
Suara decapan dan erangan tertahan masih terdengar di ruang tamu mewah di mansion Kimberly.
"wow, adengan panas kalian sangat, menjijikkan."
"PAMAN LEO BAKAR SOFANYA DAN HANCURKAN RUANGAN INI.!" suara teriakan mengelegar, membuat pasangan suami istri yang sedang bercumbu panas itu, tersendak kaget.
Malvin yang sangat mengenali suara itu, langsung mendorong Lotte kasar, sehingga istri keduanya itu terjatuh kelantai dan belahan padat belakangnya mendarat mulus di lantai marmer mewah itu.
"S-sayang." lirih Malvin gugup.
"Sayang," rengek Lotte manja.
Malvin, tidak memperdulikan Lotte. pria itu berdiri dari sofa dan mendekati Kim dengan senyum lembut dan wajah berbinar bahagia.
"Sayang." seru Malvin. pria itu kini sudah berada di depan Kim dan bersiap untuk merangkul kedua pundak Kim dan ingin memeluknya.
"Stop." perintah Kim dingin, yang hanya menatap suaminya datar.
"Why."
"Miss you, Kimberly. izinkan aku memelukmu, sayang." mohon Malvin, dengan wajah sendu. tersirat rasa penyesalan dimatanya dan rasa rindu yang sangat dalam.
"Kim, ... Kimberly." seru Malvin memelas.
Kim, hanya menatap datar dan dingin, dua manusia didepannya. Kim bahkan menulikan permohonan Malvin, yang menurutnya sangat menjijikkan. " apa katanya, memelukku, cih najis." batin Kim.
"please, Kim. izinkan aku memelukmu, sayang. hanya sebentar saja, Kim." mohonnya lagi dengan kedua tangannya di tangkupkan di dada.
Kim masih terdiam seribu bahasa dengan manik tajamnya menatap Malvin.
Lotte, yang melihat adengan di depannya, merasa senang dan bahagia. senyum puas terukir jelas di wajah yang masih terlihat bekas memar akibat operasi plastik yang dilakukannya.
Lotte mendekat kearah Kim dan Malvin. wanita itu meraih lengan Malvin dan memeluknya, dia ingin memamerkan hubungannya di depan Kim.
"Kenapa, kau harus memohon pelukan padanya, sayang. bukankah ada aku yang akan memelukmu dan memberimu kehangatan diatas ranjang,? seperti yang semalam kita lakukan, sampai kita kelelahan dan kita terus mengulangnya. kau bahkan menggila dan terus meminta lagi dan lagi." sela Lotte dengan wajah berbinar dan tersenyum penuh arti pada Kim.
"Tutup, mulutmu Lotte, sialan.!" hardik Malvin.
"Sayang, yang dikatakan wanita ini tidak benar sayang. dia sudah menjebak ku dengan obat semalam, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa, sayang." kilahnya dengan wajah menjijikan bagi Kim dan jenny.
"cih, menjijikan." gumam jenny, yang sudah muak melihat drama sampah yang diperlihatkan oleh Malvin dan Lotte.
Kim tersenyum miring saat melihat wajah bahagia Lotte dan dia beralih menatap Malvin yang masih memohon kepadanya.
"PAMAN LEO.!!! teriak Kim, memanggil kepala pelayan setianya.
Dengan, segera paman Leo menghampiri nona mudanya. sejak tadi dia sudah berdiri tidak jauh dari majikannya ini. dan juga para pelayan yang lain sejak tadi menyimak perdebatan nona muda mereka.
"saya, nona." jawab paman Leo, dengan memberi hormat pada Kim.
"Bakar dan hancurkan tempat ini.!" perintah Kim dingin dengan raut wajah datarnya.
semua orang yang ada di sana tercengang mendengar perintah Kim. nona mudah sang pemilik mansion ini. mereka tidak habis pikir dengan perintah nona Kim. bukankah dia juga sudah menghancurkan kamar kesayangannya dan sekarang dia ingin menghancurkan tempat kesayangannya.
"Ck! tiba-tiba jenny berdecak jengah.
Kim, menoleh sekilas kebelakang menatap Jenny dengan kening bertautan.
"Kenapa, tidak kau usir saja mereka dari sini, daripada kau harus menghancurkan semua isi mansionmu." decak Jenny malas.
"Ide kamu bagus." seru Kim dan kembali menatap dua pasang manusia pengkhianat di depannya.
"Apa, kalian ingin meninggalkan mansion ini dengan sendiri, atau kalian menunggu di lempar dari sini.?" ujar Kim dengan raut datar tanpa ekspresi melihat wajah-wajah pengkhianat di depannya.
"Tidak,! aku tidak akan pernah meninggalkan mansion ini. aku tidak akan pernah mau hidup berpisah denganmu, Kim sayang. jadi izinkan aku tinggal disini. bukankah kita pernah berjanji ,? tidak akan meninggalkan mansion ini. dan kita akan selalu hidup bersama di sini, Kim. jadi aku mohon izinkan aku tinggal di mansion ini. bukankah aku masih suamimu dan aku masih berhak tinggal bersamamu, Kimberly." sarkas Malvin, yang menolak meninggalkan mansion ini.
Kim hanya terdiam mendengar kata-kata Malvin yang seperti radio rusak baginya. senyum miringnya tidak pernah hilang dari wajah cantik Kim. senyum penuh cemoohan. dia tidak habis pikir dengan suaminya ini. apakah suami pengkhianatnya ini tidak punya malu? atau memang dia tidak punya urat malu.
Kim terkekeh rendah dan menatap Malvin penuh cemoohan hina.
"Bagaimana, kalau kita bercerai.?" ujar Kim.
membuat seluruh tubuh Malvin memanas dan di memandang Kim tajam.
"TIDAK AKAN PERNAH, KIMBERLY.!! bentak Malvin.
"why, apa yang kita harapkan dari hubungan kita ini, Malvin.?" tanya Kim santai. tapi di dalam hatinya tersirat luka yang sangat perih.
"Maka, mari kita membangun kembali hubungan kita, Kim.!"