Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 71


Keesokan harinya, terjadi kegalauan di ruangan tamu, Kimberly. Jennifer yang sejak tadi menunggu Kim, turun dari kamarnya terus saja mengumpat dan memaki Kim. Jenny tiada hentinya mondar-mandir di depan, Laura, Lusi, paman Leo, Julio dan tuan Robert.


"KIMBERLY." Teriak jenny, mengema di seluruh Mansion. Membuat orang-orang yang berada di dekatnya menutup telinga mereka. Lain halnya dengan Julia alias Julio, yang menutupi area belalainya, saat mendapatkan tatapan intens dari Lusi. Bagi Julio, teriakan jenny sudah tidak mempan lagi buat pria gemulai itu.


"Ini, tidak bisa di biarkan. Dasar, Kim, sialan." Umpat Jenny dengan persamaan gusar.


"Lebih baik anda naik keatas, nona.?" Julio memberikan saran kepada atasannya itu.


"Kamarnya di kunci, Julio, ….!! Geram jenny, saat baru saja tiba di mansion bersama, tuan Robert dan Julia dia langsung mendatangi kamar, Kim. Yang sialnya kamar wanita mengerikan itu terkunci.


"Bukankah, paman Leo, punya kunci cadangan kamar nona, Kim.?" Sela Julia lagi dengan nada bicara gemulai.


"Astaga." Pekik  jenny, sambil menepuk keningnya.


"Cih, maka-nya jangan panik, nona. Kan kita harus habiskan satu jam untuk menunggu nona, Kim." Saut si pria cantik itu, yang terus menghindar dari Lusi.


"Paman, Leo." Sentak jenny.


"Mana, kuncinya." Jenny bertanya sambil menengadah tangannya kepada paman, Leo.


Paman Leo pun berlari kearah ruangan khusus untuknya menyimpan sesuatu penting.


Dengan langak tergesa-gesa paman, Leo menyerahkan kunci kamar Kim.


"Ini, nona." Ujar paman, Leo dan menyerahkan kunci yang bentuk dan warnanya lain pada yang lain.


Jenny menerima kunci itu, dan berbalik dengan untuk menuju lift agar wanita manis itu lebih cepat sampai kelantai tiga di mana kamar, Kim berada.


"Wow, ternyata Mansion ini ada lift nya juga." Pekik Lusi heboh.


"Cih, kampungan." Cibir Julia alias Julio.


"Brak, brak, brak."


Suara gebrakan pintu terdengar di lantai tiga. Jenny dengan tidak sabarannya mengebrak pintu, Kim sekuat tenaga.


"Brak, Kimberly, … bangun.!!


"Brak."


"Brak."


"KIMBERLY.!!! Teriak jenny.


"Bang-," teriakan jenny terhenti saat pintu kamar, Kim terbuka.


"Jenny, sialan.!! Maki Kim, yang masih dengan wajah bantalnya.


"KIMBERLY." Teriak jenny kembali dan membuat, Kim membuka matanya lebar-lebar dan menutup telinganya.


"Berisik." Sentak Kim.


"Aku tunggu dibawah dua menit." Setelah mengatakan itu, jenny meninggalkan, Kim yang masih kebingungan.


"Dasar aneh." Decaknya kesal.


*


*


*


"Ada apa.? Tanya Kim yang baru tiba di ruangan santai.


"Katakanlah." Suruh Kim, saat melihat wajah tegang semua orang dihadapannya, kecuali Lusi dan Laura, yang tidak mengerti apa-apa.


"Gawat, Kim. Gawat." Seru jenny dengan gusar.


"Gawat kenapa.?" Tanya Kim dengan kening terangkat keatas.


"Katakan, jenny.!" Geram Kim.


"Tuan, Keanu meminta ganti rugi atas pembatalan kontrak kerjasama. Pria itu menginginkan separuh dari saham milik Hugo. Kalau tid, ….!"  Jenny tidak melanjutkan perkataannya, dia menatap, Kim intens.


"Kalau tidak kenapa.?! Tanya Kim dengan wajah penasaran.


"Katakanlah, kalau tidak kenapa.?!. Hardik Kim.


"Dia akan membawa kasus kekerasan yang kau lakukan padanya ke pihak kepolisian." Jawab jenny pelan.


"Dia meminta mu, menemuinya di rumah sakit." Lanjut jenny.


Kim hanya tersenyum miring mendengar penjelasan jenny. Dia sudah menduganya, kalau pria mesum tak beradab itu akan mencari masalah dan mencoba memancingnya.


"Berikanlah, apa yang ia minta." Perintah Kim dengan wajah tenang. Kini wanita dingin nan arogan itu, duduk dengan menyilangkan kaki panjangnya.


