Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 118


"Selamat datang, selamat pulang kembali." Seruan mommy Gabriela membuat, Kim, Arthur, Natan dan Julia menyengit kaget.


"Mommy! Pekik Arthur yang ingin meralat ucapan selamat mommy nya.


"Ada apa anak kesayangan, mommy." Jawab mommy tersenyum bahagia.


"Apa maksud mommy,. Selamat datang kembali. Apa mommy tidak menginginkan istri cantik kesayangan ku ini pulang." Protesnya panjang kali lebar. dan Apakah itu?


"Apa maksudmu, anak bodoh." Pekik mommy.


"Mommy, seakan-akan mendoakan istri ku tidak akan kembali lagi." Sahut Arthur.


"Oh Tuhan. Kapan mata anakku ini berubah lebar."


"Apa maksud mommy! Mommy menghinaku sipit.?


"Bukankah mata mu memang, sipit dan sempit." Sela Natan dengan mencibir.


"kau! hardik Arthur sengit.


"Aku suka pria sipit." Kali ini si Julia ikut menimpali.


"Eh. Aku tidak menyuruhmu mengeluarkan suaramu, pria jadi-jadian.!"


"Aku hanya memuji mu, tampan."


"Aku tidak membutuhkan pujian menjijikkan mu.!"


"Arthur anak pintar, kesayangannya, mommy, …? Jaga sikap mu, son." Seru mommy, memberikan peringatan kepada sang putra.


"Mom. Jangan memperlakukan aku seperti itu. Aku jadi malu, apalagi ada istri ku disini." Protes Arthur manja.


"Cih. Mengelikan."


"Eh sepupu, sialan."


"Sudah-sudah, kalian selalu saja ribut." Mommy menyela perdebatan Arthur dan Natan.


Kini mommy beralih menatap Kim dan menuntun menantunya itu duduk.


"Bagaimana keadaan mu, nak.?" Tanya mommy Gabriela lembut.


"Baik, mom. Keadaan ku sudah membaik,!"


Jawab Kim lembut.


"Syukurlah, sayang." Balas sang mommy sambil mengusap rambut Kim penuh kasih sayang.


"Mommy! Jangan memanggil istri ku sayang. Aku tidak terima." Protes Arthur lagi, kali ini dengan sikap keposesifannya.


"Cih! Lebay." Cibir Natan sinis.


Arthur hanya mendelik kearah Natan dan pria itu segera duduk di dekat istrinya dan menariknya kesisi.


"Dasar, bucin.!" Cibir Natan.


"Julia! Panggil Arthur.


"Iya tampan." Sahut Julia dengan nada mendayu.


"Buat dia bucin padamu" suruhannya.


"Dengan senang hati, tuan." Jawab Julia dan tersenyum nakal kearah Natan.


Natan bergedik geli dan duduk di samping mommy Gabriela, memeluk wanita paruhbaya itu dengan sayang.


"Mommy kapan aku bisa memiliki mahkluk mengemaskan seperti kakak ipar.?" Keluh Natan manja.


"Hei, tidak akan ada lagi istri mengemaskan seperti istri ku ini." Sela Arthur.


"Aku bicara dengan mommy, bukan dengan mu." Balas Natan sengit.


"sudah, sudah.!! sela mommy.


"Lebih baik, kau istirahat dikamar sayang.!" Perintah mommy Gabriela.


"Hum.! Sahut Kim sambil mengangguk.


Arthur dengan segera membantu istrinya berdiri dan menuntunnya menuju lift yang akan membawanya kelantai atas dimana kamarnya berada.


"Aku bisa jalan sendiri, sayang." Protes Kim.


"No! Aku akan tetap menemani mu." Tolak Arthur.


"Sayang!


"Tidak, istri cantikku.!


Mereka pun saling berdebat menuju lift khusus mengantar mereka keatas. Tapi langkah mereka terhenti, saat seorang pelayan tanpa sengaja menyenggol pundak Arthur dan membuat pakaian Arthur kotor.


Pelayan dengan tampilan culun itupun, menunduk dan meminta maaf.


"M-maafkan, saya tuan." Mohonnya sambil menunduk.


"Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah." Jawab Arthur dingin, tanpa melirik sedikit pun pelayan yang kini bergeming dan menatap Arthur penuh puja dan kagum.


Kim memicingkan maniknya tajam. Ia menelisik penampilan pelayanan itu dalam diam. Ia merasa aneh pada sosok pelayanan culun ini. Kim menilai gadis didepannya dari bawah keatas, alisnya menukik heran saat ia menemukan kejanggalan pada penampilan pelayanan culun itu.


