Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 127


"Jenny! Kenapa kau membiarkan adikku sendiri menghadapi wanita licik itu.!" Pekik Larry. Ia baru saja memasuki mobil wanita itu dan langsung membentak wanita bermata empat di sampingnya.


"Apa, kau lupa siapa, adikmu itu.!? Balas Jenny sinis.


"Tapi, kau membiarkan adikku dalam bahaya, Jenny.!" Pekik Larry kembali. Kini pria tampan itu begitu gelisa dan khawatir dengan keadaan sang adik di dalam sana. Bayang-bayang penyiksaan kedua orang tuanya melintas di ingatan pria dengan manik biru kehijau-hijauan itu.


"Kau, mau kemana, Larry.?! Sentak Jenny dan menahan pergelangan tangan Larry.


"Aku, ingin menyelamatkan adikku, Jenny.! Tekan Larry geram.


"Sabarlah.!" Ujar Jenny.


"Apa, yang kau katakan, Jenn.!!? Pekik Larry dengan nada frustasi.


"Adik didalam sana sedang dalam bahaya. Dan kau menyuruhku sabar. Dimana akal sehatmu, Jenny." Teriak Larry sambil mengusap wajahnya kasar.


"Aku, tidak perduli. Aku akan menyelamatkan, adikku." Ucap Larry sambil keluar dari mobil Jenny. Segera saja Larry berlari masuk kedalam Mansion milik nyonya Carol.


"Dasar keras kepala.!" Umpat Jenny. Wanita itupun keluar dari mobil dan mengejar langkah Larry yang sudah memasuki Mansion nyonya Carol.


Larry yang sudah di dalam Mansion mewah milik nyonya Carol, menyusuri isi dalam mansion itu dengan wajah khawatir dan cemas.


"Hei, … siapa disana.! Teriak salah satu anak buah nyonya Carol.


Larry menghentikan langkahnya yang tergesa saat beberapa pria dengan tubuh tinggi besar menghalangi jalannya.


"Minggir! Perintah Larry dingin.


"Siapa anda tuan. Berani-beraninya anda memasuki Mansion ini tanpa izin." Hardik anak buah nyonya Carol.


"Menjauhlah.! Bentak Larry yang tidak sabar.


"Keluarlah.!" Usir salah satu dari mereka.


Larry yang tidak mau membuang banyak waktu untuk melayaninya, pria-pria mengerikan ini. Larry langsung menyerang para pria itu dengan serangan membabi-buta. Ia tidak ingin membuang waktu banyak. Dalam pikirannya hanya ada sang adik tercinta yang dalam bahaya. Larry mengeluarkan senjata api miliknya dan memberikan peluru satu personil pada anak buah nyonya Carol. 


Setelah melumpuhkan para pria tersebut, Larry melanjutkan mencari keberadaan sang adik.


Larry bagaikan orang kesetanan mencari keberadaan sang adik. Ia langsung memberikan satu tembakan timah panas pada musuh yang menghalanginya untuk menemukan letak ruangan rahasia nyonya Carol.


"Dor, dor, dor." 


Larry menembak seketika, musuh yang berusaha menghalanginya. Ia bahkan menghantam langsung musuhnya tepat di titik lemah musuhnya yang bisa membuat mereka seketika tewas.


"Larry!! Panggil Jenny dari arah belakang.


"Ck! Larry hanya berdecak.


"Kau sudah menemukannya.?" Tanya Jenny.


"Aku, tidak akan berada disini, Jenny! Kalau aku sudah menemukan, adikku." Geram Larry.


"Cih! Kau sangat emosian.!" Cibir Jenny.


Larry tidak menimpali cibiran jenny. Ia kini dan Jenny Kembali menyusuri Mansion itu dengan perasaan gelisah.


"Sial! Dimana mereka menyembunyikan adik," umpat Larry frustasi.


"Bersabarlah dan tenangkan dirimu, Larry!! Mana bisa kita menemukan adikmu yang keras kepala itu, kalau kau sepanik ini." Cetus Jenny.


Larry pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara bertahap juga. Kini mereka terdiam dan segera bersembunyi saat mendengar langkah kaki yang sedang mendekat ke arah mereka.


Larry dan Jenny, bersembunyi di balik pilar besar yang menghubungkan ruangan belakang dan sebuah dapur mewah.


Mereka secara bersamaan mengintip dan mencuri dengar percakapan dua pelayan itu. Sapa tau mereka menemukan letak ruangan rahasia nyonya Carol.


"Kenapa, nyonya lama sekali di ruangan rahasia itu.?" Tanya seorang pelayan muda yang sedang menyimpan piring kotor.


"Entahlah. Mungkin dia ingin bersenang-senang dengan tamunya." Cetus pelayanan wanita satunya lagi.


"Bukankah, tamunya seorang wanita cantik.?"


"Iya! Tapi aku melihat nyonya Carol tidak menyukai wanita itu. Nyonya selalu menatap sinis pada wanita cantik itu."


"Bukankah watak nyonya Carol seperti itu? Dia selalu iri pada setiap wanita cantik."


"Hum, kau benar. Dia dan anaknya itu yang ingin terlihat cantik di seluruh dunia ini."


"Dasar manusia serakah.!"


"Shut. Tutup mulutmu, kau mau pelayan senior mendengarnya.!"


"Habisnya, aku begitu muak dengan tingkah sombong mereka."


"Sudahlah, sebaiknya kita datangi ruangan rahasia, nyonya."


