlah menyebalkan kalau bersama ku. Dan wajah mu akan terlihat menjijikkan bila bersama suami polosmu itu." Sinis Jenny kesal.


Kim tidak menimpali ucapan Jenny. Ia kembali terdiam dan menerawang jauh kedepan dengan tatapan tajam.


Jenny meninggalkan wanita itu disana. Ia sangat mengerti apa yang kini sahabatnya itu rasakan.


Dia membiarkan Kim untuk merenungi lagi atas kejadian yang menimpa mantan suaminya dan juga mantan sahabatnya itu.


"Kalian memang berhak mendapatkan semua ini. Ternyata Tuhan itu sangatlah adil. Kalian mendapatkan hukuman dan karma kalian masing-masing."


"Kalian sungguh menyedihkan."


"Tanpa aku melakukan apapun, kalian sudah pergi."


"Selamat tinggal dan berdamailah kalian disana."


Kim bermonolog sendiri di balkon ruang santai yang ada dilantai dua.


Kim tersenyum miring atas berita yang ia dapatkan hari ini. Ia merasa lega, tanpa melakukan apapun mereka mendapatkan hukumannya sendiri.


Kim Kembali ke alam sadarnya saat ponselnya bergetar. Kim meraih benda pipih itu yang berada di atas sofa santai di balkon itu.


Ia menyengit saat mendapatkan panggilan dari nomor baru. Kim menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga.


"Halo." Jawab Kim dingin.


"Halo, okusan." Sapa seorang pria diseberang sana.


"Kau! Seru Kim. 


"Iya. ini aku suami, okusan."


"Kau mencuri nomorku, sayang." 


"No. Aku mengambilnya dari ponselmu."


"Sama saja, honey.!


Terdengar tawa renyah dari suaminya di seberang sana. Kim ikut tersenyum mendengar tawa suaminya, wanita itu mendekati pagar besi penghalang yang ada di balkon sambil tersenyum mendengar colotehan suami tampannya.


"Bisa kau kesini, okusan.!" Ujar Arthur di seberang sana.


"Baiklah, honey." Sahut Kim.


"Baiklah, aku menunggu." 


"Hm."


"Baiklah Okusan," muach.!!!


"Aku menunggu mu." Lirih Arthur manja.


"Aku akan segera datang, sayang. Tunggulah." Jawab Kim.


"Bay, okusan."


"Bay juga, sayang."


Kim tersenyum sambil melihat ponselnya, ia bagaikan seorang ABG yang sedang kasmaran, setelah mendapatkan panggilan dari suami tampannya.


"Dia begitu manis." Gumam Kim. Dan wanita itupun meninggalkan balkon itu dan berjalan kearah kamarnya. Ia akan bersiap terlebih dahulu, sebelum mendatangi kantor suaminya.


Kim mengambil sebuah stelan casual dan juga sepasang sepatu Kets berwarna putih.


Ia ingin ke kantor suaminya dengan penampilan santai, sesuai selera wanita ini. Kemeja polos dan bawahan celana pendek di atas paha. Kim hanya ingin tampil senyaman mungkin. Ia sangat tidak menyukai penampilan yang membuatnya tidak nyaman.


Kim berjalan kearah kamar mandi. Ia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mendatangi kantor suaminya.


*


*


*


Sementara di perusahaan Kato group.


Arthur  keluar dari mobilnya, setelah seorang penjaga membukakannya pintu mobil. Arthur memasuki lobby perusahaan dengan wajah, datar dan dingin. Derap langkah pria bermata sipit nan tajam itu, menggema di seluruh lobby perusahaan, yang tiba-tiba sunyi dari keramaian karyawan yang lalu-lalang. Mereka semua kini sedang berbaris dan menundukkan kepala mereka semua untuk menyambut kedatangan big boss di perusahaan mereka bekerja.


Para karyawan kini membungkukkan badan mereka, ketika sang big boss melewati mereka semua. Tidak ada yang berani mengangkat kepala, selagi sang big boss masih merada di sekitar mereka semua.


Arthur terkenal dengan sifat dinginnya apabila di perusahaan. Ia akan menampilkan wajah datar apabila mengenai pekerjaan atau melakukan pertemuan.


Dia akan berubah polos dan manis apabila berada di lingkungan mansion saja. Siapa yang akan mengira kalau, big boss yang terkenal dingin dan datar itu adalah, seorang pria yang sangat polos dan oon soal peranjangan.


Semua para karyawan melepaskan nafas lega mereka, saat sang big boss sudah menghilang dari hadapan mereka semua.


"Kembali pekerjaan." Pekik salah satu manejer di sana.


"Baik, sir." Jawab mereka semua.


