
Kim dan Arthur masih menyusuri markas sang pembunuh bayaran itu, yang ternyata penuh jebakan dan juga penuh teka-teki. Kim dan Arthur sudah beberapa kali hampir tersesat di tempat ini.
"Apa yang kau lakukan, okusan.?" Arthur yang melihat kelakuan sang istri yang seperti menandai setiap tempat yang mereka lalui.
"Aku hanya menandai tempat yang sudah kita lewati. Seperti yang kau lihat, tempat ini penuh jebakan." Jawab Kim.
"Ternyata pria tua itu sangat lah, licik dan cerdik." Gumam Arthur, sambil meraba dinding berbatuan itu, ia yakin banyak tempat rahasia di sini dan ia yakin pasti akan menemukan sesuatu di balik dinding bebatuan ini.
"Kau menemukan sesuatu, sayang.?" Tanya Kim, yang melihat suaminya menemukan sebuah lubang di balik patung yang menempel di dinding.
"Sepertinya," sahut Arthur dan mencoba menggeser patung tersebut.
Kim menghampiri suaminya dan benar saja terdapat sebuah tombol disana di balik patung tersebut.
Arthur menekan tombol tersebut dan tak lama kemudian, sebuah dinding di hadapan mereka bergerak dan bergeser dengan sendirinya.
Kim tersenyum sinis dan tanpa membuang waktu, wanita itu masuk kedalam di ikuti oleh suaminya di belakang. "Hati-hati okusan, disini terlalu banyak jebakan pakai ini." Ujar Arthur dan memberikan istrinya itu sebuah kacamata, seperti yang digunakan oleh Natan.
Kimberly menerima kacamata pemberian suaminya tanpa banyak bertanya dan memakaikannya. Dan wanita itu dapat melihat disekelilingnya begitu banyak jebakan.
Kim menoleh kebelakang dan tersenyum kepada suaminya. "Ini sangat canggih sayang." Seru Kim.
"Hum. Itu khusus dibuat untuk memantau keadaan, okusan." Sahut Arthur.
"Kau yang membuatnya.?" Tanya Kim lagi sambil melangkah hati-hati saat netranya di balik kacamata itu menangkap titik perangkat tertanam di bawah lantai.
"Bukan, ini buatan Natan." Jawab Arthur, yang mengikuti langkah hati-hati istrinya.
"Aku tidak menyangka, pria Casanova culun itu sangat genius." Balas Kim dan kini pasangan itu sendang melangkah secara acak-acakan. Karena terdapat jebakan sebuah lampu laser, salah titik pijakan saja maka sebuah tombak akan menyerang mereka.
"Cih menyusahkan." Gumam Kim cengah, saat dia dan suaminya sudah berhasil keluar dari jebakan tersebut.
"Awas," pekik Arthur dan menarik istrinya ke sisinya, saat sebuah tombak ukuran kecil, hampir saja menembus jantung Kim.
"Berhati-hatilah, okusan." Ucap Arthur dengan aura mematikan. Nafas pria itu terdengar berat dan pandangannya begitu nyalang, hampir saja ia kehilangan istri cantiknya itu.
Kim mengangkuk patuh, " maaf aku terlalu ceroboh." Cicit Kim menundukkan pandangannya saat melihat sorotan mengerikan dari suaminya itu.
Arthur menarik nafasnya berat dan menghembuskannya secara berlahan, untuk menekan Amarahnya.
"Berhati-hatilah dan perhatikan sekeliling mu." Perintah Arthur dingin.
"Baiklah," sahut Kim pasrah.
Arthur memimpin langkah mereka kali ini. Ia tidak akan membiarkan istrinya kembali berbuat ceroboh dan membahayakan nyawanya.
"Hati-hati! Perintah Arthur, saat netra tajamnya melihat jebakan yang penuh teka-teki kali ini.
"Ikuti langkah ku, okusan." Perintahnya lagi.
"Hum," sahut Kim patuh.
Ia lalu mengikuti langkah hati-hati suaminya. Terkadang mereka melompat, menundu kepala mereka dan melompat mengunakan satu kaki yang terakhir mereka menundukkan badan, bahkan merayap.
" Sepertinya pria tua itu ada di balik dinding ini." Tebak Arthur saat mereka berhasil lolos dari semua jebakan lorong ruangan penuh teka-teki ini.
"Apa kau yakin." Sahut Kim.
"Yakin." Balas Arthur.
"Mari kita mencari petunjuk untuk mendapatkan persembunyian pria tua itu." Suruh Arthur dan ia mulai menelisik setiap dinding dan juga panjangan disana.
"Pantas saja di sini sunyi penjagaan, ternyata dia menyimpan banyak jebakan." Cebik Kim yang sedang menelisik setiap benda di lorong tersebut.
"Okusan, kemarilah." Panggil Arthur.
Kim menolehkan kepalanya ke arah suaminya dan ia menghampiri suaminya itu, saat ia melihat sang suami menatap lekat kepala patung yang ada di atas dinding bebatuan.