"Biar aku membantu anda membersihkan, pakaian anda tuan." Ujar pelayan yang bernama Clara itu. Ia dengan gesit membersihkan pakaian kotor Arthur dengan hati-hati. Ia diam-diam menyentuh kulit lembut Arthur dengan perasaan senang dan maniknya tidak lepas dari Arthur.


Arthur menyentakkan kasar tangan clara. Ia menajamkan matanya pada Clara. Ia tidak suka disentuh oleh wanita lain selain istrinya.


"Jangan menyentuh ku." Pekik Arthur dan mendorong Clara kasar, sehingga gadis itu terjungkal kebelakang. Clara tersentak kaget melihat reaksi Arthur.


Clara bangkit dan mendekat kembali pada Arthur dan Kim.


"M-maafkan saya tuan. Saya hanya ingin membersihkan pakaian anda." Mohon Clara dengan raut wajah di buat sedih.


Gerak-gerik Clara tidak luput dari mata jeli Kim. Ia tersenyum sinis saat menyadari sesuatu.


"Ulat keket nekat ternyata.!" Batin Kim.


"B-baik tuan." Jawab Clara gugup.


"Pergilah! Perintah Arthur dingin.


"Baik tuan."


Clara pun menjauh dari pasangan suami-istri itu dengan perasaan kesal dan dongkol. Niat hati ingin menggoda dan memanasi Kim berujung memalukan. Ternyata Arthur bukan tipe pria pencicilan. Dia sosok pria dingin ternyata.


Kim masih menatap punggung Clara dalam diam. Ia terlihat tersenyum samar.


"Sepertinya, aku akan bermain-main dengan ulat keket lagi." Gumam Kim dalam hati.


"Ayo, sayang.!" Ajak Arthur sambil menarik tangan istrinya lembut dan membawanya masuk kedalam lift.


*


*


*


Kim memasuki kamar mereka, tapi tiba-tiba alisnya menukik dan hidung mancungnya terlihat mengerut, ketika indara penciumannya disajikan aroma parfum wanita asing. Kim lama terdiam di pinggir ranjang dengan pikiran yang berjalan-jalan kemana-mana. Seringai nya muncul saat menyadari sesuatu.


"Ternyata dia memang sangat nekat. Baiklah kita lihat permainan tersembunyi bibit pelakor itu." Gumam Kim.


"Apa yang sedang kau pikirkan, okusan.?" Arthur memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengecup pundak Kim.


Wanita itu berbalik dan menatap lekat sang suami. Ia mengecup sebentar bibir tipis candunya.


"Apa kau tidak mencium bau, hantu di sini.?" Tanya Kim dan bergelayung manja di pundak suaminya.


"Bau hantu? Tanya balik Arthur dengan binggung.


"Hum. Coba pejamkan mata dan rasakan,! Pinta Kim.


Arthur pun melakukan perintah istrinya dan ia menatap Kim dengan wajah tidak terbaca.


"Apa.?"


"Aku cuma mencium, bawa cintaku pada mu." Sahut Arthur penuh gombalan.


"Oh, sweet sekali.!? Jawab Kim dengan senyum terpaksa.


"Aku suami mu jadi aku harus pintar mengombal mu, sayang."


"Tapi bukan itu yang aku, maksud, honey."


"Jadi!


"Hah. Lupakan."


"Kau mau kemana, okusan."


"Mandi, baby.!"


"Ikutt!!!.


"Brakkk."


" Okusan.!"


*


*


*


"Nona kenapa.?" Malika asisten Clara bertanya pada nona muda-nya itu. Melihat wajah suram nona-nya.


"Diamlah! Bentak Clara.


"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu." Gumam Clara sambil mondar-mandir di balik pintu kamar khusus pelayan.


"Aku tidak ingin usaha ku menjadi sia-sia karena wanita itu. Aku harus menyingkirkan nya."


"Aku sudah mengorbankan masa muda ku dan kesenangan ku hanya bisa berada di dekat pria impian ku."


"Aku rela dihina dan di rendahkan. Aku tidak boleh kalah. Aku harus melakukan secepatnya, menghabisi wanita murahan itu."


"Ada apa, nona.!"


"Diamlah Malika. Diam kataku.!!!


"Kau membuatku pusing.!"


"Katakan. Apa yang harus aku lakukan supaya bisa menyingkirkan wanita itu.?


"Anda tidak boleh ceroboh, nona dan bersabar lah. Kita akan melakukannya secara berlahan dan diam-diam."


"Tapi aku sudah tidak sabar."


"Akhhh!


"Pranggg!


"Nona. Kendalikan emosi anda.!"


"Kau, memerintah ku.?"


"T-tidak nona. A-aku hanya mengingat kan, nona.!"


"Akk!


"Dasar wanita pengganggu murahan!"