Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 22_hukuman Duke Erland


Seketika Kaisar Alex tertawa, "Heh, jangan bercanda Duke Erland, dengan mudahnya kau meminta Putri mu turun. Jangan bermimpi. Aku tidak akan melepaskan Putri mu begitu saja,"


Duke Erland bersujud di hadapan Kaisar Alex. Entah cara apa lagi yang ia harus lakukan, " Hamba mohon Yang Mulia. Tolong lepaskan Putri Hamba." lirih Duke Erland. Dadanya terasa sesak setiap mengingat Putri kecilnya menangis dalam senyuman. Jika di tanya dia sedih atau tidak, pasti jawabannya hanya senyuman palsu. Selama ini Putrinya sudah bertahan akan semua penderitaan yang ia hadapi.


"Dengan mengatakan semua ini. Dirimu sudah melanggar aturan Duke Erland," bentak Kaisar Alex.


"Aturan," Duke Erland mendonggakkan kepalanya, "Jika hamba mengatakan itu adalah aturan. Lalu dimana aturan sesungguhnya dari almarhum Kaisar?"


Kaisar Alex menggertakkan giginya, ia tau maksud perkataan Duke Erland. Menyinggung peraturan yang ia buat.


"Duke Erland aku masih berbaik hati tidak menghukum mu, tapi kau lancang mengatakan yang seharusnya tidak kau katakan." teriaknya.


"Hukum hamba Yang Mulia, tapi tolong lepaskan Putri hamba. Sudah cukup baginya menangis di setiap detik, di setiap menit, setiap harinya. Dari dulu hamba selalu menimang-nimang permintaan hamba Yang Mulia. Putri hamba tidak membutuhkan posisi ini. Dia sudah bertahan sejauh ini, setiap harinya dia harus menangis. Jika belum cukup nyawa hamba. Hamba akan serahkan untuk Yang Mulia." lirihnya disertai air bening di matanya.


"HAMBA MOHON TURUNKAN PUTRI HAMBA DARI TAKHTA, YANG MULIA." teriak Duke Erland lantang seraya bersujud. Ia tidak peduli dengan harga dirinya lagi, Demi sang Putri.


Emosi Kaisar Alex tidak terbendung lagi, hatinya dan pikirannya tidak terima perkataan Duke Erland. Bukankah selama ini hatinya menginginkan kepergian Ratu tapi kenapa sekarang hatinya merasa berat.


Kaisar Alex menghela nafas, "Duke Erland, karna kau berani menantangku. Aku tidak peduli apapun status mu, "Aku Kaisar Alex menghukum mu di istana gelap." teriaknya dengan lantang, "Dan siapa pun yang berani membantah perintahku, ingatlah keluarga tercinta kalian. Aku tidak akan segan-segan menghukum kalian beserta keluarga kalian."


Semua para pejabat diam membeku. Mereka ingin protes. Namum di urungkan ketika mendengarkan ancaman Kaisar Alex yang bukan main-main.


Istana gelap, istana yang letaknya belakang istana pertama. Istana yang usang tidak terawat dan sebagai penjara para penjahat.


"Pengawal,"


Kedua pengawal langsung masuk dan memberi hormat.


"Bawa Duke Erland ke istana gelap." perintahnya berlalu pergi. Ia menghentikan langkah kakinya dan bertumpu do tiang istana. Seketika ia memukul tiang itu


Hatinya kesal, tapi bukan kesal karna pengangkatan Permaisuri. Justru kesal dengan perkataan Duke Erland. Dimana perkataan yang ia maksud tentang takhta. Dari dalam lubuk hatinya menolak Ratu Anastasya turun dari takhta.


Sedangkan disisi lain.


Seorang gadis cantik jelita dengan rambut di biarkan terurai dan mahkota dengan lapisan mutiara dia tas kepalanya. Ia duduk diselangi sanda gurau bersama Enzo dan Enzi serta Duke Rachid.


Bahkan dirinya akan cepat berpisah dengan Enzo dan Enzi setelah selesai pernikahan Kaisar Alex.


"Ratu, Ratu .." panggil pelayan Mery seraya lari tergesa-gesa. Tadinya ia ingin membawa buah seperti Anastasya minta. Namun di urungkan ketika mendengarkan perkataan para pelayan.


hosh hosh hosh


"Ada apa Mery?" tanya Anastasya seraya mengkerutkan dahinya.


"Em, itu, itu Duke Erland," pelayan Mery menunjuk ke arah istana.


"Ada apa dengan Ayah?" tanya Anastasya memegang kedua lengan Mery. Ia menanti jawaban Mery.


"Yang Mulia Kaisar menghukum Duke Erland," Mery mengucapkannya terbata-bata.


Semua yang mendengarkannya sangat terkejut. Dada Anastasya naik turun, ia langsung berlari menuju ruangan kerja Kaisar Alex.


brak


Anastasya membuka pintu ruangan kerja Kaisar dengan Kasar, ia menatap tajam orang duduk dan sedang fokus dengan berkas istana itu.


"Yang Mulia," teriak Anastasya.


"Apa maksud Yang Mulia menghukum Ayah hamba?" teriak Anastasya disertai tatapan tajam.


Kaisar Alex hanya fokus pada kertas di depannya tanpa melihat ke arah Anastasya.


"Dia sudah berani menentang ku," jawabnya datar.


"Katakan kesalahan apa yang Ayah perbuat,"


jleb


Kaisar Alex menghentikan pemeriksaannya. Ia bingung harus menjawab apa? seharusnya dari dulu ia sudah lakukan. Namun sekarang hatinya merasa berat dan pikirannya kacau.