Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 40


"Kau, memang sangat kejam." sinis jenny.


"Dia, hampir kehilangan nyawanya. terlambat sedikit saja kau akan berganti status menjadi janda," ck. kenapa kau berubah tidak punya hati seperti."


"Kau, benar-benar berubah menjadi psikopat kejam."


"Kasian sekali, Malvin Abraham harus di bodohi istri psikopatnya." jenny terus mendengus dan mengerutut kesal.


"Kau, hampir saja membuatku kembali berurusan dengan kepolisian." degus jenny kesal.


"Kau, juga hampir membuat madu-mu gila.!" kali ini Jenny terkekeh. dia menyaksikan sendiri kepanikan dan kecemasan Lotte.


Kim, menulikan semua informasi Jenny. dia hanya asyik menghias kuku-kuku panjang dan runcingnya.


"Panggilkan, aku Julia, aku ingin melakukan perawatan." perintah Kim, membuat Jenny menganga.


"Kau, serius.?" tanya Jenny, tidak percaya.


"Hm." gumam Kim.


"Kau, tidak ingin melihat kondisi Malvin yang sedang kritis.?" tanya Jenny, dengan wajah penasaran.


"Tidak, buat apa,? meskipun dia meninggal aku tetap tidak peduli." jawab Kim cuek dan kembali asyik dengan kuku-kukunya.


"Tapi, ini semua karena mu Kim." geram jenny.


"Aku, tidak peduli. oh iya, aku sedikit kecewa karena dia harus selamat." jawaban sarkas Kim, kembali membuat mulut jenny berbentuk O dan matanya membola.


"You, crazy, Kimberly ligh.!" pekik jenny.


"Terimakasih, atas pujian mu, sayang." balas Kim, dengan senyum usil.


"Oh, God, kau bahkan tersenyum." jenny hanya, bisa merebahkan punggungnya di sandaran sofa ruangan santai yang terdapat di lantai tiga.


"Jadi, kau ingin aku, menangis dan meraung-raung di sampingnya,? oh, itu tidak akan terjadi. tenagaku terlalu berharga untuk meraungi pria yang sialnya masih suamiku." keluh Kim dengan wajah sedih di buat-buat.


"Ck, kau sungguh sangat licik." sinis jenny.


"Bukankah, kita harus lebih licik, untuk melawan musuh kita yang licik.?" ujar Kim, dengan alis terangkat keatas.


"Terserah." jawab jenny menyerah, meladeni sikap arogan Kim dan keras kepalanya.


Kim, hanya tersenyum miring kecil. dia kembali merawat kuku berharganya, tanpa memikirkan kondisi Malvin, yang sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Ruangan santai itu mendadak sunyi. Kim yang masih sibuk dengan kuku-kukunya, sedangkan jenny menerawang sambil menatap langit-langit.


Jenny, tau betul sifat sahabatnya ini. yang sangat membenci yang namanya pengkhianatan dan Kim tidak akan bisa memaafkan orang yang sudah mengkhianati dirinya. Kim akan berubah mengerikan dan menakutkan, apabila sudah membenci seseorang. jenny menatap Kim. dengan dahi mengerut keatas jenny bertanya pada Kim dengan hati-hati.


"Kim." seru jenny, mehilangkan kesunyian.


"Hm." sahut Kim, tanpa melihat kearah jenny.


"Apa, kau masih mencintai Malvin.?" jenny memperhatikan dengan jelas wajah datar Kim.


Kim menghentikan, kegiatannya saat mendengar pertanyaan jenny.


Kim, menyoroti netra coklat Amber tajam. dan raut wajah Kim berubah merah, giginya pun mulai bergesekan.


"Apakah, itu penting.?" jawab Kim dingin, yang masih menyoroti jenny.


"Apa, sikapku belum jelas, untuk menjawab pertanyaan sampahmu itu.?"


"Haruskah, aku membunuh pria brengsek itu, baru kau yakin kalau tidak ada cinta dan maaf buat para pengkhianat.?"


"Cinta itu akan menghilang sendirinya, saat kau merasakan luka dan pengkhianatan. apalagi kau hanya di anggap wanita bodoh selama bertahun-tahun lamanya. dan di anggap naif." ujar Kim lirih dengan perasaan kembali berdenyut nyeri.


"Katakan, apakah aku harus memberinya kesempatan,? di saat dia dengan mudahnya tergoda dengan wanita jaalang di luar sana." lirih Kim, saat dia merasakan dadanya teras sesak.


