
Di belahan dunia lain.
Lotte, yang kini sedang mengendap-endap seperti pencuri, saat netra coklat wanita itu, menangkap beberapa sosok polisi sedang berjaga di depan, apartemen dan juga ada beberapa petugas kepolisian mencari di sekitaran apartemen di mana Lotte tinggal.
"Sial." Umpat Lotte.
Wanita itu yang sudah berhasil masuk kedalam unitnya, untuk membersihkan diri dan berpakaian rapi. Tapi sialnya, dia harus menghadapi penjagaan yang di lakukan para petugas kepolisian.
Lotte mengintip di balik tembok tangga darurat.
Ia melihat beberapa dari petugas kepolisian menaiki lift. Mungkin mereka akan memeriksa unit apartemen Lotte.
"Sial." Kembali lagi wanita itu mengeluarkan umpatan.
"Aku, harus cepat keluar dari sini. Bisa gawat kalau mereka memasuki apartemen milikku. Mereka akan tau kalau aku baru saja dari sana." Gumam Lotte kebingungan untuk berbuat apa.
"Aku harus bagaimana sekarang." Gumamnya lagi, sambil bolak-balik di depan tangga darurat.
"Sial. Aku seharusnya pergi dari sini." Lirih Lotte.
Wanita itupun berjalan kearah area belakang apartemen mewah itu. Lotte berjalan sambil menundukkan kepalanya ketika berpasan dengan para pekerja di apartemen yang ia tinggali.
Lotte memasuki ruangan khusus penyimpanan barang-barang keberhasilan, ketika maniknya melihat beberapa polisi berjalan kearahnya.
Dengan jantung yang berdetak kencang dan tubuh yang gemetar, Lotte bersembunyi di dalam ruangan itu.
Para polisi yang masih melakukan berkeliaran di sekitar apartemen untuk melakukan, pencarian pada tahanan yang sedang melarikan diri.
Dua orang polisi sedang melakukan pencarian di bagian area belakang apartemen.
Setiap ruangan tidak luput dari pemeriksaan mereka. Kini kedua polisi itu, berhenti didepan ruangan penyimpanan barang-barang kebersihan, dimana Lotte bersembunyi tadi.
"Kau, periksa disini. Aku akan memeriksa bagian yang lain." Ujar salah satu dari mereka.
"Baiklah. Berikan aku kabar kalau kau menemukan tanda-tanda keberadaan wanita itu." Sahut petugas kepolisian yang kini bersiap untuk melakukan pemeriksaan di ruangan kebersihan.
"Baik."
"Berhati-hatilah."
"Hm.
Petugas kepolisian itupun meninggalkan temannya sendiri yang akan memeriksa kedalam ruangan di mana ia berdiri sekarang.
Pria dengan pakaian serba hitam itupun, membuka ruangan yang di penuhi oleh barang-barang perlengkapan kebersihan.
Pria dengan tubuh tinggi tegap itu, menelisik setiap ruang dan juga semua lemari penyimpanan tidak luput dari mata tajam pria itu.
Polisi itu kini berjalan kearah ruang ganti. Dia membuka satu persatu pintu ruangan ganti tersebut. Dan kini ia berada di pintu terakhir ruangan ganti tersebut yang tertutup rapat. Polisi itu memicingkan mata tajamnya dan menajamkan pendengarannya.
Ia mengulurkan tangannya untuk mengapai handle pintu dan bermaksud membukanya, tapi pintu itu terkunci dari dalam.
"Halo. Apakah ada orang." Seru polisi itu, suaranya pun menggema di ruangan sunyi itu.
"Hei, … apakah ada orang." Serunya kembali, kali ini tangan kerasnya mengetuk kuat pintu kamar ganti tersebut.
"Clek."
Tidak lama pintu itu terbuka. Dan sesosok laki-laki keluar dari sana, dengan seragam biru yang khusus bagi, pekerjaan kebersihan di apartemen mewah dan terkenal itu.
"Maaf, tuan." Sela sosok yang kini berdiri di depan polisi yang menatap lekat dirinya.
"Kau, sedang apa disini." Tanya sang polisi dengan tatapan lekat menatap sosok di depannya yang menutupi wajahnya dengan masker dan kepalanya di hiasi topi yang senada dengan seragamnya.
"Saya, sedang berganti pakaian tuan." Ujar sosok itu yang suaranya di sengaja seberat mungkin.
