Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 112


"Tutup, mulutmu bajingan." Teriak Kim. Membuat Arthur tersedat kaget. Pria itu lalu memindai istrinya yang kini sudah dikuasai oleh amarah itu.


"Okusan, awas." Pekik Arthur dan menarik Kim kebelakang punggungnya, ketika pengawal wanita tuan, Alvanso menyerang Kim diam-diam dengan sebuah tongkat besi.


wanita itupun hanya bisa mengerang dan memaki Arthur.


"Apa kau baik-baik saja, okusan.?" Tanya Arthur dengan nada khawatir tanpa melihat sang istri yang berada di punggungnya. Arthur merasakan anggukkan kepala istrinya itu.


"Tenangkan dirimu dan ingat jaga konsentrasi mu. Jangan terpancing oleh ucapan pria tua itu, yang membuat mu lengah." Pungkas Arthur memberikan wejangan kepada istrinya dibalik punggungnya.


Arthur Kembali merasakan anggukkan sang istri dan juga suara tarikan nafas istrinya.


Sementara Arthur, menyoroti para musuhnya dengan tajam. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pertempuran ini yang hampir dua kali membahayakan nyawa sang istri.


"Hei, wanita sombong keluar lah. Jangan bersembunyi di balik tubuh suami mu, cih. Dasar payah." Cibir anak buah tuan Alvanso.


Sementara tuan Alvanso kini sedang, duduk di kursi kebesarannya dengan berpangku kaki sambil menyesap minumanya. Ia menatap sinis dan remeh kearah Arthur dan Kim. Dia sangat yakin kalau anak buah pilihannya itu mampu menghabisi Arthur dan Kim.


"Bunuh mereka secepatnya dan kita lanjutkan kegiatan kita yang tertunda, sayang." Perintah tuan Alvanso dengan seringai mesumnya.


Arthur mengepalkan kedua tangan kekar miliknya, ia begitu jengah dengan kesombongan pria tua di hadapannya itu.


"Dengan senang hati, tuan." Sahut anak buah tuan Alvanso.


"Kau yakin ingin menghadapi mereka, okusan.?"


"Hum. Aku sudah lama menantikan ini sayang."


"Kau, harus hati-hati. Wanita itu sangat licik dan berbahaya, oke." 


"Hm."


Setelah mendapat wejangan dari suaminya, Kim keluar dari punggung lebar sang suami. Ia bahkan tanpa basa-basi, langsung menembakkan senjata yang ia bawa, kearah wanita sombong itu dan tepat mengenai kepalanya. Kim memang memiliki gerakan tak terduga dan gesit yang tak terbaca.


"cih! Kim berdecih saat dengan mudahnya menumbangkan sang lawan.


Tuan Alvanso dan pengawal andalannya terkejut dan mereka tak menduga kalau Kim langsung menyerang mereka.


"Aku kagum padamu nona." Puji tuan Alvanso.


Arthur yang sudah muak, segera saja menyerang tuan Alvanso yang wajahnya sungguh membuat Arthur geram.


Arthur kini melawan tuan Alvanso dengan tangan kosong. Sedangkan Kim melawan wanita yang menjadi pengawal pribadi tuan Alvanso.


"Dasar jaaalang." Maki wanita tuan Alvanso, saat Kim memberikan tendangan tepat di ulu hatinya.


Kim hanya tersenyum remeh kearah wanita itu.


Wanita tuan Alvanso menjadi geram dan dia merasa terhina oleh wajah sombong Kim. Ia lalu bangkit dan mengambil tongkat yang tadi ia gunakan untuk menyerang Kim diam-diam. Wanita itu mengarahkan tongkat tersebut kearah kepala Kim dan juga kearah perut rata Kim. Kim yang seakan tau pergerakan musuh dengan sangat mudah mengelak dan menghindar.


Wanita itupun tidak kehabisan akal ia menekan sebuah tombol yang terdapat di tongkat itu yang ternyata sebuah benda tajam yang sangat runcing.


Wanita itupun menyerang kambali Kim dan menusukannya benda tajam itu kearah perut rata Kim.


"Srett." Kim yang tidak dapat menghindar dan perutnya pun robek dan mengeluarkan cairan merah segar.


"Okusan," pekik Arthur khawatir.


Pria itu menyerang organ vital tuan Alvanso, yang mana membuat tuan Alvanso menyerit ngilu.


Arthur pun mendekati istrinya yang terluka. "Kau terluka, okusan." Ujar Arthur dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Hanya luka kecil, sayang." Lirih Kim, yang menahan sakit.


"Apa kau yakin.?


Kim menggakuk untuk menghilangkan rasa khawatir suaminya.


tapi tiba-tiba penglihatannya mendadak kabur dan gelap, tubuhnya juga mendadak meriang dan ngilu. membuat tubuh Kim terasa lemas.


"Hehehe, asalkan kalian tau senjata ini berisi racun mematikan," ujar wanita itu dengan terkekeh remeh.


Arthur yang mendengar penuturan wanita itu hanya bisa membolakan mata sipitnya, ia lalu diam-diam meraih senjata api yang ada ditangannya, tanpa mau buang-buang waktu lagi, Arthur membidik senjatanya kearah wanita itu dan menembus jantungnya. Pengawal pribadi tuan Alvanso itupun tumbang dengan orang tubuhnya yang bagian dada berhamburan keluar.