"Bantu aku menggesernya," pinta Arthur.
"Apa disini ada petunjuk." Sahut Kim antusias.
"Sepertinya begitu."
"Ck."
"Cepatlah, okusan."
Kim akhirnya membantu suaminya menggeser patung kepala binatang yang menempel diatas dinding. Dan benar saja di balik patung tersebut terdapat Sebuah tombol disana. Tanpa aba-aba Kim menekan tombol tersebut dan tak lam kemudian sebuah dinding terbuka yang menyerupai pintu lift.
"Ck, dasar tua bangka menyusahkan." Gerutu Kim.
"Cih, menjijikkan." Sela Kim.
Membuat memimpin dari kelompok membunuh bayaran itu terloncat kaget dan pria tua itu langsung menyingkirkan wanita yang ada di atasnya.
"Dasar pria tua menjijikkan," sinis Kim.
Sedangkan Arthur hanya memandangi pria itu dingin.
"Siapa kalian.!" Hardik pria tua tersebut setelah memakai pakaiannya dan begitupun pengawal wanitanya.
"Aku, adalah pelataran mu untuk menemui malaikat maut." Jawab Kim dingin.
"Jadi kau wanita yang melukai ku tadi.?" Geram pria tua itu.
"Itu hanya sebuah tanda perkenalan, tuan alvanso.?" Ujar Kim dengan dingin dan wajahnya kini berubah mengerikan.
"Kau, mengenalku ternyata," sahut pria tua itu Santai.
"Ya sangat mengenal mu. Kau pria tua sialan yang membiarkan anak buahnya bertarung nyawa. Dan lihat dirimu kau malah asyik memadu kasih, cih, pria tua busuk menjijikkan." Hina Kim.
"Jaga ucapanmu, nona." Hardik tuan Alvanso geram.
"Jangan membentak istriku sialan." Teriak Arthur.
"Jadi kalian sepasang suami-istri.?" Tanya tuan Alvanso dengan wajah pongahnya.
"Apa yang kalian inginkan."
"Membunuhmu."
"Hahaah."
"Kenapa kau begitu terobsesi membunuhku, nona cantik." Ujar tuan Alvanso yang kini berdiri tegap di depan Kim sambil mengerlingkan mata mesumnya pada Kimberly.
"Kau sangat cantik, nona." Puji tuan Alvanso.
"Jaga mata dan ucapanmu, pria tua sialan." Bentak Arthur yang tidak terima istrinya di puji oleh mulut busuk tuan Alvanso.
Kim hanya terdiam dengan sorotan penuh dendam dan amarah yang kini menyelup rongga dadanya.
Sementara tuan Alvanso menatap lekat wajah Kim yang menurutnya sangat familiar.
"Apa kita pernah bertemu.?" Tanya tuan Alvanso dengan kening mengerut.
"Tidak." Jawab Kim singkat.
"Tapi aku seperti mengenal mu."
"Benarkah? Berarti aku tepat sasaran, kalau kau orang yang selama ini aku cari."
"Apa maksudmu."
"Tuan Damian ligh Hugo dan Caroline ligh Hugo." Sahut Kim dingin dan sorotan matanya kini berubah penuh dendam.
Tuan Alvanso tersendat kaget dan ia bergeming di tempatnya sejenak dan detik berikutnya ia terkekeh atas apa yang ia dengar dari mulut Kim.
"Jadi kau keturunan dari keluarga ligh Hugo yang tersisa.?"
"Apa maksudmu pria tua sialan."
" Aku tidak menyangka keturunan, ligh Hugo masih ada, bukankah mereka sudah habis terbunuh.?"
"Brengsek," amuk Kim dan melemparkan pria tua itu sebuah belati kearah tuan Alvanso. Tapi pria tua itu dengan gerakan cepat bisa menghindari serangan Kim.
"Ternyata kemampuan sangatlah bagus, kau benar-benar keturunan ligh Hugo, klen mafia mengerikan itu."
"Kau tau, ayahmu adalah seorang pria kejam dan berdarah dingin, dia hanya sampah masyarakat yang harus disingkirkan, jadi aku hanya mengikuti perintah mereka untuk membunuh sampah masyarakat itu."
"Tutup mulutmu itu, sialan." Hardik Kim yang tidak terima sang ayah di hina.
"Kenyataannya begitu, nona. Ayahmu seorang penjahat dan pembunuh berdarah dingin. dan Ternyata tuan Damian ligh Hugo, sangat pandai menyembunyikan indentitas mu, tidak seperti putranya yang malang." Perkataan tuan Alvanso membuat darah Kim mendidih dan debaran amarah kini sudah menguasai seluruh tubuhnya.
Sementara Arthur terdiam dan bergeming di tempatnya saat mendengar silsilah keluarga sang istri yang ternyata seorang keturunan klen mafia Hugo.
"Hugo." Lirih Arthur dengan raut wajah tidak percaya.
jangan lupa tinggalkan jejak jari jempol kalian bestie, dan juga jejak jari-jari lentik kalian di kolom komentar 🤗☺️☺️