"Tapi, Kim. Dia meminta 50 persen," geram jenny, yang tidak habis fikir.


"Tidak, apa." Balas Kim santai.


"KIMBERLY." Hardik jenny.


"Ini tentang perusahaan Hugo, Kim. Pria itu meminta lima puluh persen saham, perusahaan Hugo dna bukan itu saja, dia juga mencoreng nama baik hotel kita." Ujar wanita itu frustasi.


"KIMBERLY."


"Why. Apa kau ingin aku menyerahkan diriku padanya dan naik keatas ranjangnya, menjadi jaalangnya. Kalau itu yang terbaik, ok, aku akan kesana mendatangi pria itu. Tapi kau tau sendiri apa yang akan terjadi padanya." Sarkas Kim dengan wajah santai.


"Jadi, kau pilih yang mana."


"Terserah."


Akhirnya jenny mengalah dan dia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Dia tidak mungkin menyuruh Kim mendatangi Keanu, bisa-bisa wanita ini akan menghabisi nyawa pria itu.


Terjadilah kesepakatan antara, Jenny, Kim dan paman Robert. Untuk memberikan saham  milik Hugo kepada pria, Arab Eropa itu.


Gonjang-ganjing di perusahaan Hugo pun mencuat kemedia televisi, bahkan media sosial.


Perusahaan Hugo, dinyatakan kehilangan separuh sahamnya dan Kimberly bukan sepenuhnya pemilik Hugo models dan hotel Paris lagi.


*


*


*


Satu Minggu, sudah berlalu dan gonjang-ganjing soal perusahaan, masih memanas saat Keanu dengan tidak tahu malunya berniat membeli semua saham milik perusahaan Hugo.


Kim hanya bisa terdiam dan bersabar, mendengar semua ancaman Keanu padanya. Kim juga menolak tawar Keanu agar, Kim menjadi miliknya. Tentu saja Kim menolak. Kim lebih baik kehilangan seluruh hartanya daripada harus menjadi milik pria menjijikkan ini.


*


*


*


"Kim," panggil jenny saat Kim sudah berada di dalam mobil untuk pulang.


"Hm." Jawab Kim dengan gumaman.


"Bersiaplah, kita akan ke Amerika besok pagi." Ujar jenny sambil mengemudikan mobil sport mewah milik, Kim.


"Untuk apa ?" Tanya wanita arogan itu.


"Kita akan bertemu salah satu pengusaha kaya dia sana. Dia menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita, Kim. Jadi kumohon, serius kali ini. Soalnya pengusaha ini adalah billionaire dunia." Pungkas jenny.


"Apa dia laki-laki.?" Tanya Kim.


"Bukan, tapi seorang wanita paruhbaya. Balas jenny.


"Jam berapa.?"


"jam 6 pagi." 


"Baiklah."


"Tapi kali ini, kau harus serius, Kim.!? 


"Hm."


"Ck."


Di belahan bumi lainnya.


"Nyonya." Sapa seorang wanita matang yang memberikan sapaan dan juga membungkukkan badannya.


"Katakan." Perintah wanita yang tidak muda itu lagi.


Sang asisten itu pun menyerahkan iPad-nya, kepada sang nyonya.


"Apa-apa, ini." Pekik wanita paruhbaya itu.


"Dasar, anak itu." Geramnya kepada sang anak.


"Bisa-bisanya, dia menghabiskan uangku demi wanita murahan itu." Marah sang nyonya, sambil memijit pelipisnya.


"Hubungi, anak kurang ajar itu." Perintahnya.


"Oh, Tuhan. Anak kesayangan ku yang bodoh.


Wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik dan awet muda, itu merasa geram pada sang putra semata wayangnya yang seenak hatinya, membelikan sang kekasih sebuah mobil sport keluaran terbaru dengan harga selangit.


Sang nyonya hanya bisa menghela nafas atas apa yang putranya lakukan.


Putranya yang masih berusia 26 tahun itu begitu menyayangi kekasihnya, yang hanya menginginkan uang sang anak.


Nyonya Gabriela kato, keturunan Amerika, Jepang itu. Mempunyai seorang putra yang begitu tampan dan juga sangat manja padanya. Nyonya Gabriela sangat memanjakan anak semata wayangnya itu. Kini usia sang putra sudah memasuki dua puluh enam tahun dan mempimpin perusahaan mereka.


Putra manja dan sedikit arogan itu, sangat tidak suka di sentuh oleh wanita lain selain sang mommy dan juga kekasih pertamanya.


"Sepertinya rencanaku harus secepatnya dilakukan."


"Aku, tidak ingin putra manisku, berubah liar dan tidak polos lagi."


"Oh, putra manja dan polosku.