Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
pengumuman


Judul Novel :Ku Pinjam Kekasihmu


Author : Teh ijo


Sinopsis :


Akibat kesalahpahaman, Kai harus menikahi Jane yang sedang hamil. Siapa yang makan nangka, siapa juga yang kena getahnya. Begitulah kata yang tepat untuk Kai.


Siang itu, Kai sengaja menjenguk Jane yang menempati apartemen lamanya. Sudah hampir dua bulan Jane tinggal di sana, karena Kai merasa kasian atas nasib yang tengah menimpa Jane.


Kai penasaran karena sudah dua hari Jane tidak masuk kerja dan tak ada kabarnya. Kai takut kejadian-kejadian yang lalu terulang kembali. Meskipun bukan Kai ayah dari janin yang sedang dikandung oleh Jane, tetapi Kai sangat mengkhawatirkan Jane dan juga janinnya. Sudah beberapa kali Jane mencoba untuk melakukan bunuh diri, beruntungnya Kai selalu datang tepat pada waktunya. Jika tidak, mungkin sekarang hanya tinggal nama Jane saja yang tersisa.


Kai membuka pintu apartemen sambil memanggil nama Jane. Tak ada sahutan, ruangan juga berantakan. Kai yang penasaran segera masuk kedalam kamar untuk memastikan bahwa Jane berada didalam sana.


"Jane," panggil Kai.


Mata Kai menangkap tubuh Jane yang terbaring diatas ranjang yang masih berselimut. Kai takut jika Jane yang terbaring sudah tak bernyawa lagi.


"Jane." Kai memeriksa nafas Jane yang masih terasa, namun terlalu panas. Kai menempelkan telapak tangan di kening Jane, ternyata benar, Jane tengah demam.


"Astaga Jane." Kai sangat panik, ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya, namun cepat-cepat Kai menelepon dokter untuk datang memeriksa Jane.


Sambil menunggu kedatangan sang dokter, Kai berinisiatif untuk mengompres kening Jane menggunakan handuk kecil. Hai itu Kai ketahui dari pengalamannya saat sakit dan dirawat oleh ibunya. Berhubung saat ini Jane sedang hamil, Kai tidak berani memberikan obat sembarangan kepada Jane. Ia harus menunggu dokter.


Lima belas menit dokter Armada sudah tiba dan segera mengecek keadaan Jane.


Kai sangat khawatir akan kondisi Jane beserta janinnya. "Bagaimana keadaannya, Dok?"


Dokter Armada membuang berat nafasnya sambil menatap Jane yang sudah ia berikan paracetamol.


"Dia hanya demam saja. Beruntung janinnya tidak apa-apa. Dia juga terlihat stres. Kalau bisa tolong hindari stres karena itu hanya akan mengganggu janinnya," ucap dokter Armada.


Setelah kepergian dokter Armada, Kai memandangi Jane yang terlelap akibat obat dari dokter. Mata Kai mengedar, melihat keadaan sekitar yang berantakan. Kai sangat tidak menyukai tempat yang berantakan, akhirnya memilih membereskan dari apartemen yang ia sewakan secara gratis untuk Jane.


Setelah membersihkan seluruh ruangan, Kai merasa lelah dan gerah. Saking gerahnya Ia membuka tiga kancing kemeja bagian atas. Ingin mandi, tetapi tak mempunyai baju ganti. Ingin pulang tetapi, Jane belum sadar.


Kai memilih untuk menunggu Jane hingga sadar sebelum pulang. Ia harus memberitahu bahwa saat tinggal disini kebersihan harus di jaga, karena Kai tidak mau apartemennya berantakan, meskipun bukan dia yang menempati.


Jane mulai tersadar, ia memegangi kepalanya yang masih menyisakan rasa sakit. Kai yang melihat pergerakan Jane segera menghampirinya.


"Kamu udah sadar. Mau makan?"


Jane berusaha menyempurnakan penglihatannya. Ingin memastikan siapa laki-laki yang berada di kamarnya.


"Kai?" Jane sudah bisa melihat dengan jelas.


"Kamu kenapa lagi sih, Jane? Bisa gak hidup yang baik tanpa perlu membuat orang lain khawatir? Kalau kamu mati disini, pasti aku akan di interogasi oleh polisi, karena ini adalah apartemen milikku."


Baru juga Jane tersadar, mengumpulkan segala tenaganya namun, mengapa mulut Kai terlalu licin saat berbicara? Tidak bisakah Kai sedikit lembut, mengingat Jane yang baru saja tersadar?


"Kai, kamu cerewet. Kepalaku masih pusing."


"Oke, sorry. Sekarang kamu makan ya. Kata dokter kamu harus makan, kasihan anak kamu. Bikinnya aja lupa dunia, giliran udah jadi mau disia-siakan. Dosa tau, Jane."


Jane menerima piring yang diberikan oleh Kaisar dengan tangan bergemetar. Kai membuang kasar nafasnya. "Sini biar aku suapi."


Tanpa perlawanan, Jane menuruti ucapan Kai. Sudah hampir dua hari dirinya tidak bangkit, apalagi makan. Jane menghabiskan makanannya membuat Kai merasa heran. "Kamu lapar apa doyan sih, Jane?"


"Dua-duanya. Udah dua hari aku gak makan. Makasih ya, masakan kamu lumayan enak."


"Darimana kamu tahu kalau aku yang masak?"


"Dari menunya, telur gulung. Karena di dapur hanya tinggal telur yang tersisa."