"OH Tuhan. Kepada tuan muda Kato begitu tampan sekali." Sorak salah satu karyawan wanita dengan penampilan yang begitu seksi.


"Tapi, sayang dia tidak sedikitpun melirik ku."


"Apa aku kurang cantik? Atau kurang seksi.?" Ujar wanita itu sambil menelisik penampilannya di dinding kaca yang mengkilat.


"Kau kurang alami." Sela wanita yang lain.


"Maksud kamu apa, hah." Teriak wanita seksi itu merasa tersinggung.


"Maksudku, penampilan mu penuh tipuan palsu." Sinis wanita itu lagi.


"Hei, … jaga ucapanmu wanita sialan." Geram wanita seksi itu tidak terima.


"Bukankah, tebakan ku benar? Kalau yang ada di tubuhmu ini semuanya palsu.?" Cibir wanita itu lagi yang cibiran nya makin pedas. Membuat kepala wanita seksi itu mengepul. Wanita seksi bahenol itu, mendekati rekannya yang sejak tadi mengejek dirinya. dia akan memberi pelajaran buat wanita ini, tapi niatnya terhenti saat teriakan seorang wanita tambun menghentikannya.


"Apa-apa ini." Pekik wanita tambun itu.


"Kembali pekerjaan." Perintahnya lagi.


"Dasar wanita pemalas."


"Pamela! Kembali ketempat mu." Suruhnya pada wanita yang berbaju Seksi tersebut.


"Gea! Perintahnya juga pada wanita yang memiliki mulut pedas.


"Awas, kau." Ancam Pamela.


Gea hanya tersenyum sinis dan kembali ke meja kerjanya yang berada di ujung.


"Dasar, wanita murahan." Gumam Gea.


"Enak aja semua  asetku, dikatai palsu." Gerutu Pamela geram. 


*


*


*


"Selamat pagi menjelang siang bos." Sapaan suara berat mengejutkan Arthur yang baru keluar dari lift khusus untuknya.


"Ck! Arthur hanya berdecak malas.


"Wow, ini adalah hari pertama mu datang terlambat, dude." Ejek pria tampan yang ikut melangkah di samping Arthur.


"Diamlah." Cebik Arthur cuek.


"Mana jadwal ku." Pinta Arthur, kepada pria yang hanya menatap dirinya sinis.


"Sebentar." Sahut pria itu.


"Cleopatra, kemarilah."


"Cleopatra.?" Arthur yang ingin mendudukkan dirinya di kursi kerjanya berhenti saat mendengar ucapan asistennya.


"Iya. Dia adalah sekestaris baru buatmu." Jawab pria tinggi dengan wajah yang begitu tampan yang dihiasi kacamata bening.


"Sekestaris.?" Arthur membeo.


"Iya. Dan dia seorang wanita cantik, lebih cantik dari kekasih mu Calista, ck." 


"Tapi, aku tidak butuh sekestaris, Jhonatan.! Geram Arthur.


"Apa lagi seorang wanita.! Geram Arthur.


"Why." 


"Bukankah, itu bagus? Agar kau terbiasa dengan pemandangan indah yang bisa membuat benda mu ini bereaksi.?" Ujar pria itu dengan melirik benda ajaib Arthur.


"Hei, aku rasa ada yang berubah dari tampilan benda ajaib mu, dude." Telisik pria yang bernama Jhonatan itu kearah bawah Arthur.


"Apa yang kau lihat, sialan." Pekik Arthur, menutupi benda berharganya.


"Aku, merasa dia lebih menonjol? Biasanya benda mu ini terlihat datar, tapi kenapa dia terlihat menonjol.?"  Ujarnya sambil meletakkan tangannya di bawah dagu lancip terbelah pria itu.


"Kau merubah bentuk nya.?" Tuduh pria itu.


"Jhonatan sialan.!!!! Teriak Arthur.


"Ck. Kau berisik sekali."


"Katakan padaku, kenapa punyamu berubah bentuk.?"


"Bukan urusanmu."


"Ayolah, dude.!


"Menjauhlah, bedebah."


"Ayo katakan padaku, apa yang kau gunakan untuk membuat benda mu ini membesar.?" Tanya Jhonatan dan ingin memegang benda ajaib Arthur, tapi sebuah suara lembut menghentikan gerakannya, yang malah membuat wanita yang baru masuk itu salah kaprah.


"M-maaf, aku menganggu kesenangan kalian." Ucap wanita cantik itu gugup dengan wajah jijik menatap dua pria tampan di depannya.


"Shi*t."


"Jonathan.!!!!


"Astaga, ternyata mereka begitu menjijikkan."


"Percuma mereka tampan kalau ternyata jeruk makan jeruk, pisang ketemu pisang."


"Menjijikkan."