
"Honey, jangan takut. Aku akan memberikanmu sebuah kenikmatan yang tidak pernah kau rasakan, honey." Calista yang kini sudah mengikis jarak diantara dirinya dan Arthur.
"No. Darling, aku tidak bisa melakukan itu," Tolak Arthur yang kini mulai berkeringat dingin.
"Menjauhlah, darling. Kau membuatku ketakutan," Lirihnya dengan nada takut dan mendorong pelan pundak Calista.
"Come on, honey. Masa kau tidak bernafsu melihat tubuh polosku ini," seloroh Calista dan membawa telapak tangan Arthur, kearah aset dadanya yang menjulang tinggi dan padat.
Arthur menarik kasar telapak tangannya yang menempel di salah satu aset dada Calista.
"M-minggir, lah," pinta Arthur dan mendorong kasar Calista.
"Aku, tidak menyangka ternyata dirimu sangat mudah memberikan hal berharga yang ada pada dirimu, kepada seorang pria yang bukan suamimu," Sarkas Arthur yang kini berada jauh dari Calista.
Calista yang mendengar ucapan sarkas Arthur hanya bisa, bergeming di tempatnya dan menatap dalam manik coklat nan tajam sang pria.
"Aku, hanya ingin memberikannya pada mu, honey." Elak Calista.
"Tetap saja, kita tidak bisa melakukannya tanpa ada ikatan pernikahan. Dan aku tidak mau melakukannya tanpa adanya ikatan pernikahan. Jadi, maafkan aku tidak bisa melakukannya. Aku merasa kau sudah menghinaku, darling. Kau seakan menganggap ku sebagai pria brengsek seperti pria di luaran sana. Dan aku tidak percaya, ternyata dirimu seperti ini." Terang Arthur. Yang tidak percaya akan sikap agresif sang wanita yang ia ketahui adalah wanita polos dan lemah lembut.
Calista kembali bergeming, dia menatap Arthur yang kini berjalan kearah pintu apartemen miliknya.
"Aku pulang!" Pamit Arthur dingin.
"H-honey!" Calista yang tersadar dari rasa tertekun nya, mencoba menghalangi langkah Arthur. Tapi sayang, pria keturunan Jepang Amerika itu, sudah keluar dari unit miliknya. Tidak mungkin dirinya mengejar Arthur dengan keadaan tanpa sehelai kain pun melekat di tubuhnya.
"Shi*t," umpat gadis itu, sambil menyapu wajahnya kasar mengunakan telapak tangannya.
"Kenapa, juga aku harus terburu-buru. Dan kenapa aku bisa lupa kalau dia adalah pria lemah. Masa tubuhnya tidak sedikitpun merespon keadaanku yang sudah bertelanjang," sungut Calista.
Gadis itu lantas menghempaskan tubuh polosnya di atas sofa dan ia bermaksud menghubungi seseorang yang biasa menghabiskan waktu panas bersamanya.
Niatnya di urungkan, saat mendengar pintu unit apartemennya terbuka dan tertutup kembali.
Calista tersenyum menggoda dan segera memasang pose menggoda di atas sofa.
"Wow. Apa ini, baby." Seorang pria bertubuh kekar memasuki unit Calista dan mendapatkan pemandangan yang sangat indah.
"Aku, sedang menunggu mu, honey," ucap Calista dengan nada sedikit berbisik dan membelai tubuhnya sendiri dan menjilatii bibir bawahnya sendiri.
Pria kekar di depan, Calista pun tiba-tiba memanas dan segera membuka semua kain yang menempel pada tubuh kekarnya dan langsung menyerang mahluk menggoda di depannya.
Terjadilah adengan saling memberi kenikmatan di siang hari itu. Hanya deesahan dan eerangan yang terdengar di ruangan itu hingga terdengar sampai keluar ruang tamu.
Arthur membeku, membatu, terhenyak, terkejut dan bergeming, atas apa yang ia dengar dan ia lihat sekarang ini. Mata sucinya ternodai dengan adengan panas kekasihnya dengan seorang pria yang Arthur kenal sebagai sahabatnya sendiri.
Iapun berjalan mundur dengan keadaan yang kebinggungan dan tidak mengerti atas apa yang ia lihat barusan. Ia yang merasa bersalah dan bermaksud, ingin meminta maaf pada Calista atas apa yang ia ucapkan pada kekasihnya itu. Arthur pun kembali keatas saat lama termenung, di basement apartemen mewah itu. Saat membuka pintu unit Calista, ia dikejutkan dengan suara asing yang baru dia dengar. Karena rasa penasaran , pria itu melangkah berlahan supaya tidak, menimbulkan suara kearah ruangan santai milik kekasihnya.