Polisi itu terus saja menatap pria di hadapannya lekat dan tajam. Polisi itu juga menelisik penampilan pria di depannya dengan serius.
Pemuda itupun menggeleng pelan.
"Saya, baru di sini tuan.?" Sahut pemuda tersebut.
"Baru.?" Tanya sang polisi.
"Iya, tuan. Jadi saya belum mengenal para penghuni apartemen ini." Jawab pemuda itu.
"Begitu rupanya."
"Iya tuan.
"Kalau, tidak ada lagi yang anda tanyakan, saya permisi untuk melakukan pekerjaan saya tuan." Izin pemuda itu, yang suaranya di buat-buat berat.
"Baiklah. Silakan." Balas sang polisi dan diapun memberi jalan kepada pemuda yang masih mengenakan masker itu.
"Permisi.!" Pamit pemuda itu.
"Hm." Gumam polisi yang kini memeriksa kamar ganti yang di kenakan pemuda tadi.
Dengan derap langkah terburu-buru, pemuda itu keluar dari ruangan kebersihan itu dan berjalan kearah pintu belakang bangunan apartemen itu, yang biasa di lalui oleh para pekerja keluar masuk.
Dengan nafas yang memburu pemuda itu kini sudah berada di luar area apartemen. Ia bersembunyi di balik tembok kokoh dan tinggi.
Ia membuka masker di wajahnya dan juga topi yang menutupi kepalanya. Tapi ada yang aneh. seketika pemuda itu berubah menjadi sosok wanita yaitu Lotte.
Lotte memengangi dadanya yang berdegup kencang. Wanita itu mengusap keringat di wajahnya. Dia menarik nafas lega, saat berhasil keluar dari jalur pencarian.
Lotte yang ketakutan sejak berada di ruangan kebersihan, saat petugas kepolisian memasuki ruangan itu. Segera saja Lotte bersembunyi di dalam ruangan ganti dan keberuntungan datang padanya saat sepasang seragam khusus office boy tergantung di balik pintu. Lotte pun mengganti pakaiannya dan ia juga mengubah penampilannya sebagai pemuda. Wajahnya ia tutupi dengan masker khusus untuk para pekerja dan juga topi yang senada dengan seragamnya.
Disinilah Lotte sekarang di dalam mobil taksi yang akan mengantarkannya ke mansion suaminya, Malvin. Ia begitu lega saat sudah menjauh dari area apartemen. Beruntung karena dirinya membawa sejumlah uang yang ada di lemari pakaiannya tadi.
Lotte masih mengenakan seragam kebersihan, pakaiannya tadi ia sudah memasukkannya kedalam tong sampah.
Jadi dengan berat hati dan terpaksa wanita itu memakai pakai ala office boy, untuk bertemu suaminya.
"Aku, sudah tidak sabar bertemu dengan mu, sayang. Kau tau aku membawakan kabar bahagia untuk mu, sayang." Monolog Lotte, sambil tersenyum sendiri.
"Oh Tuhan, aku ingin sekali cepat bertemu dengannya." Gumam Lotte, dengan wajah berbinar.
Tak berselang lama, Lotte sudah berada di depan bangunan mansion mewah bertingkat tiga.
Dengan perasaan bahagia Lotte, memasuki gerbang itu, yang sedang lengah dari penjagaan.
Lotte menaiki tangga untuk sampai kedepan pintu kokoh Mansion Malvin suaminya.
Tanpa basa-basi Lotte langsung membuka pintu mansion itu yang lagi-lagi, lengah dari penjagaan.
Dengan senyum bahagia terukir di wajah kusamnya, Lotte memijakkan kakinya di setiap anak tangga yang akan membawanya, kearah kamar sang suami.
Lotte kini berada di depan kamar Malvin. Ia dengan semangatnya dan tanpa rasa malu, langsung membuka kamar mewah itu.
Senyum ceria dan bahagia Lotte memudar seketika saat dirinya, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, suaminya itu sedang tidur bersama dengan seorang wanita yang sangat ia kenal dalam keadaan berpelukan dan hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
Lotte mengertakkan giginya dan garis wajahnya kini mengeras dan berubah merah darah. Dada Lotte tiba-tiba sesak dan terlihat naik turun, begitu kencangnya. Air matanya pun sudah mengalir membasahi wajah kusut wanita yang kini manik matanya berubah merah dan menatap tajam pada kedua manusia bejat di hadapannya.
"Akhh."
"MATILAH KALIAN."
"Jleb."
"Jleb."