Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 131


"Sepertinya, kita tidak perlu ke Jepang." Larry yang baru saja mendapatkan kabar dari, mata-matanya di negara Jepang yang khusus ia perintahkan untuk mengawasi gerak-gerik tuan Lincol dan saudaranya.


Kim, Arthur, Nathan dan Jenny, keempatnya serentak menoleh kepada Larry yang baru saja tiba di Mansion Hugo.


"Why? Tanya Kim, yang begitu penasaran.


"Mereka, sudah bersiap terbang kesini." Sahut Larry yang duduk disebelah Jenny. Yang membuat Nathan melengos tidak suka. Ia mengangkat tubuh mungil wanita itu dan memindahkannya ke sisi kirinya. "Jangan sentuh milikku," cetus Nathan.


"Cih! Larry hanya berdecak melihat sikap posesif Nathan.


Nathan merangkul pundak mungil Jenny dengan posesif dan mendelik ke arah Larry.


"Diamlah, baby,!" Bisik pria bermata empat itu, ketika Jenny meronta ingin melepaskan diri.


"Kau menyebalkan," sungut Jenny.


"Terimakasih atas pujianmu, baby.!" Bisik pria itu lagi.


Jenny menutup mulutnya rapat-rapat, ia malas meladeni tingkah aneh pria di sampingnya yang merangkulnya begitu posesif. tapi Sialnya pria ini mampu membuatnya salah tingkah dan berdebar-debar.


"Jadi, apa rencana kita.?" Arthur yang sejak tadi terdiam kini mengeluar suara beratnya.


"Entahlah. yang jelas kita harus bersiap, karena kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang kita. Mulai sekarang kalian semua harus terus waspada dan berhati-hati.!" Imbuh Larry, ada sedikit nada khawatir disematkan di ucapan pria itu yang ia tujukan pada sang adik. Larry memandangi adiknya begitu lekat dan dalam.


"Kakak, tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja dan bisa menjaga diriku sendiri." Sahut Kim dengan memperlihatkan senyum indahnya kepada Larry.


"Dia akan baik-baik saja bersama ku, aku tidak akan membiarkan istri ku terluka sedikitpun,!" Arthur menimpali percakapan kakak beradik itu.


"Kau, yang terbaik suami ku." Puji Kim sambil memeluk Arthur dari samping.


"Aku memang terbaik untuk mu, okusan." Sahut pria sipit itu dengan wajah pongah.


"Cih! Decih Nathan.


"Jenny berhati-hatilah.!" Kini Larry menatap sahabatnya itu dengan wajah khawatir.


"Hum! Sahut Jenny sambil menganggukkan kepalanya.


"Tenanglah. Dia akan aman bersamaku, iyakan, baby." Sela Nathan.


"Syukurlah, kalau begitu. Aku hanya mengkhawatirkan kalian." Ucap Larry kembali.


Pria itu memandangi wajah kedua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.dan hanya kedua wanita ini yang ia miliki sekarang.


"Hei! Jangan memandangi wanita ku seperti itu.!" Pekik Nathan tidak suka, dengan tatapan Larry kepada bidadari berkacamata miliknya.


Nathan membalikkan tubuh mungil Jenny dan mengangkatnya dengan mudah, ke atas pangkuannya. Ia menanamkan wajah Jenny di dada kerasnya.


"Apa yang kau lakukan, Casanova culun." Hardik Jenny. Tapi wanita itu terdiam saat wajahnya berada tepat di atas dada keras Nathan. Ia dapat mendengar detak jantungnya pria bermata empat itu. Jenny mendongak, dan bersamaan Nathan menundukkan wajahnya. Nathan mengecup sekilas bibir ranum merekah Jenny. "Kau mendengarnya.?" Bisik Nathan di atas wajah Jenny, yang membuat si gadis bermata empat itu mengangguk pelan.


Nathan terkekeh melihat wajah imut dan menggemaskan wanita yang ada di pangkuannya ini. Ia kembali mengecup bahkan sedikit menyesap bibir Jenny yang begitu memabukkan. Jenny yang salah tingkah, segera menyembunyikan wajahnya kembali pada dada bidang Nathan, ia menghirup wangi tubuh pria itu yang begitu menghanyutkan.


"Cih. Bisakah kalian berdua menyeda kegiatan yang membuat mataku sakit.!" Celetuk Arthur dengan sinis.


"Apa kau iri dengan ku, dude.?! Sahut Nathan dengan alis tebalnya yang naik-turun, membuat Arthur ingin melemparkan sepupunya itu keluar angkasa.