Matanya membola dan dadanya begitu sesak saat gadisnya begitu liarnya di atas tubuh poloos pria yang ia kenal sebagai sahabat terbaiknya.
Arthur kembali tidak menyangka saat racauan Calista yang bisa membuat hatinya sakit. Saat gadis itu meracau, menghina dirinya yang lemah sahwatt dan lebih tak terduga dia hanya mendekati Arthur karena hartanya saja.
Arthur kini sudah berada di dalam mobilnya, dia terisak pilu di dalam mobil, setelah apa yang ia lihat dan ia dengar. Mata suci dan telinga plus pikiran sucinya kini sudah ternodai oleh pengkhianat gadis manis yang menjadi pacar dan cinta pertamanya itu.
Apakah, benar? Dia mencintai Calista si gadis lembut dan manja itu? Arthur menggelengkan kepalanya, menipis pikiran kotor yang melintas di otak suci anak mommy, Gabriela yang cakep, ganteng, dan tampan ini.
Pria berwajah teduh itu masih menangis atas kebodohannya sendiri, yang mudah di manfaatkan seorang wanita yang hanya terlihat lembut dan manis dari luar saja, tapi siapa yang menyangka gadis itu begitu liar dan agresif.
"Aku memang pria bodoh," Lirihnya sedih.
Siapa yang akan terima, kalau seorang wanita yang kita jaga dan kita sayangi hanya memanfaatkan kita saja dan menghina kita di belakang.
Yang tidak bisa Arthur terima, saat melihat pria yang bersama kekasihnya. Pria yang selama ini Arthur anggap sebagai saudara sendiri. Mateo, adalah sahabat Arthur sejak sekolah menengah atas hingga memasuki perguruan tinggi di salah satu university terkenal di kota Los Angeles.
"Mommy, aku ingin di peluk," lirihnya sedih dan detik itu juga tangisan pria rupawan itu pecah. Seperti seorang wanita yang sedang patah hati yang menangis atas penghianatan sang kekasih.
"Mommy," isaknya lagi sambil memanggil sang mommy.
Suara ponsel nya tiba-tiba menghentikan tangis pria itu sejenak. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Arthur segera menekan tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu ke telinganya.
"H-halo!" Sapa Arthur dengan isakan lirih.
"Halo," sapanya lagi, saat tidak ada jawaban di seberang sana.
Arthur menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat siapakah gerangan yang menelponnya. Saat ia melihat nama sang penelepon ia kembali menangis histeris.
"Mommy, …."
*
*
*
Nyonya Gabriela, kini sedang terlihat mondar-mandir di depan pintu kokoh Mansionnya.
Raut kekhawatiran terlihat nampak di wajah, wanita paruhbaya itu.
Nyonya Gabriela, begitu terkejut dan khawatir saat mendengar isakan sang putra tersayangnya.
Diapun langsung menyuruh sopir untuk menjemput putranya itu.
"Kenapa mereka lama sekali," gumam nyonya, Gabriela.
"Haruka!" Panggil nyonya, Gabriela.
"Iya, nyonya," sahut asisten, Haruka.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada putraku," Sentak sang nyonya di Mansion, mewah dan megah itu.
"Tuan, muda melihat, ... nona Calista dan sahabat tuan muda sedang melakukan, …." Asisten Haruka, tidak melanjutkan ucapannya saat mendapatkan tatapan tajam dari nyonyanya.
"Astaga, putraku yang polos," Pekik nyonya Gabriela.
"Dasar, manusia-manusia kurang berterima kasih!" geram nyonya, Gabriela.
"Bisa-bisanya, mereka mengotori mata suci putra ku," Geram nyonya Gabriela kembali, yang tidak terima pikiran putra polosnya ternodai.
"Aku ingin, kau memberi perhitungan pada gadis, kurang beruntung itu!" Perintah nyonya Gabriela marah.
"Siap. Laksanakan, nyonya," jawab asisten, Haruka.
"Buat dia menderita!" Perintahnya lagi.
"Baik, nyonya."
Tidak lama terdengar sebuah suara teriakan di selingi oleh tangisan sedih.
"MOMMY!"
Teriakkan dengan di iringi tangisan itu mengelegar di seluruh isi, Mansion. Arthur terisak bagaikan seorang anak berumur 10 tahun yang sedang kehilangan mainan kesayangannya.
"Mommy!"
"Oh, putraku tersayang, yang tampan dan manis."