"hum. ayo."


kedua pelayan itupun berjalan kembali kearah ruangan tengah dan menaiki tangga.


Jenny dan Larry, lantas mengikuti kedua pelayan itu dari belakang. mereka mengendap-endap menyusuri setiap lorong mansion di lantai dua ini.


jenny dan Larry menghentikan langkah mereka saat dua pelayan itu, berhenti di sebuah lukisan acak-acakan sebesar dinding itu disana.


Larry dan Jenny saling pandang dengan wajah penasaran. mereka secara bersamaan kembali memalingkan wajah mereka kearah dua pelayan itu yang sedang menyusun potongan gambar yang acak-acakan tadi.


Larry dan Jenny, menajamkan penglihatan mereka, untuk mengingat susunan gambar yang akan membawa mereka kedalam ruangan rahasia nyonya Carol.


Jenny dan Larry, segera mendekati lukisan teka-teki tersebut. mereka mendongak keatas dan turun kebawah. mereka memindai lukisan tersebut dengan dahi dan hidung mengkerut.


"Apa, kau mengingat susunan gambarnya.?" bisik Jenny.


"hum. biar ku coba." sahut Larry.


keduanya pun dengan serius menyusun potongan gambaran yang mereka lihat tadi.


mereka pun berhasil saat susunan mereka benar dan terlihatlah sebuah gambar pintu.


Jenny dan Larry mundur dua langkah saat lukisan itu mulai bergerak dan bergeser bersamaan.


tanpa buang waktu, Jenny dan Larry pun, masuk kedalam ruangan yang minim pencahayaan itu. yang ada hanyalah cahaya remang-remang berwarna merah.


"Hati-hati, sapa tau disini banyak jebakan.!" bisik Larry kepada Jenny.


"hum! Jenny mengangkuk patuh.


keduanya lantas berjalan hati-hati, melewati setiap patung dan juga lukisan mengerikan. netra mereka kini, menangkap sebuah pintu berwarna mencolok di sudut sana.


Jenny, Larry saling menatap dan menggakuk bersamaan, saat pikiran mereka sejalan.


mereka yakin kalau didalam sanalah, Kim dan nyonya Carol berada. langkah keduanya semakin cepat untuk mendekati pintu tersebut.


"bugh"


"bugh"


tiba-tiba sebuah besi putih menghantam punggung keduanya, membuat Jenny dan Larry tersungkur di lantai.


tawa remeh terdengar dari salah satu pelayan wanita tadi. mereka tertawa sinis kearah Jenny dan Larry sambil melipat tangan mereka di dada.


"lihatlah tikus-tikus penyusup ini, hehehe." cibir mereka dengan nada ejekan.


"Apa, mereka tidak tau kalau area ini adalah,. area kematian.?!" ujar pelayan yang memiliki tubuh pendek.


Jenny dan Larry hanya menatap mereka dalam diam. Jenny bahkan mendegus kesal karena di umpama kan, dengan bintang menjijikkan.


Jenny yang ingin bangkit, harus mendapatkan serangan kembali. tapi dengan cepat ia berguling kesamping untuk menghindari serangan kaki dari pelayan sombong tadi.


Jenny yang mulai muak, lantas membalas serangan pelayan tersebut dengan mengayunkan kakinya dari bawah dan mengenai perut pelayan tadi.


sementara Larry, mengunci kaki pelayan satunya dan menariknya kebawah, sehingga pelayan itupun tersungkur kebelakang. Larry bangkit, pria itu lantas mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan tepat di kepala sang pelayan.


"dor" suara tembakan itu mengelegar di seluruh lorong remang dan sepi tersebut. sang pelayan sombong tadi sudah meregang nyawa dengan cairan merah berbau amis keluar dari sarang peluru timah panas Larry.


sementara di dalam ruangan rahasia nyonya Carol. masih terlihat wajah-wajah tegang dari nyonya Carol, saat Kim menarik rambut sang putri kuat dan menyeretnya ke arahnya.


Kim menghempaskan tubuh Clara secara kasar . "shttt," ringis Clara saat perutnya terbentur sudut meja.


"Clara! panggil nyonya Carol.


"mom! sahut Clara dengan wajah menahan sakit.


"kau tidak apa-apa, sayang.?"


"sakit, mom."


"sabarlah, sayang. sebentar lagi, daddy Lincol dan paman James datang." bisik nyonya Carol.


"mereka akan datang.?" seru Kim dingin.


"cih. tentu saja. dia tidak akan diam, saat putrinya di siksa oleh jaalang seperti.!" hardik nyonya Carol.


"baiklah, aku akan menanti mereka. aku juga ingin menyapa, suami mu dan juga si brengsek itu. malam ini aku akan melenyapkan kalian semua. agar hidupku akan damai dan tentram tanpa di bayang-bayangi wajah busuk kalian semua."


"bermimpilah. kalau kau mampu melawan kami.!


"kau menantang'ku, nyonya.?!


"dasar jaalang."


"apa kau meneriaki dirimu sendiri, nyonya."


"Jalaaang teriak jaalang, cih.!"


"Kau!!


"Apa? kau ingin aku mengirimmu kealam baka Sekarang juga.?


"perempuan gila.!!!


"memang putri mu sudah gila, nyonya."


"brakkk!


"KIMBERLY!


"Jenny, ka, ....?"


🌹diriku up malam lagi yah BESTie. mau nyari takjil Dolo😂😉. ingat kagak boleh emosian lagi bulan puasa,