
"Pangeran Gabriel, apa kamu tidak mengambil sendiri atau menyuruh pelayan. Dia itu Permaisuri bukan pelayan mu," bentak Kaisar Alex.
"Apa salah jika kita di layani oleh istri kita," jawab Pangeran Gabriel dengan entengnya. Sementara Anastasya dan yang lainnya terkejut bukan main. Bagaimana bisa Pangeran Gabriel mengucapkan kata seperti itu. Jika Pangeran Gabriel mengatakannya di luar istana sudah pasti rumor akan beredar di antara mereka.
"Diam !"
Perkataan Pangeran Gabriel menyulut emosi Kaisar Alex. Semua orang tidak tau siapa Pangeran Gabriel kecuali orang tuanya, Tetua, dirinya dan Pangeran Gabriel sendiri.
Anastasya menaikkan salah satu alisnya, "Sebenarnya siapa Pangeran Gabriel? rasanya ada yabg janggal." batin Anastasya melirik ke arah Pangeran Gabriel dan melirik ke arah Kaisar Alex.
Kaisar Alex beranjak berdiri dan berlalu pergi, moodnya sudah rusak. Jika bukan Pangeran Gabriel adalah jiwanya yang lain, sudah pasti dia akan menghancurkannya sekarang juga.
"Baiklah kita lanjutkan makannya," ucap Anastasya menghentikan ketegangan di ruang itu.
Merekapun makan dengan nikmat dan hening. Hanya suara sendok dan garpu serta pisau yang memecahkan keheningan. Setelah selesai Anastasya beranjak berdiri. Merekapun serempak menatap Anastasya yang telah selesai lebih dulu.
"Kalian lanjutkan saja makannya, aku akan menemui Yang Mulia. Mery, bawakan makanan untuk Yang Mulia." perintahnya Anastasya ia melihat ke arah piring Kaisar Alex yang masih tersisa.
"Permaisuri, biar hamba saja yang menemui Yang Mulia." Timpal Elisha.
"Tidak Perlu, biar aku saja." jawab Anastasya datar membuat Elisha jengkel.
Haha, aku suka wajah cemburu mu. Setidaknya aku ingin membuat mu mati karna cemburu atau lebih batin Anastasya tertawa puas di dalam hatinya
Anastasya yang di ikuti Mery berjalan menuju ruang kerja Kaisar Alex. Sepanjang perjalan entah mengapa otaknya terus memikirkan perkataan Pangeran Gabriel,
Istri, apa maksudnya dengan istri? bukankah di dalam novel hanya di jelaskan jika Pangeran Gabriel anak angkat. Tapi di dalam novel Pangeran Gabriel mencintai Elisha setelah Elisha menolaknya, tiba-tiba Pangeran Gabriel menghilang. Ada yang bilang dia mati, ada yang bilang dia meninggalkan Kekaisaran. Ah, sepertinya di dalam novel itu kurang jelas. Mungkin masih banyak rahasia yang perlu aku ketahui. Dan itu lagi aku harus mencari seorang anak dan ayah yang di bunuh itu, Menurut novel mereka mati karna di racunin oleh pelayan Elisha, tapi masak iya sih jika melihat perlakuan Elisha sekarang aku tidak yakin akan hal itu. Dasar novel aneh, kenapa tidak di jelaskan secara mendetail sih gerutu Anastasya dalam hati.
Sesampainya di sana Anastasya membuka pintu itu, mendapati Kaisar Alex yang memijat pelipisnya seraya menatap berkas-berkas di hadapannya itu.
"Yang Mulia," ucap Anastasya lembut, ia menuju ke arah Kaisar Alex yang masih memijat pelipisnya.
"Hah, untuk apa Permaisuri datang kesini?" dengus Kaisar Alex dengan kesal.
Idih jangan sok cool deh Kaisar Alex, tapi tampan sih. Lok bukan rencana ku, aku mah ogah batin Anastasya seraya tersenyum.
Anastasya duduk di depan meja Kaisar Alex seraya menopang dagu, melihat ke arah Kaisar Alex yang masih mengabaikkan nya, "Yang Mulia, ayolah makan. Yang Mulia harus menjaga kesehatan,"
Kaisar Alex melihat ke arah Anastasya yang tersenyum ketika ia melihatnya, "Apa Permasisuri merayuku agar aku memaafkan mu, lihatlah tadi bahkan Permaisuri menaruh perhatian pada Pangeran Gabriel." ucap Kaisar Alex dengan nada malas. Menyebutkan namanya saja ingin sekali perutnya memuntahkan semua isinya.
"Yang Mulia jujur saja hamba penasaran dengan kata istri dari mulut Pangeran Gabriel,"
Deg
Seketika jantung Kaisar Alex berhenti, ia melirik Permaisuri Anastasya yang masih menopang dagu. Ketakutan mulai mengalir dari darahnya. Ia takut selama ini rahasia yang ia jaga harus terbongkar, ia juga takut jika Permaisurinya lebih memilih Pangeran Gabriel saat mengingat perlakuannya dulu.
"Hem, Permaisuri tidak perlu di pikirkan. Aku lapar, aku akan makan," kilah Kaisar Alex berusaha tenang agar Permaisuri Anastasya tidak curiga.
Kaisar Alex menguyah makanan yang di bawakan Permaisurinya seraya mengingat kejadian dulu.
Flasback.
"Ayahanda aku tidak akan menikah dengannya. Aku tidak mencintainya." ucap Putra Mahkota / Kaisar Alex dengan nada meninggi.
Kaisar Hugo menarik nafas kasarnya, ia tidak tau harus bagaimana supaya Kaisar Alex mau menikah dengan Permaisuri Anastasya pilihannya sendiri. Selain dari kalangan atas Kaisar Hugo juga menilai jika Permaisuri Anastasya wanita baik.
"Bagaimana caranya agar kamu mau menikah Putra Mahkota?" tanya Kaisar Hugo menatap tajam.
Dengan tangan mengepal, Kaisar Alex mengatakannya dengan tegas dan berani, "Satukan jiwa ku dengan Pangeran Gabriel. Jika aku tidak bisa mencintainya. Maka Pangeran Gabriel lah yang berhak menjadi suaminya." ucap Kaisar Alex menunduk hormat dan berlalu pergi.
Flasback off
#Maaf Kak jika ceritanya bertele-tele dan kurang memuaskan.