"Okusan." Rengek Arthur pada istrinya itu yang sedang sibuk dengan iPad mini miliknya.


"Okusan.! Rengeknya lagi, yang tidak mendapatkan respon dari Kim yang sibuk memeriksa sesuatu.


"Okusan.! Sentaknya.


"Kau menyebalkan.!" Ucap pria sipit itu dengan nada merajuk. Dan meninggalkan ruangan santai itu dengan wajah ditekuk dan bibir tipisnya yang bersungut-sungut.


"Astaga. Dia merajuk," lirih Kim.


"Cepatlah, bujuk bayi besarmu itu." Cibir Larry.


Kim menghela nafas dan ia pun berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah suami yang sudah berada di anak tangga lantai dua.


"Aku duluan, kakak. Selamat malam." Ucap Kim dan mencium pipi sang kakak.


"Hum. Selamat malam." Balas Larry sambil mengusap rambut sang adik.


"Jen. Selamat malam." Ucapnya pada pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.


"Hum." Bukan Jenny yang menyahut tapi Nathan.


Kim hanya mencebikkan bibirnya dan segera berlari ke arah tangga. Ia akan membujuk suaminya itu yang dalam keadaan mode merajuk on.


"Sayang ku, honey ku, suami ku yang tampan dan manis." Ujar Kim yang mengejutkan pria sipit yang sedang sibuk dengan benda persegi yang ada di atas meja.


"Sayang." Panggil Kim lembut dan duduk di pangkuan suaminya.


Arthur masih diam dengan wajah masam. Ia hanya melirik Istrinya, tanpa menyahuti sapaan Kim yang mencoba merayu suami tampannya itu.


"Maaf? Lirih Kim dengan menundukkan wajahnya.


"Aku mengacuhkanmu." Lirih Kim lagi dengan nada sedih.


"Maafkan aku." Ucapnya lagi.


Arthur mengalihkan perhatiannya dari benda persegi itu dan menatap wajah sendu istrinya.


Arthur meraih dagu lancip Kim dan mendongakkan ke arahnya. Arthur menatap lekat manik indah istrinya itu.


"Aku tidak suka kau mengacuhkan, okusan." Bisik Arthur di atas wajah istri cantiknya.


"Maaf? Balas Kim.


"Shut! Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya."


"Maka, jangan merajuk lagi."


"Aku tidak merajuk, okusan. Tapi aku tidak suka di acuhkan."


"Itu sama saja."


"Beda, okusanku."


"sudahlah. lebih baik kita tidur." ujar Kim yang akan turun dari pangkuan suaminya.


"kau mau kemana, okusan.?" sahut Arthur sambil menahan pinggang ramping Kim.


"ranjang." jawab Kim.


"ranjang? Arthur membeo.


"hum. aku lelah, sayang, ingin istirahat." balas Kim yang mencoba lepas dari lilitan tangan kekar Arthur di pinggangnya.


"lepas, sayang." pinta Kim.


"no. aku ingin seperti ini." tolak Arthur, yang kini sudah menyesuri leher panjang istri nya itu.


"sayang.!" lirih Kim dengan nada suara tertahan saat Arthur mengecup area leher jenjang indah nya dan turun kebawah.


Arthur menulikan panggilan sang istri. ia hanya tertarik dengan nada suara istrinya yang sedang menahan desaahan. Arthur kini sudah berada di salah satu pucuk gunung kembar sang istri yang berwarna pink cerah itu. dengan satu tangannya meremat gunung satunya. Arthur menyeda kegiatannya sekilas. ia membuka kemejanya dengan tergesa-gesa tanpa membuka kancingnya terlebih dahulu. ia juga membuka piyama tidur Kim dengan sedikit kasar dan tergesa-gesa. Arthur melanjutkan kegiatannya yang tertunda. mendaki gunung kembar rasa Mochi Istrinya, ia begitu menikmati kegiatan naik-naik kepuncak gunung milik sang istri. puncak gunung yang begitu memabukkan dan menghanyutkan. Arthur semakin aktif mendaki gunung sang istri dengan rasa Mochi itu.


"sayang."


"hm!


"hentikan."


"sayang."


"hum, okusan."


"kita tidak bisa melakukannya, sayang."


"k-kenapa?


"kau harus puasa dulu."


"puasa?


"hm.


"aku sedang datang bulan."


"APA!!!


"oh tidak. benda ajaibku,"