Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_jangan menjadi orang ketiga


Disisi lain.


"Emma apa yang kau lakukan, hah?" bentak Mira menatap tajam ke arah Emma.


Emma menggertakkan giginya, ia tidak terima di perlakukan seperti itu, "Memangnya Aku salah apa? apa Aku salah bersama dengan Pangeran?" tanya Emma yang tidak kalah tajam.


Mira menahan geram, ingin sekali ia melayangkan tangannya ke wajah Emma, tapi mengingat Emma teman yang di sayang Pangeran, ia tidak berani.


"Apa kamu karna teman masa kecilnya Pangeran, lalu kamu menghalangi semua orang yang berniat dengan Pangeran? ingat Emma burung gagak jangan bermimpi menjadi burung phoenix."


Emma mengepalkan tangannya, ia tidak terima di hina seperti ini, ia akan buktikan bahwa burung gagak bisa menjadi burung phoenix. Ia akan membuat orang yang menghinanya akan menyesal suatu hari nanti.


"Dan ingat jika kamu bertindak lebih, Aku akan mengadukan mu pada Yang Mulia." Pelayan Mira pun hendak pergi dengan menahan amarah.


"Dan ingat, kita lihat saja nanti siapa yang akan di pilih oleh Pangeran Abigail, Aku atau Dia."


Pelayan Mira menoleh, "Kau," ia bermaksud melayangkan tangannya ke arah pipi Emma namun di cekal oleh seseorang.


"Apa yang kau lakukan pelayan Mira?" bentak seorang pria paruh baya.


Pelayan Mira merontak untuk di lepaskan, cengkraman itu terlalu kuat di lengannya, ia menatap ke arah Ketua pelayan, Erios. Orang yang mengasuh Emma sedari kecil.


"Jaga sikap Emma jangan sampai membuat Putri Viola kecewa dengan tingkahnya." ucap pelayan Mira melihat Emma dengan sikap acuh tak acuh kemudian berlalu pergi.


"Emma apa yang kamu lakukan? jangan berbuat tindakan yang bisa merugikan kamu," Ketua pelayan Erios mengelus kepala Emma dengan kasih sayang, semenjak istri dan Anaknya meninggal, ia lebih murung dan sekarang untunglah ada Emma yang menemaninga setiap hari. Ia merasa senang Kaisar Emerald memberikan Emma padanya untuk di asuh. Ia sudah menganggap Emma sebagai Putri kandungnya sendiri.


"Aku hanya tidak suka Pangeran Abigail bersama dengan Putri Viola, bagaimana jika Pangeran meninggalkan ku." serunya dengan mata berkaca-kaca.


Ketua pelayan Erios berjongkok, ia menggenggam lembut kedua tangan Emma, "Pangeran tidak akan meninggalkan mu, selama kamu bersikap baik." ucapnya seraya mengelus kepala Emma.


"Tapi Aku takut," lirihnya.


"Percayalah, masih ada Ayah." ucapnya lembut seraya mencium pucuk kepala Emma.


Sementara Putri Viola termenung di meja riasnya, ia mengingat pertemuan tadi, ada rasa senang di hatinya. Tapi ada rasa khawatir dengan pertemanannya, ia merasa pertemanannya tidak akan berlangsung lama.


Pangeran Abigail gumamnya pelan.


"Oh, baiklah." ucap Putri Viola seraya melirik Adiknya yang sedang bermain boneka.


"Sebaiknya kalian keluar lebih dulu, Aku nanti menyusul. Karna perut Ku masih sakit." ucap Putri Viola yang tiba-tiba merasakan perutnya sakit.


"Apa tidak apa-apa Putri?" tanya pelayan Mery.


"Tidak apa-apa, kalian bilangkan saja pada mereka jika Aku datang terlambat."


Putri Viola pun bergegas pergi menuju ke kamar mandi.


30 menit kemudian..


Putri Viola keluar dari kamar mandi, ia mengelus perutnya yang merasa lega. Saat dirinya hendak turun dari tangga, ia berpapasan dengan Emma yang menaiki tangga. Emma menatap ke arahnya dengan tatapan tidak senang dan segera memberikan hormat.


"Emma kau mau kemana?" tanya Putri Viola sekedar basa-basi.


"Hamba akan menjemput Pangeran untuk makan malam,"


"Oh," Putri Viola menoleh ke belakang, ia melihat dua kamar di samping kamarnya.


"Kamar di samping kanan dekat dengan kamar Putri Viola adalah kamar Pangeran Abigail." jelasnya, ia mengerti Putri Viola mencari kamar Pangeran Abigail.


Putri Viola merasakan tidak enak, ternyata Emma tau pikirannya. Ia mengangguk, melanjutkan langkah kakinya.


"Tunggu, Putri." Emma membalikkan badannya, ia turun dari tangga itu, mendekat ke arah Putri Viola.


"Putri, Putri tau kan jika hamba sedari kecil bersama dengan Pangeran Abigail. Hamba rasa Putri pasti menyadarinya. Pangeran Abigail sangat menyayangi hamba, dan dia tidak akan pernah menolak perintah Yang Mulia Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia. Dia adalah Pangeran yang penurut. Hamba tentu tau apa yang Pangeran suka dan tidak suka. Apa Putri tau jika Permaisuri Anastasya ingin menjodohkan Putri dengan Pangeran Abigail. Dan untuk itu hamba mohon jangan menjadi orang ketiga di antara kami."


Setelah menyelesaikan unek-uneknya, Emma menunduk hormat dan menaiki tangga.


"Tunggu, tapi Aku hanya berteman dengannya."


Emma menoleh, "Berteman ada batasnya Putri." ucap Emma dengan tatapan sinis.


Putri Viola pun tertegun, ia mengingat perkataan Emma yang ingin menjodohkannya dengan Pangeran Abigail, ia berniat akan menanyakannya pada Ibundanya setelah makan malam.