
Derap langkah kuda berjalan tergesa gesa berhenti tepat di depan gerbang asrama Akademik. Seorang laki-laki berwajah tegas dan mengeluarkan aura dingin turun dari kudanya dan melihat ke arah penjaga.
"Aku ingin bertemu dengan Putri Maya." ucapnya datar.
"Ba, baik Duke." ucap penjaga itu ketakutan merasakan aura Duke Rachid. Ia seperti melihat seorang monster yang siap menerkamnya kapan saja. Penjaga itu berlari kecil menuju ke arah seorang pelayan yang bertugas menyampaikan apa pun pada murid.
Pelayan itu pun bergegas ke kamar Putri Maya. "Ada apa?" tanya seorang wanita teman Putri Maya.
"Saya ingin bertemu dengan Putri Maya, karna Duke Rachid sedang menunggu di luar." tuturnya.
Wanita itu menuju ke arah Putri Maya yang sedang asik membaca bukunya. Putri Maya yang mendengarkannya, ingin menolak untuk bertemu dengan Duke Rachid. Sudah pasti Duke akan membahas masalah Hilda yang menemuinya. Tapi demi meluruskan masalah ini, siap atau tidak, ia harus bertemu dengan Duke Rachid.
Putri Maya turun disertai kegugupan, berulang kali ia menarik napas lalu menghembuskannya. Di setiap langkah kakinya, ia hanya mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup.
krek
Pintu megah itu terbuka, seorang laki-laki menyilangkan tangannya ke pinggang belakangnya dan menghadap ke arah luar jendela. Putri Maya masuk, "Ada apa?" tanya Putri Maya datar.
Laki-laki itu menoleh, ia menatap dingin ke arah Putri Maya. Tapi sebisa mungkin ia tidak akan meledakkan kemarahannya.
Putri Maya memalingkan wajahnya, "Jadi Duke datang kesini hanya membahasnya saja." Putri Maya menatap tajam ke arah Duke Rachid.
"Apa salahnya? katanya kamu memarahinya. Dia menemui mu hanya ingin membantu memperbaiki hubungan kita." ujar Duke Rachid dengan tangan mengepal, ia mengingat Putri Maya se enakanya saja tertawa bersama laki-laki lain. Bukan masalah Hilda yang membuatnya marah, tapi seorang laki-laki yang dekat dengan Maya. "Dan kamu malah seenaknya tertawa bersama dengan orang lain."
"Memangnya kenapa jika aku tertawa bersama orang lain? bukankah Duke Rachid juga begitu."
"Maya."
Sedangkan Putri Maya mengalihkan pandangannya ke arah kedua tangan Duke Rachid yang mulai terlihat urat-uratnya. Putri Maya juga tidak bisa menahan amarahnya, sudah ia duga. Duke Rachid mendatanginya hanya ingin memarahinya. Ia mendonggakkan wajahnya menatap Duke Rachid dengan amarah yang mulai siap meledak.
"Apa Duke datang kesini? hanya untuk membahasnya. Duke ingin memarahi ku kah." tanya Putri Maya tersenyum sinis. "Jika pun begitu silahkan keluarkan amarah Duke." bentaknya.
Duke Rachid diam, ia memejamkan matanya. "Aku tidak bisa memarahi mu tapi aku bisa menasehati mu. Jangan seperti ini Maya, kenapa kamu berubah. Aku tau ini salahku yang mengecewakan mu. Tapi setidaknya jangan menyalahkan Hilda."
Putri Maya menggertakkan giginya, telinganya panas, begitupun hatinya panas. Sekujur tubuhnya terasa panas. Ia mengepalkan tangannya.
"Apa Duke datang kesini hanya ingin mengatakan 'Terimalah dia menjadi istri kedua ku'." Putri Maya tertawa. "Jika pun aku menikah dengan mu, aku tidak akan mengizinkannya." Putri Maya menunduk. "Dan sekarang aku Putri Maya De Lexius membatalkan pertunangan ku." teriak Putri Maya menahan amarah dan sesak. Putri Maya meninggalkan Duke Rachid yang diam membeku, sampai di ambang pintu, Putri Maya menghentikan langkah kakinya. "Dan selamat menempuh hidup baru Duke." ucap Putri Maya seraya mengeluarkan aura kemarahannya.