Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 64_Anastasya vs Kaisar Emerald


Anastasya di seret masuk ke sebuah ruangan, terlihat di ruangan itu buku berjejer rapi di raknya. Sebuah lukisan dirinya yang memegang sebuah pedang, tampan dan gagah.


Anastasya melirik ke sekeliling, bersih dan wangi.


"Kenapa apa Permaisuri menyukai ruangan kerja ku?"ucap Kaisar Emerald seraya mengibaskan tangan kanannya sebagai tanda melepaskan cekalan kedua satria yang sedari tadi memegang lengannya.


"Katakan kenapa kau ingin aku melahirkan anak untuk mu?" tanya Anastasya menyunggingkan bibirnya, ia merasa jengah melihat Kaisar Emerald yang tersenyum lembut.


"Cih, senyuman mu tak mampu membuat ku tergoda," ucap Anastasya memutar bola matanya.


"Jaga ucapan mu Permaisuri," ucap salah satu kesatria Alban di samping kanannya.


"Kau ini hanyalah Permaisuri musuh kami," timpal Arnod.


Kedua kesatria itu memang saudara kembar. Bahkan Kaisar Emerald sudah berteman dengan mereka mulai dari Akademik. Kedua Kesatria itu pun tau seluk beluk kehidupan Kaisar Emerald.


Anastasya hanya mencorek telinganya, ia sungguh kesal. Tadi setelah memastikan Elisha di hukum, hidupnya akan baik. Tapi sekarang justru ia harus terlibat lagi dengan kehidupan Elisha.


"Aku suka keberanian mu Permaisuri," ucapnya seraya melangkah kan kakinya menuju ke arah Anastasya.


Anastasya pun mengkerutkan dahinya, ia melirik ke arah Arnod ternyata dia membawa sebuah pedang..


Sreng


Anastasya mengambil pedang itu, lalu menyodorkan ke arah Kaisar Emerald. Kini ujung pedang itu tepat berada di bawah dagu Kaisar Emerald.


Segera Arban mengambil pedangnya, ia mengarahkan ke leher Anastasya, "Beraninya Permaisuri mengacungkan pedang pada Yang Mulia," ucap Arban menatap tajam.


Kaisar Emerald menjulurkan tangannya ke arah Arnod sebagai tanda ia meminta pedang di sarungnya itu.


Arnod mengambil pedang itu, lalu memberikannya pada Kaisar Emerald.


Kedua Kesatria itu memundurkan langkah mereka hingga jarak beberapa meter.


"Aku terima tantangan mu Permaisuri, aku yakin kau tidak akan berani melawan ku."


"Cih, aku tidak takut dengan mu. Baiklah kita akan berperang dengan fisik jangan sekalipun kau mengeluarkan kekuatan mu," ucap Anastasya dengan tegas, ia segera merobek gaunnya hingga paha, baju lengannya ia tarik ke atas.


Kaisar Emerald melihat jenjang kaki mulus Anastasya menelan ludahnya. Jiwa lelakinya seketika bangun dari tidurnya. Awalnya ia hanya ingin bermain-main dengan wanita itu.


trang


Dentingan pedang mulai beradu, Anastasya tidak tinggal diam ia menekan pedang Kaisar Emerald dengan kuat.


Memiliki kekuatan yang sama, membuat mereka saling memundurkan kaki ke belakang. Mereka saling menatap tajam dan berjalan melingkar. Kini kedua pedang itu saling beradu kembali, Anastasya hendak menendang perut Kaisar Emerald, dengan sigap Kaisar Emerald menyampingkan tubuhnya.


Kaisar Emerald melayangkan pedangnya ke tubuh Anastasya, seger Anastasya melengkungkan tubuhnya ke belakang, sementara kaki kanannya ia layangkan ke arah tangan Kaisar Emerald yang memegang pedang. Tanpa sadar pedang itu terpental jauh dan menancap ke sebuah lukisan yaitu lukisan Kaisar Emerald.


Kaisar Emerald tertegun, tanpa sadar Pedang Anastasya mendekat ke lehernya dan sedikit Anastasya memberikan goresan di leher Kaisar Emerald.


"Anda terlalu meremehkan perempuan Yang Mulia," ucap Anastasya tersenyum sinis.


Anastasya menunjukan jari telunjuknya dan jari tengahnya ke kedua matanya lalu ke mata Kaisar Emerald.


Kaisar Emerald dan kedua kesatria hanya bingung melihat sikap Anastasya.


Masih dalam keadaan mematung, suasana ruangan itu begitu hening. Kaisar Emerald menatap lekat Anastasya begitupun kedua kesatria yang tidak pernah menyangka di kekaisaran ini ada wanita yang mampu bermain pedang. Tanpa sadar pedang Anastasya terpental jauh. Anastasya tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


"Yang Mulia," teriak seorang laki-laki paruh baya mendekati mereka. Semua orang menoleh, "Apa Yang Mulia tidak terluka?" tanya pria paruh baya itu.


"A, aku tidak apa-apa," ucap Kaisar Emerald menetralkan kegugupannya.


Aku salah meremehkan wanita ini batinnya


"Beraninya kau menghunuskan pedang pada Kaisar Emerald." bentaknya tak terima jika junjungannya terluka.


"Heh, dialah yang tidak sopan meremehkan diriku," ucapnya tak kalah sengit.


"Sudah," timpal Kaisar Emerald datar. Tanpa basa basi ia menggendong Anastasya ke bahunya. Anastasya ingin meronta namun tubuhnya sama sekali tidak bisa di gerakkan.


"Heh turunkan aku, dasar Kaisar cabul." teriak Anastasya.


"Aku tidak ingin melihat bokong mu, bokong mu sangat jelek. Aku rasa bokong mu memiliki penyakit panu." teriak Anastasya dengan lantang.


Kaisar Emerald tidak memperdulikan cacian Anastasya, ia segera membawa Anastasya ke kamarnya.


#maaf kak salah ngetik nama, tadi ke ingat enzo ma enzi.🤭