Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 130


"Katakan! Kim memandangi wajah rupawan sang kakak yang juga memandangnya. Ia begitu penasaran dengan kehidupan kakaknya itu. Netra Kim kini beralih memindai wajah datar sahabatnya yang sedang berada di rangkulan posesif, seorang pria yang memiliki empat mata. Dua mata bermanik biru terang dan dua mata kaca bening yang memiliki kecanggihan.


Kim terlihat menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan sehingga mulutnya menyerupai ciuman.


"Tuan, Jonathan yang terhormat. Bisakah anda melepaskan wanita yang ada di pelukan anda?" Pinta Kim menahan geramannya.


Jenny terlihat mengeratkan lilitan tangannya di pinggang Nathan. Wanita imut itu bahkan menyembunyikan wajah enggan nya, di dada keras Nathan.


Nathan merasakan,gelengan Jenny dan juga lilitan tangan pendek wanita itu makin mengerat pinggangnya.


Nathan menundukkan pandangannya dan ia melihat wajah memohon bidadari berkacamata miliknya.


Nathan memberi kecupan manis, lembut, hangat di bibir ranum Jenny dengan warna pink alami itu.


"Jenny! Seru Kim dengan nada geram dan penuh tekanan.


"Jangan membentaknya begitu, kakak ipar. Kau membuat bidadari ku ketakutan." Sahut Nathan dengan nada lemah lembut.


"Cih! Kim dan Arthur berdecak bersamaan.


"Sayang! Seru Kim pada suaminya yang duduk di sisinya.


Arthur mengangguk saat mengerti arti dari tatapan perintah sang istri.


Arthur terlihat bangkit dan mendekati Nathan yang sedang memainkan rambut panjang bidadarinya.


"Ada apa?" Tanya Nathan bingung dengan hidung mancungnya yang terlihat mengerut.


Arthur tidak menjawab pertanyaan sepupunya. Arthur segera menarik topi Hoodie hitam yang dikenakan Nathan. Arthur menarik kuat topi Hoodie Nathan, sehingga pria berkacamata mata itu berdiri dengan terpaksa dan pelukannya terlepas dari tubuh mungil wanita yang menatapnya binggung.


"Hey. Apa yang kau lakukan, bodoh.!" Hardik Nathan sambil meronta-ronta, saat Arthur menariknya keluar dari ruangan kerjanya.


Kini tersisa tiga pasang mata yang terlihat saling melirik. Dan manik coklat Jenny lah yang paling engga berada di suasana seperti sekarang.


"Jelaskan padaku,!" Kim mengeluar suara dinginnya.


Jenny mengedikkan kepalanya kepada Larry yang hanya diam membisu.


"Apa kalian bisu mendadak? Cepatlah jelaskan padaku.!" Perintah Kim yang tidak sabar, ingin mengetahui kehidupan sang kakak.


"Kakak dan Jenny bertemu di panti asuhan. Paman Leo menutup kami disana."


"Kami?


"Iya. Jenny adalah anak dari supir pribadi daddy yang meninggal akibat kejadian tragis yang menimpa keluarga kita."


"Jadi kalian tumbuh bersama.?"


"Hum. Sampai kau sudah kembali dari persembunyian bersama paman Robert. Aku meminta tolong kepada Jenny untuk mendekati mu."


"Darimana kalian tahu, kalau itu aku.?


"Dari paman Robert."


"Jadi selama ini paman, Robert, mengetahui semua ini.?


"Hum. Dan dia yang merencanakan semua yang kami lakukan padamu secara diam-diam."


"Kenapa harus diam-diam.?


"Itu karena nyawa kita selalu dalam bahaya, sayang."


"Bahaya.?


"Iya. Kita menjadi incaran mafia kejam asal Jepang."


"Jepang.?" Lagi-lagi Kim bertanya dengan raut yang sangat bingung.


"Hum! Mereka dalang dari pembunuhan yang terjadi pada keluarga kita."


"Apa, mommy dan Daddy, masih hidup? Dan mereka dalam tawanan mafia yang kakak sebut.?"


"Entahlah. Kakak masih mencari tahu soal itu."


"siapa.? Jenny menyambar pertanyaan Kim.


"mereka.!" sahut Kim.


"Jepang, Yamukade." sela Larry.


Kim sontak membeliakkan matanya saat mendengar jawaban sang kakak. ia mengenal klen mafia itu, yang merupakan rival sang suami.


"kalian serius.?"


"hum! kau mengenal mereka.?"


"dia musuh mommy dan Arthur."


"apa?


"iya. mereka juga membantai keluarga Kato. untung mommy selamat dan juga Arthur.


"jadi katakan, apa rencana kalian.!?


"kami akan ke Jepang.!


"aku ikut." sahut Kim cepat.


"T- tapi, Kim. suami kamu bagaimana.?"


"pasti dia setuju."


"apa kau yakin.?"


"hum. sangat yakin."


Kim mendekat dan duduk di sisi Larry. Kim meraih jemari kokoh sang kakak dan menautkan jari-jari mereka lembut. Kim menatap manik kakaknya yang sama persis dengan maniknya.


"mari kita berjuang untuk menyelamatkan, daddy dan mommy. aku masih yakin kalau mereka. berdua masih hidup." lirih Kim dengan mata berkaca-kaca.


Larry menghilangkan jejak air mata sang adik di pipinya. ia lantas membawa Kim kedalam pelukannya.


"baiklah, mari kita berjuang dan menyelamatkan, mommy dan Daddy." jawab Larry.


Kim mengangkuk di dada lebar sang kakak. a begitu merasakan sesak setiap mengingat peristiwa pembantai itu.


Kim masih berharap, bahkan menginginkan kedua orang tuanya itu masih selamat.


Kim terisak pelan di dalam pelukan hangat Larry. Kim sudah lama merindukan kasih sayang kakaknya ini. kasih sayang yang begitu besar yang selalu Larry berikan padanya.


Larry mengusap-usap punggung bergetar sang adik. ia juga sama dengan Kim. berharap kedua orang tua nya selamat. dan ia juga begitu merindukan sang adik.


"brakk!


"okusan!


Arthur membuka pintu ruangan kerja, ketika ia melihat sang istri menangis sedih. Arthur menyaksikan sendiri istrinya terisak lewat cctv yang berada di ruangannya.


Arthur meraih kasar tubuh istrinya yang berada di dekapan Larry. pria sipit itu mengendong dan membawa istrinya keluar dari ruangan kerja miliknya dan menuju kamar mereka.


Kim hanya bisa pasrah dengan perlakuan khawatir suami sipit nya yang manis. Kim bahkan mengencangkan tangannya di ceruk leher suaminya.


"jangan menangis lagi, okusan.!"


"kau membuatku ikut sedih dan ingin membunuh seseorang."


"diamlah, okusan. please.!" mohon Arthur.


Arthur terus saja membujuk istrinya itu yang masih menangis dan terisak di gendongannya.


"aku mau ke Jepang."


"what!?


"J-Jepang.?!