Jenny mendekat dan membawa Kim kedalam pelukannya, "maaf." ucap pelan, sambil mengusap-usap punggung terbuka Kim.


Kim hanya terdiam dengan tatapan mata yang tajam kedepan.


Suasana tenang mereka, harus terganggu dengan teriakan wanita yang mereka kenal.


"Kimberly," teriak Lotte di dekat tangga, yang terlihat memendam amarah. itu terlihat dari raut wajah wanita itu yang merah darah dan tangannya mengepal, dadanya naik turun begitu cepat.


"Dasar, kau wanita tidak punya hati. kau hanya wanita gila yang sangat mengerikan." pekik Lotte, sambil berjalan kearah Kim, yang hanya diam mendengar makian Lotte.


Kini Lotte sudah berada dua langkah dari Kim.


Lotte mengatur detak jantungnya dan menghela nafas sesaat.


"Kau," tunjuk Lotte kepada Kim, dengan geram.


Kim menarik sudut bibir keatas, seakan-akan wanita arogan itu, sedang mengejek wanita menyedihkan di depannya.


"Why." balas Kim santai.


Jenny hanya diam dan mempersiapkan sikap waspada.


"Dasar, kau wanita tidak tahu diri. istri durhaka, istri murahan, tidak berguna." hina Lotte dengan teriakan lancang.


"Apa, kau sudah puas melihat dan mendengar keadaan Malvin di rumah sakit. dia hampir saja kehilangan nyawanya, asal kau tau, wanita sialan." teriak Lotte di depan, Kim.


"Seharusnya, kau tidak banyak bertingkah, Kim. karena sekarang kau sudah tidak punya apa-apa lagi. kau pasti akan mengandalkan harta Malvin nanti. karena sekarang dirimu, sudah tidak memilik kontrak pekerjaan lagi di negara ini. dan aku, sangat yakin kau akan memberikan kesempatan kepada Malvin dan itu semua pasti karena harta Malvin, tapi aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan Malvin kembali, karena Malvin sekarang adalah milikku. jadi jangan harap kau bisa mendapatkan Malvin kembali Kimberly ligh." ucapan penuh amarah Lotte, hanya membuat Kim tersenyum cantik.


Yang membuat Lotte menjadi lebih meradang.


" Seharusnya, kau juga berterimakasih padaku, karena belas kasihku, kau bisa keluar dari sel tahanan dan aku bisa saja menjobloskan mu kembali kedalam sel. jadi kau bisa membayar kebebasan mu dengan mansion ini. dan pergilah dari sini, karena aku sangat membenci dirimu." perkataan Lotte membuat sikap waspada jenny bertambah, saat melihat tangan Kim mulai mengepal dan raut menakutkan Kim sudah terlihat.


Kim, berjalan sedikit demi sedikit kearah Lotte. Lotte memundurkan tubuhnya yang tiba-tiba bergetar takut, saat melihat tatapan mengerikan Kim.


Kim, terus maju mendekati Lotte, sehingga tubuh Lotte membentur dinding di belakangnya.


Kim tersenyum menyeringai yang membuat wajah Lotte berubah pucat dan tangannya sudah berkeringat.


"Me- menjauhlah." ujar Lotte gugup.


Kim mengurung tubuh Lotte di dinding, yang tubuhnya sudah berkeringat dingin.


"Mana, keberanian yang kau tunjukkan padaku tadi, Lotte.?" tanya Kim, sambil membelai wajah Lotte yang belum terlihat sempurna.


"Ternyata, bekas ukiran ku masih terlihat di wajahmu? apakah ukiran ku kurang jelas di wajah mu Lotte? kau ingin aku menambahkannya.?"


"Kalau, kau mau, dengan senang hati aku akan melakukannya." tawar Kim sambil menyusuri wajah Lotte dengan kuku-kuku panjangnya.


"Ja-jangan, Kim." lirih Lotte, dengan suara gemetar takut. bayang-bayang perlakuan kasar Kim, tiba-tiba muncul di pikirannya yang membuat tubuhnya gemetar hebat.


"Hai, … aku belum mulai, sayang." bisik mengerikan Kim.


"Bukankah, kau mengatakan aku harus berterimakasih padamu,? jadi aku akan tunjukkan padamu cara berterimakasih yang benar buat wanita murahan dan jaalang seperti mu."


"Akhh."


"Kimberly."