"Nicsy," seru tuan Alvanso.


Tuan Alvanso mendekati pengawalnya itu dan ia merauang di dekat tubuh wanita yang sudah tak bernyawa itu. Tuan Alvanso, begitu terpukul kehilangan bawahnya itu, iapun terisak di dekat jasad pengawalnya.


Tuan Alvanso menoleh kearah Arthur yang sedang berusaha menyadarkan istrinya itu. Tuan Alvanso, mengambil senjatanya yang berada di balik celananya, ia mengarahkan senjata itu kepada Arthur dan Kim. Tuan Alvanso pun siap membidik kearah pasangan suami-istri itu. 


Tapi belum tuan Alvanso membidik, sebuah suara tembakan dan peluru kini menembus kaki tuan Alvanso.


"Akhh." Teriak kesakitan tuan Alvanso saat peluru itu menembus kakinya.


Arthur menoleh kearah pintu dan ia mendapati Jenny dan Natan disana.


"Cepatlah, tolong istri ku." Pekik Arthur, yang begitu khawatir melihat wajah pucat Kim yang mulai membiru.


"Dia kenapa," tanyanya dengan cemas.


"Dia terkena racun." Jawab Arthur.


Jenny membulat matanya, dia begitu terkejut mendengar keadaan Kimberly.


"Cepatlah, kita harus segera membawanya kerumah sakit," pekik Jenny saat dia menyentuh kulit Kim yang mulai dingin.


"Cepatlah tuan." Bentak Jenny, ketika Arthur hanya terdiam dengan wajah binggung.


Segera saja Arthur mengangkat istrinya dan mengendongnya, membawanya keluar dari ruangan rahasia tuan Alvanso.


Sebelum meninggal tempat itu, Arthur memerintahkan Natan agar membawa tuan Alvanso ke markas dan membakar tempat ini.


Tuan Alvanso kini sudah tak sadarkan diri saat di bawa oleh Natan ke markas mereka.


Markas tuan Alvanso juga kini sudah menjadi lautan api yang menghanguskan seluruh markas itu dan juga para anak buahnya yang sudah tewas.


*


*


*


Sementara Kim, sudah di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan secepat mungkin. Arthur hanya bisa memgenggam tangan dingin istrinya dengan wajah yang begitu ketakutan. dia memaki dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi istrinya yang sekarang dalam keadaan tak sadarkan diri.


pria ini tak menduga kalau serangan mendadak yang dilakukan anak buah Alvanso adalah sebuah racun yang sangat berbahaya. Arthur hanya bisa memejamkan mata dan berdoa semoga istrinya bisa di selamatkan.


tidak lama kemudian, mobil Arthur pun sudah memasuki halaman rumah sakit, dengan segera Arthur mengendong istrinya menuju lobby rumah sakit dan berteriak seperti orang kesetanan di sana.


"dokter,!!! teriak Arthur.


"Dokter.!!!! teriaknya lagi menggelegar di lobby rumah sakit itu.


"Tuan muda, Kato." sapa seorang dokter wanita.


Arthur pun mendatangi dokter itu dan menyuruhnya untuk memberikan pertolongan kepada sang istri.


"Cepat,. selamatkan, Istri ku." pinta Arthur lirih.


Dokter itu bergeming di tempatnya, ia mencerna ucapan Arthur.


"CEPAT SELAMATKAN ISTRI KU." Bentak Arthur.


Dokter itupun terloncat kaget dan segera memanggil para perawat untuk membawa Kim keruangan ICU.


Kim kini sudah berada di atas ranjang pasien dan dengan keadaan darurat ia di larikan ke ruangan ICU.


Arthur dan Jenny, mengikuti Kim dari belakang.


"maaf tuan anda di larang masuk." cegah salah satu perawat.


"Tapi dia istriku, bagaimana bisa kalian menyuruhku meninggalkannya sendiri." hardik Arthur menolak.


"maaf, tuan. ini sudah aturan rumah sakit, hanya tenaga medis yang di perbolehkan masuk tuan." terang sang suster.


"Tapi aku ingin menemani istriku suster."


"maaf tuan."


setelah mengatakan itu, suster itupun menutup ruangan itu, meninggalkan Arthur yang kini merauang di depan pintu ruangan ICU.


"tenanglah, tuan. aku yakin Kim pasti selamat, dia wanita kuat." hibur Jenny yang melihat. wajah cemas Arthur.


Arthur tak menimpali ucapan Jenny, kini hatinya mulai risau dan cemas. ia takut sesuatu terjadi kepada istrinya, dia tidak ingin kehilangan istri impiannya itu.


ia tidak akan mau kehilangan, cinta pertamanya, pujaan hatinya, wanita impiannya dan impian terakhirnya.


"Tuhan, selamatkan istri ku."


"son."


"mommy, !!!


"mommy, ... istriku, mom.!"


"tenanglah, son."


"mommy, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada istri ku, mom.!!


"mommy, istri ku.!!


"sabar dan tenanglah, son."