
Anastasya mengedarkan pandangannya, ia mencari sekeliling kamar itu, tapi tidak mendapati Putri Viola. Pandangan Anastasya jatuh ketika melihat kelambu yang di bawa angin malam, ia yakin Putri Viola berada di balkom.
"Sayang."
Putri Viola menoleh dan tersenyum, ia memeluk sang Ibu yang selalu menenangkan hatinya saat gelisah dan sedih.
Anastasya berjongkok, "Apa Putri Viola menangis."
Putri Viola menggeleng, ia sudah berjanji tidak akan menangis apapun yang terjadi.
"Tidak, Ibunda. Aku hanya merasa bersalah pada Pangeran." tuturnya dengan wajah cemberut.
Anastasya terkekeh, ternyata karna hal itu Putrinya meninggalkan acara makan malam, "Justru Ibunda tadi melihat Pangeran merasa bersalah,"
"Emm, Ibunda ada sesuatu yang ingin Viola tanyakan,"
"Apa itu sayang?" Anastasya mengelus kepala Viola dengan lembut.
Walaupun sedikit ragu, ia harus bertanya agar hatinya lega. "Apa Ibunda dan Ayahanda bermaksud menjodohkan Ku dengan Pangeran?"
Anastasya terkejut, ia tidak pernah mengatakan hal itu. Ia begitu penasaran siapa orang yang mengatakan sesuatu yang belum ada kepastiannya, bahkan ia takut Putrinya merasa sakit hati karna secara tidak langsung Pangeran Abigail sudah di rencanakan perjodohannya dengan gadis lain.
"Siapa yang mengatakan hal itu?" Anastasya menggenggam kedua tangan Putri Viola, ia menatap lekat Putrinya itu.
"Emma, dia bilang Ibunda Ayahanda ingin menjodohkan Ku dengannya." seru Pangeran Abigail.
Ternyata gadis itu mendengarkan pembicaraan ku, tapi jika begitu.. Bukankah Pangeran juga ikut mendengarkannya.
"Lalu, apa Putri senang?" Anastasya kembali bertanya, ia ingin tau respon Putrinya.
"Entahlah Ibunda, Aku tidak terlalu berharap. Karna di samping Pangeran berdiri se sosok gadis yang selalu menemaninya. Kita hanya berteman, tidak lebih Ibunda."
Anastasya paham maksud perkataan Putrinya, ada rasa senang di hatinya ketika Putrinya tidak mengatakan menolak rencananya itu, rupanya Putrinya itu hanya takut tersakiti.
"Baiklah, Putri Viola beristirahat. O, iya Adik mu, tidak akan tidur sekamar dengan mu. Karna Permaisuri Emerald sudah menyiapkan kamar lainnya, di samping kiri kamar Putri."
Putri Viola mengangguk mengerti, Anastasya pun mengecup singkat keningnya, lalu meninggalkan Putri Viola yang masih menatapnya.
Saat Anastasya membuka pintu kamar Putri Viola, ia melihat ketiga orang yang menunggunya. Ketiga orang itu melihatnya dengan tatapan khawatir, takut dan bersalah.
"Bagaimana keadaan Putri Viola Permaisuri?" tanya Kaisar Emerald.
"Be, benar Permaisuri, bagaimana keadaannya dan maaf atas masalah tadi." timpal Permaisuri Flavia.
"Dia sedang istirahat, emm bolehkah Aku berbicara dengan Pangeran,"
"Silahkan Permaisuri," serempak Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia.
Permaisuri Anastasya menuntun Pangeran Abigail ke kamarnya, ia harus berbicara empat mata tidak ada yang boleh mengganggu.
"Apa Yang Mulia sudah ada di dalam?" tanya Anastasya ke kedua pengawalnya.
"Yang Mulia sedang menunggu kedatangan Permaisuri,"
"Oh, baiklah. Siapa pun yang datang ingin menemui Ku, bilang saja Aku tidak ingin di ganggu." perintahnya dengan tegas.
Semakin takut pula Pangeran Abigail mendengarkan suara Anastasya yang begitu tegas. Tuhan lindungi Aku, Aku tidak ingin berpisah dengan Putri Viola.
Anastasya masuk bersama Pangeran Abigail, ia melihat Kaisar Alex duduk di sofa, melipatkan kedua tangannya di dada dengan kaki yang menyilang. Wajahnya di liputi kemarahan. Sedangkan Pangeran Abigail merasakan bulu kuduknya merinding.
"Sudah datang Pangeran." Perkataannya yang dingin dan tajam membuat Pangeran Abigail langsung menunduk hormat.
"Maafkan, hamba Yang Mulia. Maafkan semua kesalahan hamba, hamba mohon jangan larang hamba untuk berteman dengan Putri Viola." tuturnya dengan gagap.
"Bagus kau tau permasalahannya Pangeran,"
"Maafkan saya,"
"Pangeran Aku berbicara dengan mu, karna bagi kami permasalah tadi adalah hal yang penting. Seumur hidup kami tidak pernah membentak kedua Putri kami. Jika bukan karna kami menghargai kalian, kami pastikan teman masa kecil mu itu tidak akan bernafas. Kami menumpahkan kasih sayang kami untuk kedua Putri kami, apalagi Putri Viola. Putri
Mahkota dari Kekaisaran Matahari."
Anastasya menghembuskan nafasnya.
"Putri Viola tau jika aku bermaksud menjodohkan mu dengannya," Anastasya menjeda, ia melihat keringat dingin mulai keluar dari dahinya. "Apa yang dia katakan, dia tidak ingin merusak hubungan mu dengan Emma, teman masa kecil mu. Dia tidak menolak mu, hatinya yang penuh kelembutan tidak pernah membedakan orang. Yang kami khawatirkan adalah teman masa kecil mu, dia menaruh kebencian terhadap Putri Ku, Viola."y
"Maaf Permaisuri, semua itu tidak mungkin."
"Tapi Emma lah yang melarang Putri Viola berteman dengan mu. Pangeran kamu tidak tau jika Emma menyukai mu kan. Mungkin Emma sekarang tidak mengatakannya, tapi lihatlah nanti dia akan mengatakannya. Aku hanya ingin berpesan pada mu, apa yang kamu lihat dan dengar belum tentu sebuah kebenaran, maka dari itu ikuti kata hati mu."
"Kamu sekarang boleh mempercayainya, tapi cinta bisa menutup hati, tidak bisa membedakan mana yang salah dan benar."
"Hamba akan selalu mengingat perkataan Permaisuri, tapi bolehkah hamba berteman dengan Putri Viola."
Anastasya tersenyum, "Aku tidak akan melarang mu, mungkin suatu saat nanti kalian berjodoh. Mungkin aku bisa menikahkan kalian." goda Anastasya membuat wajah Pangeran Abigail memerah.
"Terimakasih Permaisuri," jawabnya tersenyum. Hatinya bahagia, ternyata Putri Viola tidak menolaknya, ia salah sangka. Maka dari itu dia akan memperjuangkannya.
"Baiklah, perkataan ku tadi sudah selesai. Pangeran boleh beristirahat." ucap Anastasya.
Pangeran Abigail mengangguk, Anastasya pun mengantarkannya ke depan kamarnya, ia melihat Mira yang sudah menunggu kedatangan Pangeran Abigail.